Sabtu, 20 Desember 2014

Modernisasi Kekuatan Laut Negara ASEAN Akibat Situasi Laut China Selatan


Saat pemerintah Tiongkok terus memberi tekanan kepada dua negara tetangganya, yakni Jepang dan Filipina, Panglima TNI Jenderal Moeldoko telah mengambil sikap yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya terhadap masalah ini. “Laut China Selatan telah menjadi titik utama persengketaan maritim di Asia. Dua pengklaim-nya adalah Tiongkok dan Taiwan, sementara empat negara lain – Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam – semuanya merupakan anggota ASEAN. Ini merupakan inti dari posisi Indonesia juga,” tulis Moeldoko dalam Wall Street Journal Asia.

Modernisasi Kekuatan Laut Negara ASEAN Akibat Situasi Laut China Selatan
Tumpang tindih klaim di Laut China Selatan

Lebih lanjut Jenderal Moeldoko menyebutkan, “Kami bukan salah satu pengklaim dalam masalah persengketaan ini. Namun kami akan terkena dampaknya jika konflik sampai pecah di Laut China Selatan, akibat interpretasi dari apa yang disebut sebagai jalur 9-garis pada peta China, yang memberi hak klaim terhadap 90% dari perairan seluas 3,5 juta kilometer persegi di laut tersebut. Dengan memandang makna ekonomis dan strategis laut tersebut, ini merupakan masalah internasional mendesak yang juga telah melibatkan AS.”


Di kemudian hari, ekspansi Tiongkok di Laut China Selatan nyatanya juga berimbas pula pada kepentingan nasional Indonesia. Tiongkok secara sepihak telah menyertakan bagian-bagian dari Kepulauan Natuna dalam jalur 9-garis tersebut, dan karenanya mengklaim segmen dari provinsi Kepulauan Riau di Indonesia sebagai wilayah mereka. Sebuah gambar memperlihatkan tampilan garis tersebut dalam paspor Cina yang baru dikeluarkan. Kepulauan yang terkena dampak ini berada di pesisir barat laut Kalimantan.

Aktivitas Tiongkok pun mendapat respons cepat, Indonesia kemudian memutuskan untuk meningkatkan kekuatannya di Natuna. Lebih detail dipersiapkan pesawat tempur untuk menangani peristiwa yang berakar dari peningkatan ketegangan di salah satu jalur perairan utama di dunia ini.

Dari beragam latar belakang, potensi konflik di Laut China Selatan menjadi isu paling hangat yang memicu tensi ketegangan di kawasan. Sebagai imbasnya, militer masing-masing negara ASEAN yang bersinggungan dengan ekspansi Tiongkok, terpacu untuk melakukan modernisasi pada alutsistanya, terlebih pada kekuatan di laut.

Meski di atas kertas kekuatan laut Tiongkok super power dan akan sulit ditaklukan, tapi negara-negara di Asia Tenggara terus berupaya untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam skala yang berbeda, wujudnya terlihat jelas dari peningkatan anggaran belanja pertahanan yang meroket di masing-masing negara.

Lepas dari urusan dengan ekspansi Tiongkok di Laut Cina Selatan, konflik-konflik bilateral antar negara ASEAN juga menjadi pemicu percepatan modernisasi. Berikut adalah paparan gelar kekuatan laut negara-negara ASEAN.

Indonesia


Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang menguasai 2/3 wilayah lautan di Asia Tenggara, Indonesia sudah selayaknya memiliki kekuatan pengawal di lautan yang berfungsi sebagai penghubung, pemersatu, dan perekat negara kepulauan. Guna mewujudkan gelar kekuatan laut yang proporsional dengan luas wilayah yang harus diamankan.

TNI AL nantinya harus memiliki tiga gugus armada, setelah selama ini hanya mengandalkan dua armada, yakni Komando Armada Timur dan Komando Armada Barat. Bila melihat postur TNI AL saat ini, alutsista utama terdiri 154 KRI dan 209 KAL (kapal angkatan laut), 2 divisi Marinir dan sebaran pangkalan pendukung. Berikut adalah prediksi dari gelar dari tiga armada TNI AL.

Armada RI Kawasan Barat
Pangkalan utama di Tanjung Pinang dan Belawan, pangkalan pendukung Dumai, Batam, Natuna, Lhok Seumawe, Sabang, Padang, Mempawah. Jumlah KRI berkisar 80-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, KCR (kapal cepat rudal), LPD (landing platform dock), dan LST (landing ship tank)). Wilayah pengawasan Armada Barat mencakup kawasan Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata dan Pantai Barat Sumatera diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Armada RI Kawasan Tengah
Pangkalan utama di Surabaya dan Jakarta, pangkalan pendukung Makassar, Balikpapan, Tarakan, Bitung, Cilacap, Teluk Lampung dan Benoa. Armada Tengah diperkuat dengan 85-90 KRI dari berbagai jenis termasuk satuan kapal selam, dan kapal rumah sakit. Wilayah pengawasannya adalah Selat Sunda, Laut Jawa, Pantai Selatan Jawa, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Armada Tengah diperkuat dengan 4 Brigade Marinir.

Armada RI Kawasan Timur
Pangkalan utama di Ambon dan Kupang, pangkalan pendukung di Merauke, Jayapura, Sorong dan Ternate. Sebaran KRI berkisar antara 82-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, Kapal Selam). Wilayah pengawasan adalah Laut Timor, Laut Arafuru, Laut Banda, Laut Maluku, Pantai Utara Papua. Mengingat kontur laut di wiayah ini adalah laut dalam maka KRI yang beroperasi adalah dari jenis Fregat dan Korvet. Armada Timur diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Jumlah seluruh KRI yang dimiliki 3 armada tersebut diproyeksi berkisar 250 KRI. Ini adalah jumlah minimal yang akan mengisi ketiga armada tersebut, sementara dalam Buku Putih Kementerian Pertahanan jumlah kekuatan KRI yang harus dipunyai oleh TNI AL adalah 274 KRI. Dari jumlah KRI sebanyak itu, persentase jenis FPB (Fast Patrol Boat)/KCR adalah yang terbesar, yaitu minimal ada 100 FPB yang mengisi arsenal TNI AL, semuanya dilengkapi peluru kendali dari jenis C-802 dan C-705.

Starting point dari semua rencana strategis ini dimulai pada tahun 2011. Persiapan ke arah starting point itu selama dua tahun terakhir ini sudah dipersiapkan dengan berbagai fasilitas dan perkuatan alutsista TNI AL. Dengan semua rencana strategis itu diharapkan pada tahun 2014 kekuatan TNI AL yang kuat, besar dan profesional akan mulai terlihat bentuknya dan akan semakin sempurna pada lima tahun berikutnya.

Malaysia

Seiring perkembangan keamanan dan tantangan ke depan yang harus dihadapi, Malaysia mulai akhir tahun 1980-an memulai modernisasi kekuatan lautnya secara signifikan, wujudnya dengan membeli 4 unit kapal korvet kelas Laksamana dari Italia.

Tambahan utama untuk armada kapal perang ialah 2 unit kapal fregat kelas Lekiu yang dibangun berdasarkan desain YARROW F2000. Kedua fregat tersebut adalah KD Jebat (29) dan KD Lekiu (30). Fregat- fregat ini dipersenjatai dengan rudal permukaan-permukaan Exocet MM40 SSM dan rudal anti pesawat udara Sea Wolf dengan sistem peluncur tegak (VLS). Fregat ini juga mampu menampung sebuah helikopter Westland Super Lynx 300 buatan Inggris.

Untuk melengkapi kekuatan satuan armada kapal fregat kelas Lekiu maka didatangkanlah pula 2 fregat kelas Kasturi buatan Jerman yang dikirim pada awal tahun 1980an. Yang menarik lainnya, Malaysia juga telah memiliki armada kapal selam. Dua kapal selam kelas Scorpene dipesan dengan kontrak pembelian sebesar 1,04 miliar Euro atau setara 4,78 miliar Ringgit Malaysia pada saat itu. Sistem persenjataan utama kapal selam ini adalah torpedo Blackshark buatan Italia dan rudal Exocet SM-39 (anti kapal platform dari kapal selam) buatan Prancis.

Singapura

Ibarat kecil-kecil cabe rawit, justru Singapura negara pulau adalah pemilik angkatan laut terkuat dan tercanggih di kawasan Asia Tenggara. Masuknya kapal fregat kelas Formidable memperkuat AL Republik Singapura. Fregat yang didasarkan pada kapal kelas La Fayette ini memperkenalkan kemampuan tempur “laut biru” (blue water navy combat). Kapal perang kelas Formidable dilengkapi dengan kemampuan anti-pesawat udara dan anti- kapal selam, dan dapat didarati oleh helikopter Seahawk S-70B.

Selain itu AL Republik Singapura juga membeli kapal landing platform dock (LPD) kelas Endurance untuk keperluan angkutan amfibi. Sementara itu armada kapal selamnyajuga ditambahkan dengan dua buah kapal ex-Swedia kelas Västergötland.

Thailand
Thailand kembali membulatkan niatnya untuk membeli kapal selam untuk memperkuat armada Angkatan Lautnya. Sebelumnya, pemerintahan lama Thailand pernah menunda rencana pengadaan kapal selam bekas dari Jerman karena alasan keterbatasan anggaran.

Kini pemerintahan baru di Bangkok kembali ke rencana awal untuk melakukan akuisisi kapal selam. Menjadi menarik untuk menebak bagaimana masa depan Angkatan Laut Thailand dengan adanya kapal selam dalam armada Negeri Gajah Putih itu nantinya. Sebab dibandingkan Angkatan Laut di kawasan Asia Tenggara, Angkatan Laut Thailand tercatat sebagai satu-satunya kekuatan laut yang mengoperasikan kapal induk.

Filipina

Filipina menjadi salah satu negara ASEAN yang langsung bersinggungan dengan Tiongkok, terutama dalam masalah sengketa kepulauan Spratly. Sayangnya dari segi kekuatan militer di lautan, Filipina adalah yang paling inferior di kawasan.

Modernisasi pun dilakukan, tapi dengan cara yang amat pas-pasan. Seperti baru- baru ini Filipina mengumumkan bahwa kapal fregat bekas yang bakal diterima dari Amerika Serikat akan dilengkapi dengan kemampuan anti kapal selam dan helikopter. Tidak ada rincian bagaimana kemampuan anti kapal selam yang dimaksud. Namun mengingat kapal fregat tersebut memang tidak pernah dilengkapi dengan peralatan anti kapal selam, tampaknya helikopter-nya lah yang akan dilengkapi untuk operasi anti- kapal selam (menyebarkan sonar dan melepaskan torpedo anti kapal selam.) Pemasangan sonar untuk fregat memang akan jauh lebih mahal.

Vietnam

Vietnam yang terlibat langsung dalam pertarungan di Laut China Selatan berambisi memiliki kemampuan membangun kapal perang sendiri. Sebagai wujudnya, Vietnam mendekati perusahaan pembuat kapal perang dari Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding, untuk memesan empat korvet SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modular Approach). Vietnam juga menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal selam Kilo kelas 877EKM.

Posisi Hanoi sebagai pihak yang mengklaim Laut China Selatan juga semakin mendorong Vietnam untuk memodernisasi Angkatan Lautnya. Ekspansi Tiongkok telah menjadi salah satu alasan utama mengapa Vietnam mempercepat modernisasi kekuatan lautnya. (JMOL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar