Jumat, 14 Agustus 2015

Dunia bersiap alami perang kurs merusak China vs AS


Tanpa ada woro-woro, otoritas moneter Republik Rakyat China melakukan manuver paling mengerikan yang tak kalah merusak dibanding perang, tiga hari lalu. Bank Sentral China (PBOC) menurunkan nilai tukar paritas mata uang Yuan ke level 6,401 per USD hanya dalam 2 x 24 jam. Dampaknya dirasakan penduduk negara berkembang, seperti Indonesia. Muncul ancaman kelesuan ekonomi, berkurangnya konsumsi, hingga menyusutnya lapangan kerja.

Dunia bersiap alami perang kurs merusak China vs AS

Jika direrata, pelemahan Yuan mencapai 3,5 persen di pasar antar bank atau 4,8 persen di pasar global. Cukup ekstrem untuk negara yang selama dua dekade relatif sukses mengimbangi kuasa Dollar Amerika Serikat.

Sesuai istilah keuangan, langkah bank sentral China ini disebut devaluasi. China akhirnya mendevaluasi kurs setelah terakhir kali melakukannya pada 1994.

Seperti dilaporkan Kantor Berita Reuters, analis pasar keuangan menilai China melakukan ini demi persaingan dengan Amerika Serikat. Dalam keterangan resminya, PBOC beralasan devaluasi penting untuk mendorong ekspor.


"Tapi devaluasi sejauh ini belum sesuai perhitungan. Jika (Yuan) masih akan dilemahkan, dapat meningkatkan potensi perang kurs (dengan AS)," kata Akademisi Yale University, Stephen Roach.

Teori adanya perang kurs antara China dan AS bukan barang baru. Sejak 2008, muncul laporan dari ekonom senior Nouriel Roubini, bahwa kedua negara terkuat dunia itu saling memanipulasi mata uangnya masing-masing untuk meraup keuntungan ekonomi.

Sumber di internal PBOC mengakui pelemahan pekan ini sengaja dilakukan buat mengimbangi meningkatnya nilai tukar Dollar AS sepanjang dua triwulan terakhir. Ada sumber lain, dilaporkan Reuters, yang menyatakan pejabat di pemerintahan RRC ingin yuan didevaluasi hingga 10 persen. Bila itu terjadi, AS sudah pasti tidak akan tinggal diam lalu ikut mengacaukan pasar kurs.

Nilai tukar Yuan yang lebih lemah dari USD membuat ongkos ekspor

perusahaan Negeri Tirai Bambu lebih murah, seperti dilaporkan Aljazeera, Kamis (13/8). Perusahaan raksasa seperti Lenovo, Huawei, dan Li & Fung diperkirakan bisa menangguk untung besar.

Analis lain, seperti dikutip Forbes, menyatakan perang lain yang terjadi bukan cuma kurs, tapi juga perebutan pasar konsumsi dalam negeri China. Perusahaan AS seperti P&G, Apple Inc, atau General Motors selama lima tahun terakhir mengandalkan pasar di Negeri Tirai Bambu. Bila Yuan lebih murah, ada kemungkinan konsumen malas membeli barang impor, artinya dari AS, lantas beralih ke produk dalam negeri.

Selain di pasar saham, kekacauan pun tercipta di pasar mata uang (forex). Masalahnya, negara seperti Indonesia, Thailand, atau Jepang, terpukul atas manuver China.

Tak terbayangkan, Rupiah mendadak terpuruk ke level paling parah setelah krisis 1998 walau fundamental ekonomi dalam situasi normal. Hingga awal pekan ini, rupiah melemah 9,4 persen ke posisi Rp 13.551 per USD. Bahkan kemarin mata uang RI anjlok ke level nyaris Rp 13.800 di pasar spot, terburuk di Asia melampaui Baht Thailand dan Kyat Myanmar.

Pemerintah RI bukannya tak sadar. Sejak kemarin sore, telah digelar rapat koordinasi Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). Pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan merapatkan barisan.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan akan melakukan langkah antisipatif agar neraca pemerintah tak tergerus ketika kurs kacau balau seperti sepekan terakhir. "Memang ada tekanan Rupiah, pasar saham dan pasar surat berharga negara. Jadi kami siap memperkuat koordinasi dan mengambil kebijakan sesuai kewenangan masing-masing pasar," ujarnya.

Tak seperti China yang bisa untung dengan pelemahan mata uang, Indonesia dipastikan babak belur. Pengusaha dalam negeri banyak mengandalkan ekspor bahan mentah atau komoditas. Karena harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit belum menguat, maka perekonomian RI berpotensi melesu.

Aljazeera menyatakan negara berkembang di Asia, Afrika, ataupun Amerika Selatan yang bermasalah bidang ekspornya, terancam makin megap-megap ketika nanti mata uang Jepang dan Korea itu ikut dilemahkan oleh bank sentralnya masing-masing.

Analis IHS, Rajiv Biswas, khawatir kondisi negara berkembang yang akan hancur-hancuran saat Bank Sentral AS, the Fed, ikut mengerek suku bunga acuan, September mendatang. Modal asing yang lari dari Indonesia, India, Thailand, atau Malaysia, jelas mengguncang Asia Tenggara yang kini termasuk motor ekonomi benua.

Jika ada sisi positif buat masyarakat Indonesia dari hancurnya Rupiah sementara ini, adalah munculnya momentum ekspor. Aktivitas menjual barang ke luar negeri akan murah. Demikian pula sektor pariwisata. Ongkos wisatawan asing bertandang ke Tanah Air jadi terjangkau, bisa jadi berkah untuk pelaku bisnis tersebut.

Sisi buruknya, konsumsi dalam negeri melambat, misalnya pembelian barang-barang teknologi. Rencana pemerintah menggenjot pembangunan pun bakal tersendat, soalnya bahan baku bangunan masih banyak yang diimpor. Belum termasuk ratusan perusahaan, termasuk BUMN, akan mengalami kerugian di neracanya akibat selisih kurs.

Anjloknya kurs RI berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, sehingga target 5,7 persen di akhir 2015 gagal tercapai. Lapangan kerja berpotensi menyusut. Jumlah pengangguran nasional bisa lebih buruk dibanding tahun lalu.

Semua itu akibat dua raksasa dunia 'berperang' di pasar keuangan. Dan skenario perang gaya baru ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. (Merdeka)

2 komentar:

  1. seharus nya indonesia memperkecil rupiah mata uang seratus ribu menjadi 100 rupiah saja, mata uang indonesia terkecil 1 rupiah, ini untuk mengimbangi kesejateraan rakyat indonesia jauhkan kebodohan dan kemiskinan. dan untuk itu indonesia jadi peng rajin kebutuhan manusia untuk di gunakan sehari hari

    BalasHapus
  2. perkecilan mata uang rupiah pernah di lakukan oleh ir soekarno, sukses untuk rakyat indonesia pada hal indonesia belum maju seperti sekarang ini, yang pasti rakyat indonesia semakin rata,

    BalasHapus