Kamis, 29 Agustus 2013

Kisah Mayor (Penerbang) Anton Pallaguna Menjaga Angkasa Indonesia


Delapan pesawat tempur Sukhoi dan enam F-16 bersiap di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta pada Sabtu pagi (17/8) lalu. Mereka tengah menunggu giliran beratraksi di langit Jakarta pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 68.

Mayor (Pnb) Anton 'Sioux' Pallaguna.
Mayor (Pnb) Anton 'Sioux' Pallaguna. (Foto: Istimewa)
Selalu Mensucikan Diri Sebelum Terbang 

Tiga puluh menit menjelang pesawat tinggal landas, Mayor (Penerbang) Anton Pallaguna mengambil air wudhu. Bagi pria yang diterima di Akademi Angkatan Udara tahun 1997 itu, menerbangkan pesawat tempur adalah ibadah, sehingga harus dalam keadaan suci.

Sebelum terbang untuk berbagai misi khusus atau sekedar latihan rutin, ia selalu menyempatkan terlebih dulu mengambil air wudhu. Penerbang yang saat mengudara dipanggil dengan sebutan 'Sioux' itu mengaku dalam keadaan suci dia bisa tenang saat mengemudikan pesawat.


“Itu saja simple karena terbang adalah ibadah. Saya usahakan dalam keadaaan suci sebelum terbang,” kata Anton kepada detikcom, di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta (17/8) lalu.

Menurut Anton, pilot ibarat roh dalam pesawat yang sudah lengkap dengan peralatan teknologi software canggih. Pilot itu melengkapi jiwa raga pesawat untuk terbang.

Kendali otomatis dan tanggjung jawab ketika terbang di udara berada di tangan pilot. Pengalaman spiritual sering dia rasakan saat di Kokpit pesawat.


Pertolongan Tuhan

Peristiwa di luar logika ketika pilot yang hanya manusia tidak sanggup menghandle satu persoalan saat terbang, seperti pesawat terbakar atau ketika tergelincir saat hendak mendarat.

“Kemampuan secara utuh tidak bisa kita handle. Saya percaya ada pertolongan. Di balik kokpit itu Tuhan ada. Ini bukan pengalaman saya saja tapi para senior juga,” kata Anton.

Kini Anton sudah memiliki catatan 2500 jam terbang dari tujuh jenis pesawat tempur. Dua tahun sudah dia bergabung di armada pesawat tempur Sukhoi yang bermarkas di Skadron XI, Lanud Sultan Hasanudin, Makasar.

Menjadi seorang pilot sebenarnya jauh dari cita-cita Anton sejak kecil. Pria kelahiran Garut, 17 Mei 1979 ini mengaku tak pernah terpikir atau membayangkan untuk menjadi pilot.

Cita-citanya sederhana karena hanya berlatar belakang anak kampung. Jalan hidup berubah ketika Anton diterima di Akabri pada 1997. Selama proses seleksi dan berbagai tes, akhirnya ia diarahkan untuk masuk angkatan udara.

Peluang menjadi pilot adalah sebuah tantangan yang lebuh besar. Hal ini pula yang membuat Anton mengorbankan peluang kuliah di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama.

“Saya benar tidak pernah terbayang sebelumnya. Ini dunia di luar jangkauan saya. Waktu kecil saya malah tahunya sopir delman karena jarang ada angkot di kampung saya,” kata Anton.

Tahun 2003 Anton bergabung dengan armada F-16 di Skuadron III Lapangan Udara Iswahjudi, Madiun. Selama lima tahun ayah empat anak ini menerbangkan F-16. Berbagai jenis misi khusus dan operasi penghadangan sering dilakukan Anton ketika mengawaki F-16.

Kemudian Anton mendapat tugas untuk menimba ilmu struktur pilot di Australia selama setahun. Kembali ke Tanah Air, Anton dan rekan-rekan sesama pilot pesawat tempur membentuk lagi Jupiter Aerobatic Team.

Tahun 2011 saat bergabung dengan Sukhoi, Anton dikirim belajar ke Rusia untuk berlatih. Menjadi pilot Shukoi adalah tantangan terbesar dalam karir pilotnya. “Alhamdulillah kesempatan itu ada sampai sekarang,” ujar pria berzodiak Taurus itu. (Detik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar