Sabtu, 22 September 2012

Perlukah Indonesia Membeli Heli Tempur Apache dari AS..?


Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur Apache, yang tidak lagi mereka pakai. Langkah AS ini terkait dengan kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Aphace AH-64D seri Longbow / Blok III

Menurut kantor berita Reuters, rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa di Washington DC pada Kamis siang waktu setempat (Jumat pagi WIB). Kedua menteri bertemu untuk pertemuan kali ketiga Komisi Bersama AS-Indonesia, yang membahas perkembangan kemitraan komprehensif bilateral.

Kepada wartawan, Menlu Clinton mengatakan bahwa Kongres telah diberitahu perihal rencana pemerintahnya menjual helikopter tempur Apache ke Indonesia. "Persetujuan ini akan memperkuat kemitraan komprehensif dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," kata Clinton.


TU-16 Pesawat Super Bomber TNI-AU Tempo Dulu


Bila predikat Angkatan Udara terkuat di Asia Tenggara kini di pegang oleh Singapura, maka di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Era Tahun 60-an AURI / TNI AU memiliki 24 Pesawat Bomber TU-16
Era Tahun 60-an AURI / TNI AU memiliki 24 Pesawat Bomber TU-16
(all images : http://irwan.net)
 
Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.


Sisa - Sisa Kejayaan KRI Irian 201


Ada rasa bangga sekaligus sedih bila mendengar tentang KRI Irian, kapal penjelajah kelas Sverdlov buatan Uni Soviet yang pernah membuat Angkatan Laut RI begitu berjaya di masa lalu. Bangga karena hanya Indonesia, satu-satunya negara di Asia Tenggara yang pernah mencicipi punya kapal penjelajah. Bahkan berkat kedigdayaan KRI Irian, Belanda jadi tunduk untuk menyerahkan Irian Barat.

Sisa - Sisa Kejayaan KRI Irian 201


Tapi sedihnya, seolah tak ada wujud KRI Irian yang bisa dilihat oleh generasi muda saat ini. Karena ukuran yang super besar (panjang 210 meter dan berbobot kosong 13.600 ton), opsi untuk menjadikan museum apung terpinggirkan karena biaya yang besar. Akhir masa pengabdiannya pun terus diselimuti misteri hingga kini. Publik di Indonesia kini hanya bisa melihat jejak sejarah KRI Irian lewat foto-foto hitam putih.  Kalau pun ada wujud penjelajah kelas Sverdlov dalam museum apung, hanya bisa dinikmati dengan biaya mahal, karena adanya di Rusia.



Dua Howitzer Caesar 155 mm Tiba di Indonesia


Dua howitzer tipe truck mounted berkaliber 155mm tiba di bandara Halim Perdana Kusumah,  jakarta diangkut dengan pesawat Rusia tipe Il-76. Howitzer Caesar buatan Nexter Prancis ini digolongkan sebagai Self Propelled Howitzer/howitzer yang dapat bergerak sendiri dengan bentuk yang lebih inovatif dibandingkan howitzer jenis tersebut yang sebelumnya menggunakan roda rantai (tracked).

Howitzer Caesar 155 mm
Howitzer Caesar 155mm buatan Nexter Prancis (all photos : ARC)


Sejalan dengan percepatan modernisasi TNI, maka Angkatan Darat direncanakan mendapatkan  dua batalion howitzer Caesar ini. Satu batalion Artileri Medan terdiri dari 3 baterai, dimana 1 baterai terdiri dari 6 meriam, dengan demikian jumlah howitzer Caesar untuk TNI AD akan mencapai jumlah 36 unit.

Saat ini TNI AD memiliki 2 batalion howitzer gerak sendiri, masing-masing adalah Yon Armed 7/105 GS di Cikiwul Bekasi (Kodam Jaya), dan Yon Armed 5/105GS Cimahi Jawa Barat (Kodam Siliwangi). Howitzer yang digunakan adalah AMX Mk-61 eks Belanda berjumlah 50 unit yang diperoleh pada akhir 1970-an hingga tahun 1982. Howitzer beroda rantai dengan berat 13,7 ton ini memiliki meriam kaliber 105mm.


Pangdam VII: Terorisme Masalah Krusial yang Mesti Disikapi


Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Drs Muhammad Nizam mengemukakan, pergerakan terorisme menjadi masalah krusial yang mesti disikapi secara bijak karena menjadi ancaman serius yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.



"Cara efektif yang harus dilakukan adalah melakukan deteksi dini untuk mempersempit pergerakan teroris yang akhir-akhir ini kembali marak terjadi di kota-kota besar di Indonesia," katanya di Mamuju, Jum`at.

Menurutnya, pergerakan teroriseme akhir-akhir ini menjadi topik utama untuk menjadi perhatian seluruh komponem anak bangsa.

"Terorisme bukan hanya musuh bangsa Indonesia tetapi sudah menjadi musuh seluruh bangsa di dunia ini," kata dia.

Terorisme, kata dia, telah memiliki jaringan internasional yang terorganisir dengan melakukan perencanaan yang telah tersusun begitu rapi dalam melakukan teror di mana-mana sehingga patut diwaspadai.


Korem 142/Taroda Tarogau Parepare dipindahkan ke Mamuju


Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Muhammad Nizam, mengemukakan, kemungkinan besar Korem 142/Taroda Tarogau yang berkedudukan di kota Parepare, Sulawesi Selatan, akan dipindahkan ke Mamuju, ibukota Sulawesi Barat.

Panglima Komando Daerah Militer VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI M Nizam
Panglima Komando Daerah Militer VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI M Nizam. (FOTO ANTARA/Sahrul Tikupadang)
 
"Saat ini kami telah melakukan kajian terkait rencana pembangunan Markas Korem di Mamuju. Alternatif terburuk memindahkan Markas Korem 142/Taroada Tarogau di Parepare ke Mamuju," kata Nizam, dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Barat, di Mamuju.

Menurutnya, kajian ini dilakukan untuk menjawab permintaan Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Saleh, yang selama ini telah lama menyiapkan lahan untuk pembangunan Korem di Mamuju.


Jumat, 21 September 2012

Pesawat Hawk TNI AU Paksa Pesawat Asing Mendarat di Lanud Palembang


Lantaran melenceng dari jalur penerbangan seharusnya,sebuah pesawat asing kemarin dipaksa mendarat oleh TNI AU di Base Ops Lanud Palembang sekitar pukul 14.00 WIB.

Pesawat Hawk TNI AU
Pesawat Hawk TNI AU (img : scramble.nl)
 
Pesawat yang diketahui jenis Boeing 737 itu sebelumnya terpaksa di-intercept dua pesawat tempur jenis Hawk 100 dan Hawk 200 dari Squadron Pekanbaru untuk segera mendarat di Lanud Palembang setelah terpantau radar Kohanutas melenceng dari jalur penerbangan seharusnya. Setelah melalui negosiasi yang alot, pesawat berbendera negeri antah berantah itu pun akhirnya berhasildigiringturun ke Lanud Palembang untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.

Sebelum akhirnya berhasil menemukan kesepakatan, pesawat berbendera asing tersebut tak urung mendapat penjagaan ketat puluhan aparat yang telah bersiaga di sekitar lokasi pendaratan. Kedatangan pesawat asing juga dikawal kendaraan pasukan TNI AU, tim Crash Car PKPPK PTAP2 Palembang, hingga tim imigrasi.Sejumlah personel gabungan langsung mengamankan daerah sekitar pesawat mendarat.


Misteri Keberadaan Kapal Selam Indonesia


Kalau dipikir-pikir,  ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia.  Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus menjaga wilayah laut  Indonesia yang demikian luas. Bayangkan saja, 2/3 dari wilayah Indonesia adalah lautan.

KRI Cakra 401
KRI Cakra 401 (img : jakartagreater.com)

Hal itu kontras dengan pengadaan alutsista untuk matra darat,  udara maupun permukaan laut.  Lihat saja, alutsista untuk matra permukaan laut  terus ditambah dengan: 4 Korvet Sigma, 3 Nakhoda Ragam Class, 1 PKR Sigma 10514, PKR Trimaran KRI Klewang, 4 Heavy Landing Platform Dock KRI Makassar Class,  KCR-40 dan kapal-kapal patroli lainnya, BMP-3, Ruda C-705 dan lain-lain.

Matra udara ada penambahan: 6 Sukhoi SU30MK2, 16 Super Tucano, 34 pesawat F-16 Block 32++, 9 C-295, 4 Hecules, , Bell 412, CN 235,  Rudal anti udara dan lain-lain.


Persiapan Menjelang Latihan Parsial Penembakan Torpedo


Menjelang mendekati pelaksanaan latihan parsial penembakan Torpedo (TPO) Sut kepala latihan, Komandan Satuan Tugas (Satgas) Latihan Parsial Penembakan TPO Sut Kepala Latihan Kolonel Laut (P) Syufenri, S.Sos yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim dengan didampingi Wakil Komandan Satgas Letkol Laut (P) Iwa Kartiwa, SH mengecek kesiapan unsur yang terlibat dalam kegiatan latihan tersebut, Kamis (20/9).



Unsur yang terlibat dalam latihan parsial penembakan torpedo sut kepala latihan tersebut, yaitu KRI Nanggala-402 dan KRI Ajak-653. Adapun sebagai unsur pendukung dalam kegiatan latihan itu ada tiga kapal perang (KRI) yang turut terlibat, yaitu masing-masing KRI Hiu-804, KRI Sura-802, dan KRI Soputan-923.


Indonesia Beli Delapan Helikopter Serbu Apache


Indonesia akan membeli delapan helikopter Apache dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut menjadi sebuah tanda bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan menyangkut peningkatan keamanan kawasan.

Indonesia Beli Delapan Helikopter Serbu Apache

Menurut laporan AFP, Kamis, pembelian itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington, Kamis (20/9).

Hillary mengatakan Pemerintah AS telah "menginformasikan kepada Kongres tentang potensi penjualan delapan helikopter AH-64D Apache Longbow kepada pemerintah Indonesia".

"Perjanjian ini akan memperkuat kemitraan menyeluruh kita dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," ujar Hillary.


Kamis, 20 September 2012

DFC UNIFIL Terkesan dengan Profesionalitas dan Keramahan Prajurit TNI di Lebanon


DEPUTY Force Commander (DFC) UNIFIL Brigjen Patrick Phela terkesan dengan profesionalitas dan keramahan yang telah ditunjukkan oleh prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Konga XXIII-F/UNIFIL (United Nations Interim In Lebanon), hal ini disampaikannya saat melaksanakan kunjungan ke AOR (Area of Responsibility) Indonesian Batallion (Indobatt), Lebanon Selatan, Rabu (19/09/2012).

majalahpotretindonesia.com

Menurutnya, performance baik yang telah ditunjukkan prajurit TNI/Indobatt dalam melaksanakan tugasnya di lapangan selama ini merupakan cerminan akan profesionalitas yang dimiliki, ia berharap kinerja yang sudah baik ini terus dipertahankan.

Sebelum melaksanakan kegiatan peninjauan ke pos-pos yang dimiliki Indobatt, Jenderal asal Irlandia ini terlebih dahulu diterima oleh Komandan Satgas Indobatt Letkol Inf Suharto Sudarsono didampingi para Komandan Kompi dan perwira staf jajaran Satgas di Markas Indobatt UN Posn 7-1, Adshit Al Qusayr.


PT. Dirgantara Indonesia Beli Mesin CNC Baru Untuk Pembuatan Pesawat


PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak masuk pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

"Kami kebanjiran pesanan, makanya permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna.


Quaser MV 18C (exapro.com)

Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasinya, sehingga selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, juga pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak delapan unit dan lima unit lainnya dalam proses kedatangan.


Industri Pertahanan Memang Harus Dekat TNI


Rencana pemerintah mengalihkan tanggung jawab pembinaan industri pertahanan dari Kementerian BUMN ke Kementerian Pertahanan dinilai positif. Dengan perubahan ini, maka industri pertahanan tidak dibebani kewajiban untuk menghasilkan profit dan dividen semata.

Industri Pertahanan Memang Harus Dekat TNI
Jajaran panser Anoa 6x6 di bengkel perakitan PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/11). Panser tersebut akan melengkapi 165 unit panser yang telah dibeli oleh pemerintah dan negara lain. TEMPO/Prima Mulia

 "Industri pertahanan harus dikembalikan pada bisnis intinya, dan tidak boleh dibebani lini produksi lain,"  kata Andi Widjajanto, pengamat pertahanan Universitas Indonesia, Rabu, 19 September 2012. Apalagi, katanya, pasar untuk industri macam ini amat spesifik.

Andi kemudian mencontohkan bisnis PT. Pindad yang terpaksa mengembangkan produksi mobil listrik sebagai upaya menambah profit. "Jadi untuk memastikan industri pertahanan ada di jalur yang benar, pelibatan TNI memang dibutuhkan," kata dia.


RUU Industri Pertahanan Akan Pangkas Peran Agen


Kementerian Pertahanan mengklaim jika disetujui dan disahkan menjadi undang-undang, maka RUU Industri Pertahanan akan memangkas habis agen dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) di Indonesia. "Salah satu tujuannya memang untuk menghalangi agen yang merugikan negara," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin saat dihubungi oleh Tempo, Rabu, 19 September 2012.

Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. ANTARA/Basrul Haq



Airbus Military Serahkan Dua C-295 Pesanan Indonesia


20 September 2012, Seville: Airbus Military menyerahkan dua unit pesawat angkut militer C-295 ke Kementerian Pertahanan Indonesia, Selasa (19/9) di pabrik pesawat Airbus Military di San Pablo, Seville, Spanyol. Upacara penyerahan pesawat dihadiri Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoedin dan pimpinan Airbus Military Rafael Tentor.

images : airbusmilitary.com

Indonesia memesan sembilan unit C-295 pada Februari 2012, kontrak ditangani Kemhan dan Airbus Military serta PT. Dirgantara Indonesia di Singapore Airshow.



Helikopter Militer Jadi Andalan PT DI


Selain pesawat sayap tetap versi patroli maritim, minat terhadap helikopter produksi PT Dirgantara Indonesia juga terus menunjukan peningkatan. Kebanyakan heli tersebut ditujukan untuk kepentingan militer.

Helikopter Super Puma Keluaran Terbaru Tipe EC 725
Helikopter Super Puma Keluaran Terbaru Tipe EC 725 (http://vholenxcrome.blogspot.com)
 
Pemesannya memang didominasi Kementerian Pertahanan guna memperkuat alutsista TNI. Meski demikian, secara kuantitas, heli yang dipesan relatif signifikan termasuk bagi pendapatan perusahaan.

Ditambah pesanan terhadap pesawat sayap tetap terutama CN-235 MPA dan anti kapal selam, nilai kontrak yang diraih PT DI mencapai Rp 8,2 triliun. Ini di luar pencapaian tahun 2011 yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun.


Rabu, 19 September 2012

PT DI Rampungkan Modifikasi CN 235 Turki Senilai Rp 151 Miliar


Tingkat kepercayaan dunia internasional kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) cukup tinggi. Itu terlihat pada jalinan kontrak antara lembaga BUMN yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Satu di antaranya, adalah Turki.

 

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, mengemukakan, sejak 6 tahun silam, pihaknya bersepakat dengan Turki untuk mengerjakan 10 unit CN 235. Pemesanan itu merupakan modifikasi. "Turki memfungsikan CN 235 tersebut menjadi pesawat Maritim Patrol," ujar Sonny di PT DI, Selasa (18/9).
 


Laksdya TNI Daryatmo Buka Latihan Operasi Pertahanan Udara Nasional 2012


KEPALA Staf Umum (Kasum) TNI, Laksdya TNI Daryatmo, resmi membuka Latihan Pertahanan Udara Nasional (Hanudnas) “Tutuka” XXXVI Tahun 2012.

merdeka.com

Kasum TNI mewakili Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono saat membuka latihan. "Latihan Hanudnas bertujuan untuk menguji rencana operasi dan mengukur kesiapsiagaan operasional Kohanudnas dalam suatu pertahanan udara dalam rangka mewujudkan sistem pengamatan, penangkalan dan penindakan yang handal terhadap berbagai kontijensi yang perlu diantisipasi dan direspons di wilayah udara nasional Indonesia,” kata Panglima TNI dalam amanat tertulis dibacakan Kasum TNI, di Pusdalops Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Selasa (18/9).

Sasaran latihan adalah tersusunnya dokumentasi strategis pada tataran operasional dari Kohanudnas, yang merupakan bagian dari rencana strategis dan rencana yudha TNI serta tercapainya standar kemampuan personel, materiil dan uji doktrin.


Peserta Lemhanas Tinjau Industri Militer India


Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVIII Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI mengunjungi India antara lain untuk melihat industri strategis India dan berdiskusi dengan berbagai pihak di negara berpenduduk terbesar kedua di dunia tersebut.

Rudal Brahmos India
Rudal Brahmos India (en.trend.az)
 
Pada Senin peserta PPSA mengunjungi industri strategis di New Delhi, untuk melihat kemampuan negara itu dalam memenuhi alat utama sistem senjata (alutsista), seperti misil penjelajah supersonik.

Kepala Pengawas Badan Penelitian dan Pengembangan Riset Pertahanan dan Pengembangan Organisasi Pertahanan, Kementerian Pertahanan India, Dr. A. Sivathanu Pillai kepada para peserta PPSA XVIII mengatakan India telah mampu memenuhi alutsista berteknologi tinggi untuk angkatan bersenjata mereka.


15 Personel Kopasus, Ikuti Hell Week di Pendidikan Pasukan Katak TNI AL


Sebanyak 15 personil Kopasus TNI AD yang tengah melaksanakan Pendidikan Komando Pasukan Katak  Komando Pasukan Khusus (Dikkopaska Kopasus) mengikuti orientasi hell week (minggu neraka), di Sekolah Pasukan Katak (Sepaska) Pusat Pendidikan Khusus (Pusdiksus) Kodikopsla, Kobangdikal, Selasa, (18/9).

kobangdikal.mil.id
Makan nasi Komando merupakan menu favorit prajurit Kobangdikal sebelum melaksanakan program pendidikan tanpa terkecuali Dikpaska Kopasus angkatan ke-12 yang tengah menempuh pendidikan di Sepaska Pusdiksus Kodikopsla Kobangdikal


Hell week yang didominasi aktivitas fisik sebagai tolok ukur dan motivasi terhadap mental dan fisik siswa selama menempuh pendidikan komando tersebut, dibuka Komandan  Pusat Pendidikan Khusus Kolonel Laut (P) Zaenal Akbar, S.Sos di lapangan Pusdiksus Kesatrian Kodikopsla, Ujung, Surabaya.


Pemerintah Jerman Dukung Pembelian Alutsista oleh Indonesia


Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, mengadakan kunjungan kerja ke Jerman, Perancis dan Spanyol  mulai tanggal 17 sampai dengan 24 September 2012. Dalam kunjungan kerja Wamenhan sebagai Ketua High Level Committee (HLC) Kemhan ini didampingi Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen TNI Joko Sriwidodo dan Aslog Kasau Marsda TNI JFP Sitompul. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaksanakan negosiasi dalam proses pembelian atau pengadaan alutsista TNI sesuai dengan Rencana Strategi 2010 -2014.

Leopard 2 Evolution with AMAP-ADS fitted
Leopard 2 Evolution Dengan AMAP-ADS fitted (http://defenceforumindia.com)

Mengenai kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan tim HLC ke Jerman, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan dukungannya kepada Indonesia dalam pembelian alutsista Jerman. Pernyataan tersebut dimuat di  beberapa media Jerman menanggapi kunjungan Wamenhan bersama tim HLC ke Jerman. Kanselir memberikan tiga alasan dukungan terhadap Indonesia dalam pembelian alutsista Jerman tersebut yaitu ; Indonesia bukan negara yang memiliki banyak hutang, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, dan Indonesia bukan merupakan negara pelanggar HAM. Kanselir Jerman Angela Merkel juga menegaskan bahwa tidak ada negara lain yang mendikte Jerman dalam penjualan alutsistanya.


Selasa, 18 September 2012

Pergeseran Geopolitik AS Menuju Asia Pasifik




Oleh: M Arief pranoto*
Antara Gulliver dan "Kekaisaran Militer"

Beberapa dokumen Global Future Institute (GFI) Jakarta mengungkapkan bahwa saat ini tengah berlangsung pergeseran situasi global (geopolitical shift) dari kawasan Heartland (Timur Tengah/Asia Tengah) menuju Laut Cina Selatan. Adapun indikator dan garis besar perpindahan geopolitik dapat dicermati dari data-data sebagai berikut:

1) Menurut Bo Yaozhi, peneliti dari Universitas Negeri Singapura, AS ingin mengalihkan titik berat militernya ke kawasan Asia Pasifik, menempatkan kekuatan militer di kawasan tersebut dan menebar jaringan yang lebih besar;

2) Dalam kunjungan Obama ke Australia terkait penempatan marinir di Darwin, ia berkata bahwa prioritas utama pemerintahan AS adalah Asia Pasifik, mengingat kawasan ini menentukan masa depan di abad XXI. Menteri Pertahanan (Menhan), Leon Panetta pun menebalkan dalam pertemuan puncak Keamanan Asia diselenggarakan International Institute of Strategic Studies di Singapura (Sabtu, 2/6), bahwa AS akan menempatkan 60% armada di Asia Pasifik. Hingga tahun 2020 nanti terus menambah armada dari pembagian yang semula 50-50 antara Pasifik dan Atlantik, akan menjadi 60-40 bagi kedua samudera;


TNI Harus Terus Waspadai Gerakan Terorisme


Panglima TNI: waspadai terus gerakan terorisme

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono meminta seluruh komponen masyarakat dan jajaran TNI/Polri untuk selalu mewaspadai terus gerakan terorisme.


Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (ANTARA)
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (ANTARA)

"Gerakan mereka seperti pencuri di malam hari, sulit diprediksi, namun tidak akan muncul bila kita siap," katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Komandan Kobangdikal Laksamana TNI Djoko Teguh Wahojo di Surabaya, Senin.

Terkait aksi terorisme dan antisipasi konflik komunal, ia mengharapkan satuan teritorial agar menghidupkan kembali "Lima Kemampuan Teritorial" yang di dalamnya termasuk intelijen teritorial.

"Dengan demikian, peristiwa di Sampang tidak menular ke tempat lain. Apalagi, para teroris memiliki sasaran yang sangat variatif, mulai dari institusi, ruang publik orang asing, pusat perbelanjaan, tempat peribadatan, bahkan belakangan aparat keamanan, khususnya kepolisian," katanya.


Semester Pertama 2014 Kemhan Beli 45 Jenis Alutsista TNI


Kementerian Pertahanan (Kemhan) menargetkan mampu mengadakan 45 jenis alat utama sistem senjata (alutsista) pada semester pertama 2014 untuk memperkuat pertahanan Indonesia. Pembiayaan pembelian alutsista itu terdiri dari dana APBN, pinjaman dalam negeri, dan pinjaman luar negeri. "Alutsista itu untuk Mabes TNI, TNI AD, TNI AU, dan TNI AL," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pada acara serah terima empat pesawat tempur Super Tucano dari Perusahaan Embraer, Brasil, kepada Kemhan, di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin (17/9).

Antara / Ari Bowo Sucipto

Untuk pengadaan alutsista yang menggunakan pinjaman luar negeri, wajib ada alih teknologi dan offset. Khusus untuk TNI AU, Kemhan menetapkan 14 jenis alutsista yang terdiri dari lima jenis pesawat tempur, tiga jenis pesawat angkut, dua jenis helikopter, dua jenis pesawat latih, serta beberapa jenis pesawat tanpa awak dan alutsista udara lain di luar radar.

Sebanyak 14 jenis alutsista itu merupakan 30 persen dari kekuatan pokok minimum yang ditargetkan. "Namun, saya yakin pada 2014 nanti target alutsista untuk TNI AU bisa mencapai 40 persen," kata Menhan. Optimisme itu mencuat karena hadirnya 24 pesawat tempur F-16 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat (AS).


Kapal Cepat Rudal Indonesia harus Diperbanyak


Indonesia membutuhkan banyak kapal cepat rudal (KCR) untuk mengimbangi wilayah laut yang begitu luas dan daratan yang tersebar. Keberadaan KCR dinilai mampu mempermudah TNI maupun para pengelola keamanan di laut untuk mengamankan wilayah maritim Indonesia. "Kita butuh banyak sekali kapal-kapal cepat seperti KRI Klewang," kata Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, di Jakarta, Minggu (16/9).
Kapal Cepat Rudal Siluman - KRI Klewang 625
Kapal Cepat Rudal Siluman - KRI Klewang 625

KRI Klewang, tambah dia, merupakan KCR buatan asli Indonesia yang memiliki bentuk unik. Kapal ini juga banyak dipuji sebagai kapal siluman yang memiliki kecepatan tinggi dan mampu menembus ombak besar karena memiliki tiga lambung. Tak heran jika biaya pembuatan satu pesawat ini mencapai 114 miliar rupiah.

Menurut dia, produk buatan PT Lundin Industry Invest ini juga merupakan kapal yang berpeluru kendali dan berguna untuk menjaga perbatasan dan potensi laut di Indonesia. Saat ini TNI baru membeli satu KRI Klewang untuk ditempatkan di Armada RI Kawasan Timur. Meski demikian, Soeparno menuturkan, pengadaan kapal KCR akan terus dilakukan sehingga jumlahnya lebih banyak lagi. Selain KRI Klewang, TNI AL juga mendapat tambahan beberapa unit KCR, yakni KRI Celurit dan KRI Kujang. Total KCR yang saat ini dimiliki TNI AL tak lebih dari 10 unit yang masing-masing berukuran 40 meter.


Embraer Tawarkan Pesawat KC-390 Untuk Transportasi Berat TNI


Setelah pesanan pasti empat dari delapan pesawat tempur kontra penyusup EMB-314 Super Tucano diserahkan kepada TNI AU, Embraer Brazil berniat menawarkan pesawat transport berat.

Embraer C-390, satu pesawat angkut berat militer yang dijagokan pabrikan pesawat terbang Brazil. Bobot maksimal kargonya 20 ton yang di atas C-130 Hercules dan di bawah A-400M Atlas buatan Airbus Military. Berarti dia bisa membawa empat palet standar NATO atau satu helikopter NAS-332 Super Puma atau kargo lain dengan dimensi dan bobot sama.(img. odinflight.odinenglish.odin.com.pt)
 
"Bisa menggantikan C-130 karena daya angkut maksimalnya hingga 20 ton sementara Hercules cuma 12,5 ton saja. Pangsa pasarnya beda karena ini memiliki keunggulan tersendiri," kata CEO Embraer Brazil, Luiz C Aguiar, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang, Senin siang.

Bersama Duta Besar Brazil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares, dia menyerahterimakan empat Super Tucano itu kepada Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, yang kemudian menyerahkan lagi kepada Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufaat.


Minggu, 16 September 2012

Karakteristik Pesawat CN-295 Pesanan TNI AU


Pesawat CN-295 (hasil kerja sama PT DI dan Airbus Military), atau dikenal sebagai C-295 (versi Spanyol), merupakan pesawat angkut taktis militer twin turboprop produksi Airbus Military di Spanyol. Pesawat yang melakukan terbang perdana pada 1998 ini merupakan pengembangan dari pesawat CN-235, dengan peningkatan muatan sebesar 50 persen dan mengalami pembaruan di sektor mesin (engine), yang menggunakan PW127G baru. Pesawat ini diproduksi dan dirakit di kawasan Airbus Military di Bandara San Pablo, Seville, Spanyol.

C-295 Versi AEW&C (Airborne Early Warning and Control)
C-295 Versi AEW&C (Airborne Early Warning and Control)

C-295, yang membutuhkan 670 meter panjang landasan untuk tinggal landas, dan 320 meter untuk mendarat. Pesawat ini digunakan sebagai pesawat taktis di 14 negara untuk berbagai fungsi.


Infrastruktur Pendukung Tank Harus Disiapkan


Pemerintah harus segera memikirkan pembangunan infrastruktur dan mengkaji lokasi-lokasi penempatan untuk tank-tank tempur yang akan tiba dari Jerman.

Infrastruktur Pendukung Tank Harus Disiapkan
Infrastruktur Pendukung Tank Harus Disiapkan

Apalagi sebagian besar infrastruktur yang ada sekarang tidak dirancang untuk mendukung pergerakan kendaraan tempur seperti tank. Pengamat pertahanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Cornelis Lay menuturkan, tank yang dimiliki Indonesia sekarang ini memang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. “Tapi dengan membeli tank seberat 63 ton (Leopard),kesulitan kita infrastruktur tidak tersedia,”paparnya saat dihubungi SINDO kemarin.

Sebagaimana diketahui,Pemerintah Indonesia telah membeli ratusan tank Leopard dan Marder dari Jerman. Keberadaan tank tersebut sebagai penguatan pertahanan dalam negeri. Kendala infrastruktur makin jelas bila tank-tank itu ditempatkan di wilayah perbatasan. “Itu kesulitan teknis mau penempatannya di mana,” sebut dia.


Empat Pilar Bangsa Harga Mati


Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH Said Aqil Siradj, menegaskan saat ini bangsa dan negara Indonesia dalam situasi yang rentan ancaman dari berbagai sisi, di antaranya ideologi negara Pancasila. Karena itu, empat pilar kebangsaan, yakni NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi harga mati. Untuk itu, NU akan mendukung penguatan empat pilar tersebut.

Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH Said Aqil Siradj
Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH Said Aqil Siradj

"Empat pilar sudah sangat prinsip. Apabila ada perkumpulan, lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi yang mengancam empat pilar, harus segera dilarang dan dibubarkan," tegas Said Aqil.

Penegasan Said Aqil ini dikemukakan sesaat sebelum pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama, dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Sabtu (15/9).Munas ini dihadiri ratusan peserta, termasuk beberapa perwakilan dan peninjau asing.


Dua Kapal Eks PD II Ikuti Sailling Pass di Sail Morotai


Sebanyak 21 kapal terdiri dari kapal perang dan kapal pemerintah turut ambil bagian dalam pelaksanaan Sail Morotai 2012 di Pulau Morotai, Maluku Utara, Sabtu (15/9/2012).

KRI Teluk Ratai merupakan salah satu kapal perang yang pernah mendarat di Pulau Morotai pada masa PD II 1944. KRI Teluk Ratai turut ambil bagian dalam Sailling Pass Sail Morotai 2012.
KRI Teluk Ratai merupakan salah satu kapal perang yang pernah mendarat di Pulau Morotai pada masa PD II 1944. KRI Teluk Ratai turut ambil bagian dalam Sailling Pass Sail Morotai 2012.(kompas.com)
 

Dari 21 kapal tersebut, ada dua kapal perang yang pernah mendarat di Pulau Morotai pada 15 September 1944 di saat Perang Dunia II. Dua kapal perang itu yakni kapal KRI Teluk Ratai 509 dan KRI Teluk Bone 511.

Kedua kapal ini juga turut ambil bagian dalam rangkaian acara Sailling Pass kapal perang. Dalam kegiatan Sailling Pass kapal perang ini, hanya 13 jenis kapal perang baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk KRI Teluk Ratai dan KRI Teluk Bone. Sisanya merupakan kapal pemerintah dan kapal pengawas dari Polri.


KRI Hasanuddin-336 berpromosi wisata di Turki


Kapal tempur KRI Hasanuddin-336 yang bertugas di Lebanon, melakukan "Port Visit" dan berlabuh di Pelabuhan Mersin, Turki, untuk memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Turki.

KRI Hasanuddin 366 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Hasanuddin 366. (ANTARA/Zabur Karuru)
KRI Hasanuddin 366 Kapal Perang Republik Indonesia
(KRI) Hasanuddin 366.
(ANTARA/Zabur Karuru)
 
"Dalam kesempatan kunjungan tersebut, selain mempererat hubungan persahabatan, Kri Hasanuddin-336 juga mengemban misi promosi budaya dan wisata," kata Kepala Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Ankara, Robertus Irawan, kepada ANTARA Kairo, Sabtu.

Menurut Irawan, promosi wisata tersebut berupa pemutaran video mengenai budaya dan perkembangan pariwisata di Indonesia di sela acara resepsi `cocktail` di atas KRI Hasanuddin pada Jumat (14/9) malam.