Rabu, 28 Agustus 2013

BNPT Bangun Pusat Deradikalisasi Teroris


Pusat pelatihan anti terorisme, termasuk pusat deradikalisasi, tengah dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT), di Sentul, Jawa Barat, dan diharapkan bisa beroperasi pada 2014 mendatang.

BNPT Bangun Pusat Deradikalisasi Teroris
Kondisi lapas yang terlalu penuh seperti di Lapas Tanjung Gusta, dinilai tidak kondusif untuk upaya deradikalisasi.

Ketua BNPT, Ansyaad Mbai, mengatakan pusat deradikalisasi untuk narapidana teroris ini penting dibangun karena saat ini pembinaan serupa yang diadakan di masing-masing lapas tidak kondusif.

"Yang kita lakukan deradikalisasi, orang per orang, diperlukan suasana yang kondusif sementara lapas sekarang ini suasananya seperti itu. Tempat [pembinaan] pinjam kantornya pimpinan lapas atau stafnya lapas yang tidak di desain untuk itu."


"Kemudian, yang kedua, di lapas itu masih bisa berkembang radikalisasi, karena kapasitas napi juga berlebih sangat sulit mengatur itu."

Ansyaad mengatakan saat ini pembangunan sudah dilakukan dan diharapkan akan dapat beroperasi pada 2014 mendatang.

Upaya deradikalisasi, menurut dia, penting karena sumber dari kegiatan teroris muncul karena penyebaran ideologi radikal. Selama paham radikal tidak bisa diatasi maka tindakan terorisme akan terus terjadi.

"Idealnya semua napi teroris diberikan pembinaan, tapi dalam pelaksanaannya nanti mungkin ada prioritas tergantung fasilitas yang kita punyai. Ini juga tergantung seberapa radikal tiap napi itu," jelas Ansyaad.

Pembangunan pusat anti teror ini direncanakan dan didanai oleh BNPT, namun dalam penggunaannya nanti akan bekerja sama denggan Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, karena pembinaan narapidana ini juga berhubungan dengan keamanan dan perlakukan kepada napi yang merupakan wewenang lapas.

Pembinaan lanjut Ansyad akan melibatkan psikolog, ulama, kepolisian, dan BNPT sendiri, serta nantinya diharapkan narapidana akan siap untuk berintegrasi ke masyarakat setelah masa hukumannya habis.

"Harus strategis"

Pengamat terorisme Al Chaidar menilai hal ini merupakan langkah maju yang dilakukan oleh BNPT.

"Perkembangan terorisme di Indonesia semakin besar, harus ada yang betul-betul menanggulangi secara terprogram, tidak bisa ditanggulangi hanya dengan kepolisian saja."

Namun, dia mengingatkan bahwa penanganan terorisme merupakan hal yang kompleks sehingga membutuhkan perumusan strategi yang lebih mendalam.

"Perlawanan terhadap terorisme adalah perlawanan ideologis, karena itu harus ada perumusan yang lebih strategis untuk melawan ideologi yang dasarnya ingin menggantikan dasar ideologi pancasila."

"Kemungkinan besar jika upaya anti terorisme tidak dilakukan dengan menitikberatkan pada diskusi pemahaman jihad atau Islam, mereka akan gagal," katanya ketika dihubungi wartawan BBC, Christine Franciska.

Bukan lapas

Pernyataan BNPT meluruskan pernyataan sebelumnya yang dikemukakan oleh Pelaksana Harian Dirjen PAS Bambang Krisbanu.

Sebelumnya Bambang mengatakan BNPT berniat membangun lapas khusus yang akan menampung semua narapidana teroris di Sentul.

"Narapidana teroris memiliki kebutuhan khusus dan kita belum punya lapas dengan kebutuhan tersebut," katanya melalui telepon.

Pengamat terorisme Noor Huda menilai pembuatan lapas khusus terorisme sendiri sebetulnya belum terlalu penting.

"Idenya bagus, tetapi secara pribadi saya belum lihat pentingnya itu, karena lapas yang ada saja banyak masalahnya, kapasitas berlebih dan SDM terbatas, sehingga banyak kerusuhan."

"Sekarang mau bikin kayak begini prosedurnya bagaimana? kesiapan SDM masih dipertanyakan. Kalau bangunan fisik tahun depan mungkin selesai, tapi infrastrukturnya, orang-orang yang menangani kasus ini seperti apa?"

"Selain itu, risiko lainnya kalau dijadikan satu, adalah jadi peluang mereka untuk kembali melakukan re-grouping." (BBC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar