Dalam operasi di medan tempur, TNI tak harus selalu menggunakan senjata untuk membuat lawan segan. Apalagi jika yang dihadapi adalah rakyat biasa yang karena kekurangan informasi jadi berpihak pada musuh. Pendekatan secara sosial budaya harus dilakukan untuk mendapat simpati mereka guna membantu TNI.
Kisah ini terjadi sekitar tahun 1971. Waktu itu ada seorang prajurit TNI tengah ditugaskan untuk memburu Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) atau Partai Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Tak mudah memburu milisi ini, apalagi mereka bergabung dengan warga. Ini menjadi tantangan bagi prajurit TNI.
Dalam buku "Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi" terbitan Kata Hasta Pustaka, ada cerita menarik dari sosok seorang prajurit TNI Djoko Subagio. Ia baru saja dilantik sebagai perwira bersama 8 orang perwira lainnya lulusan Akabri pertama 1970. Kemudian ditugaskan di Kodam XII Tanjungpura, Pontianak Kalimantan Barat.
Djoko kemudian diperbantukan di Yonif 406/CK Kodam IV Diponegoro. Kebetulan saat itu sedang ada tugas operasi penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat. Nah, Djoko lantas ditugaskan di G. Bentuang Kompleks, Kecamatan Balai Karangan Kabupaten Sanggau, Kapuas (Sektor Timur).
Lazimnya para Perwira Remaja, Djoko ditempatkan sebagai Komandan Peleton yang terdiri atas tiga regu, tapi kali ini Djoko hanya memimpin 10 orang (satuan setingkat regu). Lama penugasannya dari Februari 1971 hingga Oktober 1971 dengan hasil nihil.
Peran Djoko dimulai saat bertugas di Kampung Sungkung Pol. Diketahui ada sejumlah penduduk yang bekerja sama dengan musuh atau paling tidak mereka bersimpati kepada PGRS/Paraku. Agar musuh takut dan rakyat mau membantu TNI, Djoko merancang sebuah drama satu babak di mana salah satu pemainnya adalah Pratu Situmorang, anak buahnya sendiri.
Pratu Situmorang pura-pura marah dan mengamuk sambil mengarahkan senjatanya dan menembak ke arah Djoko. Melihat kejadian ini, anggota lainnya serta rakyat kaget.
Dor! senjata meletus. Namun yang luar biasa, Djoko malah berjalan mendekati Situmorang.
Set! Dia malah menangkis. Dan ajaibnya bisa menangkap proyektil peluru yang ditembakkan anak buahnya.
Djoko kemudian berkali-kali menampar Situmorang. Setelah itu, memerintahkan anggotanya untuk mengikat Situmorang di bawah pohon sampai sadar.
Aksi drama Djoko membuat rakyat terkagum-kagum. Dan sejak saat itu, banyak Apai-apai (tokoh masyarakat) datang membawa pulut (ketan), telor, sayuran maupun ayam. Maksud pemberian ini adalah agar mereka diajari ilmu menangkap peluru. Djoko kemudian menjawab, Boleh, tetapi tunggu ilmu saya sempurna dulu.
Kok bisa Letnan Djoko sampai bisa menangkap peluru? Kesaktian apa yang dimilikinya?
Nah sebenarnya, penangkapan proyektil peluru yang ditembakkan oleh Pratu Situmorang hanya sebuah drama. Beberapa butir selongsong peluru tajam yang sudah dilepaskan proyektilnya dan ditutupi karton berlilin sudah dipegang terlebih dahulu tanpa warga tahu. Maka terciptalah peluru hampa yang ditembakkan Situmorang, sedangkan proyektilnya dikantongi Djoko dan dipamerkan sebagai hasil tangkapan tangannya.
Karena itu enteng saja Djoko seolah menangkap peluru. Intinya bukan kesaktian, tapi kecerdikan perwira muda ini.
Drama itu membuahkan hasil. Rakyat jadi patuh pasukan TNI dan tidak bersimpati pada PGRS. (Merdeka)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Senin, 18 Maret 2019
Mengejutkan Seorang Komandan TNI Bisa Tangkap Peluru, Pakai Ilmu Apa.??
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Indonesia tidak akan lagi membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia, fokus kedepan hanya untuk F-16 dari AS, Marsekal Eris Herryanto mengatakan k...
-
Pihak inteljen Kodam, sambung Hardiono, masih melakukan pendeteksian kebangkitan PKI di wilayah Jateng dan DIY. Pangdam menambahkan memang ...
-
Rusia mengharapkan Indonesia kembali melirik pesawat tempur sukhoi Su-35, pernyataan ini diungkapkan Wakil Direktur "Rosoboronexport...
-
Tanggal 16 April kemaren Komando Pasukan Khusus TNI AD berulang tahun. Banyak cerita menarik seputar operasi militer dan sejarah pasukan eli...
-
Indonesia menegaskan perlunya meratifikasi Traktat Pelarangan Komprehensif Uji Coba Nuklir (Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty / CTBT), d...
-
by Narayana ( JKGR ) Jakarta, Medio Maret 2014….Pukul 23.45 wib Malam telah beranjak larut, ketika saya merapihkan setumpuk dokumen yan...
-
Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur ...
-
Eksplorasi antariksa negara-negara maju sudah mencapai Planet Mars dan sedang menjajaki untuk mengeksplorasi asteroid dalam waktu beberapa t...
-
Diam-diam tensi persaingan pabrikan pesawat tempur yang ingin produknya ditunjuk menjadi pengganti F-5E/F Tiger II TNI AU meningkat, dan har...
-
Kalau dipikir-pikir, ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia. Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus m...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar