Filipina mengizinkan TNI masuk ke wilayahnya untuk mengejar kelompok bersenjata Abu Sayyaf yang menyandera tujuh Warga Negara Indonesia (WNI). Sikap Filipina ini menunjukkan mereka tidak sanggup menangani kelompok bersenjata Abu Sayyaf.
Izin ini diberikan sesuai salah satu poin kesepakatan antara Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia Ryamizard Ryacudu dengan Menhan Filipina Voltaire T Gasmin.
"Kalau Pemerintah Filipina buka militer asing masuk ke wilayahnya apa semudah itu? Berarti Pemerintah Filipina enggak sanggup amankan wilayah teritorial mereka," ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama Militer. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Juni 2016
TNI Deteksi Posisi 4 dari 7 WNI yang Disandera Kelompok Bersenjata di Filipina
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan pihaknya telah mengetahui titik empat dari tujuh WNI yang disandera kelompok bersenjata di Filipina. Gatot mengatakan, lokasi ketujuh WNI tersebut terpisah menjadi dua kelompok.
"(Sandera) ada di Jolo, yang sementara bisa dimonitor sementara empat. Tapi itu perlu diverifikasi lagi. Terpisah, empat dan tiga terpisah," kata Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (27/6/2016).
Menurut Gatot, pihaknya baru bisa mengkonfirmasi keberadaan empat sandera dari total tujuh WNI. Jenderal bintang empat itu memastikan keempat sandera dalam kondisi sehat.
"(Sandera) ada di Jolo, yang sementara bisa dimonitor sementara empat. Tapi itu perlu diverifikasi lagi. Terpisah, empat dan tiga terpisah," kata Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (27/6/2016).
Menurut Gatot, pihaknya baru bisa mengkonfirmasi keberadaan empat sandera dari total tujuh WNI. Jenderal bintang empat itu memastikan keempat sandera dalam kondisi sehat.
Senin, 27 Juni 2016
Pemerintah RI Tolak Anggapan Kerjasama Trilateral Antisipasi Penyanderaan Gagal
Pihak Istana menolak anggapan pertemuan trilateral yang digagas Pemerintah Indonesia, bersama Filipina dan Malaysia di Yogyakarta gagal mengantisipasi aksi penyanderaan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok bersenjata di Filipina.
"Tentunya ini jadi trigger, jangan sampai berulang kembali," ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (27/6/2016).
Pramono mengatakan, terkait aksi penyanderaan kembali terhadap WNI diduga dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf, posisi pemerintah sudah jelas. Namun, pemerintah mengaku harus menghargai konstitusi Filipina.
"Tentunya ini jadi trigger, jangan sampai berulang kembali," ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (27/6/2016).
Pramono mengatakan, terkait aksi penyanderaan kembali terhadap WNI diduga dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf, posisi pemerintah sudah jelas. Namun, pemerintah mengaku harus menghargai konstitusi Filipina.
Sabtu, 28 Mei 2016
Pasca Konflik Natuna, China Ingin Pererat Kerjasama Pertahanan dengan Indonesia
Kementerian Pertahanan China menginginkan terciptanya hubungan militer yang lebih erat, serta kerja sama terkait berbagai isu bilateral dan multilateral dengan Indonesia. Pernyataan ini dilontarkan usai berakhirnya ketegangan kedua negara lantaran penangkapan kapal China di perairan Natuna pada Maret lalu.
Pada pertemuan sela dalam rapat sejumlah menteri pertahanan regional di ibu kota Vientiane, Laos, Menteri Pertahanan China, Chang Wanquan, memaparkan harapannya agar China dan Indonesia dapat "memperdalam kerja sama pragmatis" dan mempromosikan hubungan militer.
"Sebagai dua negara berkembang yang besar di Asia, China dan Indonesia telah menyelaraskan strategi pengembangan dan prospek luas untuk kerja sama," kata Chang kepada Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu, dikutip dari kantor berita Xinhua pada Jumat (27/5).
Pada pertemuan sela dalam rapat sejumlah menteri pertahanan regional di ibu kota Vientiane, Laos, Menteri Pertahanan China, Chang Wanquan, memaparkan harapannya agar China dan Indonesia dapat "memperdalam kerja sama pragmatis" dan mempromosikan hubungan militer.
"Sebagai dua negara berkembang yang besar di Asia, China dan Indonesia telah menyelaraskan strategi pengembangan dan prospek luas untuk kerja sama," kata Chang kepada Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu, dikutip dari kantor berita Xinhua pada Jumat (27/5).
Label:
Internasional,
Kerjasama Militer,
Maritim
Kamis, 19 Mei 2016
Kerjasama Militer, Rusia Ingin Produksi Amunisi di Indonesia
Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama di bidang pertahanan ketika bertemu di Sochi. Rusia juga ingin memproduksi amunisi militer di Indonesia.
”Kami telah sepakat untuk memperluas kontak antara kementerian pertahanan dan badan-badan keamanan,” kata Putin pada pertemuannya dengan Jokowi, seperti dilansir Itar-Tass, Kamis (19/5/2016).
Presiden Jokowi menambahkan, bahwa Indonesia dan Indonesia juga menyepakati pertukaran informasi intelijen.
Semenatara itu, Kepala Badan Ekspor Senjata Rusia, Alexander Fomin, mengatakan bahwa Rusia ingin memproduksi amunisi militer di Indonesia.
”Kami telah sepakat untuk memperluas kontak antara kementerian pertahanan dan badan-badan keamanan,” kata Putin pada pertemuannya dengan Jokowi, seperti dilansir Itar-Tass, Kamis (19/5/2016).
Presiden Jokowi menambahkan, bahwa Indonesia dan Indonesia juga menyepakati pertukaran informasi intelijen.
Semenatara itu, Kepala Badan Ekspor Senjata Rusia, Alexander Fomin, mengatakan bahwa Rusia ingin memproduksi amunisi militer di Indonesia.
Indonesia dan Rusia Sepakat Perkuat Kerjasama Pertahanan
Presiden Indonesia Joko Widodo menuturkan, Indonesia dan Rusia telah sepakat untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang pertahanan. Kerjasama ini dicapai setelah Jokowi melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi, Rusia.
Jokowi menuturkan, selain sepakat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang pertahanan. Indonesia dan Rusia juga sepakat untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang pendidikan dan teknologi.
"Saya dan Presiden Putin sepakat perkuat kerjasama di bidang pertahanan. Tadi juga kita bahas kerjasama di bidang alih teknologi, bidang produksi bersama, dan pendidikan serta pelatihan," ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Rabu (19/5).
"Indonesia dan Rusia juga akan terus bekerjasama untuk pemberantasan terorisme dan meningkatkan pertukaran informasi intelijen di bidang terorisme ini," sambungnya.
Jokowi menuturkan, selain sepakat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang pertahanan. Indonesia dan Rusia juga sepakat untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang pendidikan dan teknologi.
"Saya dan Presiden Putin sepakat perkuat kerjasama di bidang pertahanan. Tadi juga kita bahas kerjasama di bidang alih teknologi, bidang produksi bersama, dan pendidikan serta pelatihan," ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Rabu (19/5).
"Indonesia dan Rusia juga akan terus bekerjasama untuk pemberantasan terorisme dan meningkatkan pertukaran informasi intelijen di bidang terorisme ini," sambungnya.
Sabtu, 07 Mei 2016
Peta kekuatan Angkatan Laut RI-Malaysia-Filipina Penjaga Perbatasan Maritim Ketiga Negara
Kasus perompakan laut, pembajakan hingga penyanderaan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Sulu sudah semakin mengkhawatirkan. 14 ABK asal Indonesia diculik dari kapalnya, termasuk 4 warga Malaysia yang hingga kini belum dibebaskan oleh kelompok Abu Sayyaf.
Agar kejadian serupa tak terulang, Indonesia berinisiatif mengundang tiga negara yang berkepentingan dengan keamanan di Laut Sulu, yakni Malaysia dan Filipina. Tujuannya adalah mengamankan kapal-kapal dagang yang melintas dengan kapal perang masing-masing.
Dibuka oleh Presiden Joko Widodo, pertemuan trilateral antara pemerintah Indonesia, Malaysia dan Filipina di Gedung Agung Yogyakarta, Kamis (5/5), menghasilkan empat poin kesepakatan. Hasil pertemuan tersebut dideklarasikan bersama dan dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P Marsudi.
Agar kejadian serupa tak terulang, Indonesia berinisiatif mengundang tiga negara yang berkepentingan dengan keamanan di Laut Sulu, yakni Malaysia dan Filipina. Tujuannya adalah mengamankan kapal-kapal dagang yang melintas dengan kapal perang masing-masing.
Dibuka oleh Presiden Joko Widodo, pertemuan trilateral antara pemerintah Indonesia, Malaysia dan Filipina di Gedung Agung Yogyakarta, Kamis (5/5), menghasilkan empat poin kesepakatan. Hasil pertemuan tersebut dideklarasikan bersama dan dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P Marsudi.
Label:
Internasional,
Kerjasama Militer,
Maritim,
Perbatasan NKRI
Jumat, 06 Mei 2016
Tank Medium Buatan Pindad - FNSS Turki Akan Diperkenalkan Tahun 2017
PT Pindad (Persero) menggandeng perusahaan asal Turki FNSS Savunma Sistemleri (Defense System), untuk mengembangkan tank medium guna memperkuat pertahanan militer kedua negara.
Direktur Utama Pindad, Silmy Karim mengatakan latar belakang kerja sama tank jenis ini karena banyak dipakai di beberapa negara. Dan menjadi potensi bagi kedua perusahaan.
Pengarang buku Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia ini, menerangkan kerja sama ini memakan investasi USD30 juta. Pada tahap awal, kedua negara sepakat menyelesaikan prototipe yang berlangsung sekitar tiga tahun. Tahun ini sudah memasuki tahun kedua setelah proyek dimulai akhir 2015 kemarin.
Direktur Utama Pindad, Silmy Karim mengatakan latar belakang kerja sama tank jenis ini karena banyak dipakai di beberapa negara. Dan menjadi potensi bagi kedua perusahaan.
Pengarang buku Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia ini, menerangkan kerja sama ini memakan investasi USD30 juta. Pada tahap awal, kedua negara sepakat menyelesaikan prototipe yang berlangsung sekitar tiga tahun. Tahun ini sudah memasuki tahun kedua setelah proyek dimulai akhir 2015 kemarin.
Kamis, 05 Mei 2016
RI-Filipina-Malaysia Sepakati Patroli Bersama Kawasan Perbatasan Maritim
Indonesia, Filipina, dan Malaysia menyepakati kerja sama dalam menghadapi permasalahan di laut. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan untuk urusan kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah.
"Seperti yang menteri (Luar Negeri RI) katakan, untuk kemanusiaan, tidak mengenal batas wilayah," ujar Gatot.
Hal ini disampaikan Gatot usai melakukan pertemuan dengan Panglima Bersenjata Filipina dan Malaysia di Gedung Agung, Yogyakarta, Jumat (5/5/2016).
Permasalahan kemanusiaan, kata Gatot, sifatnya universal. Menurut Gatot, ketika ada yang membutuhkan pertolongan, maka kita tidak bisa diam saja.
"Seperti yang menteri (Luar Negeri RI) katakan, untuk kemanusiaan, tidak mengenal batas wilayah," ujar Gatot.
Hal ini disampaikan Gatot usai melakukan pertemuan dengan Panglima Bersenjata Filipina dan Malaysia di Gedung Agung, Yogyakarta, Jumat (5/5/2016).
Permasalahan kemanusiaan, kata Gatot, sifatnya universal. Menurut Gatot, ketika ada yang membutuhkan pertolongan, maka kita tidak bisa diam saja.
Label:
Internasional,
Kerjasama Militer,
Maritim,
Perbatasan NKRI
Rabu, 04 Mei 2016
Menlu RI, Malaysia dan Filipina Menuju Yogyakarta Bahas Keamanan Kawasan
Menteri Luar Negeri Malaysia Dato’ Sri Anifah Haji Aman dipastikan akan bertolak ke Yogyakarta untuk melakukan pertemuan tiga arah dengan Menlu Indonesia dan Filipina. Pertemuan trilateral ini akan membahas mengenai keamanan perairan di kawasan ASEAN.
Sri Anifah tidak sendirian melakukan perjalanan ke Yogyakarta, dirinya juga akan ditemani oleh Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia. Dimana, Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia juga akan bertemu dengan Panglima dari Indonesia dan Malaysia.
"Dato’ Sri Anifah Haji Aman, Menteri Luar Negeri akan mengetuai delegasi Malaysia ke pertemuan Menteri-Menteri Luar Negeri dan Panglima-Panglima Angkatan Tentara Indonesia, Malaysia dan Filipina yang akan diadakan di Yogjakarta, Indonesia pada 5 Mei 2016," kata Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam siaran pers pada Rabu (4/5/2016).
Sri Anifah tidak sendirian melakukan perjalanan ke Yogyakarta, dirinya juga akan ditemani oleh Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia. Dimana, Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia juga akan bertemu dengan Panglima dari Indonesia dan Malaysia.
"Dato’ Sri Anifah Haji Aman, Menteri Luar Negeri akan mengetuai delegasi Malaysia ke pertemuan Menteri-Menteri Luar Negeri dan Panglima-Panglima Angkatan Tentara Indonesia, Malaysia dan Filipina yang akan diadakan di Yogjakarta, Indonesia pada 5 Mei 2016," kata Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam siaran pers pada Rabu (4/5/2016).
Label:
Internasional,
Kerjasama Militer
Senin, 02 Mei 2016
Bangun Armada Kapal Selam, RI Pelajari Teknologi dari Korsel dan Prancis
Kapal selam Chang Bogo TNI AL yang dibangun DSME Okpo shipyard, Korea Selatan, telah diluncurkan 24 Maret 2016 lalu dan kini bersiap untuk melakukan uji laut yang ketat. Kapal selam ini akan dikirim ke Indonesia bulan Maret 2017, sementara konstruksi kapal selam kedua, sedang dilakukan dan akan dikirim ke Indonesia pertengahan tahun 2018.
Kapal selam ketiga yang berbobot 1400 ton ini, akan dibangun di PT PAL, Surabaya. Kapal selam Chang Bogo class akan memiliki jelajah operasional 10.000 nautical miles, surface top speed 21 knot, 10 knot saat menyelam dan dilengkapi 8 peluncur untuk torpedo dan peluru kendali.
Kapal selam ini akan dilengkapi dengan sistem pertahanan elektronik dan pelacakan radar paling modern, dengan kru 40 orang.
Kapal selam ketiga yang berbobot 1400 ton ini, akan dibangun di PT PAL, Surabaya. Kapal selam Chang Bogo class akan memiliki jelajah operasional 10.000 nautical miles, surface top speed 21 knot, 10 knot saat menyelam dan dilengkapi 8 peluncur untuk torpedo dan peluru kendali.
Kapal selam ini akan dilengkapi dengan sistem pertahanan elektronik dan pelacakan radar paling modern, dengan kru 40 orang.
Sabtu, 30 April 2016
Indonesia - Polandia Jalin Kerja Sama Penanggulangan Terorisme
Masalah terorisme menjadi perhatian dunia setelah beberapa aksi teror menimpa beberapa negara, termasuk Indonesia. Namun apa yang terjadi di Indonesia dianggap sebagai keberhasilan dalam mengendalikan terorisme.
Salah satunya Polandia yang menilai Indonesia bisa menjadi partner menghadapi ancama global itu. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara delegasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan pemerintah Polandia pada Selasa (26/4/2016) tentang penanggulangan terorisme.
Hadir Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose, Dubes RI untuk Polandia, Peter F. Gontha, Minister Special Services Coordinator (Urusan Keamanan dan Intelijen) Mariusz Kamiński, Secretary of State/Head of National Security Bureau Pawel Soloch, Head of internal Security Agency Prof Hab Piotr Pogonowski, dan Head of Foreign Intelligence Kolonel Grzegorz Melcki.
Salah satunya Polandia yang menilai Indonesia bisa menjadi partner menghadapi ancama global itu. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara delegasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan pemerintah Polandia pada Selasa (26/4/2016) tentang penanggulangan terorisme.
Hadir Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose, Dubes RI untuk Polandia, Peter F. Gontha, Minister Special Services Coordinator (Urusan Keamanan dan Intelijen) Mariusz Kamiński, Secretary of State/Head of National Security Bureau Pawel Soloch, Head of internal Security Agency Prof Hab Piotr Pogonowski, dan Head of Foreign Intelligence Kolonel Grzegorz Melcki.
Label:
Internasional,
Isu Terorisme,
Kerjasama Militer
Rabu, 27 April 2016
Indonesia-Tiongkok tingkatkan kerja sama keamanan
Indonesia dan Tiongkok sepakat meningkatkan kerja sama di bidang
politik, hukum dan keamanan, guna menjaga serta memelihara stabilitas
keamanan dan perdamaian di kawasan.
"Setelah satu jam kita berdialog, sebelumnya banyak hal yang dapat kita tingkatkan dan perdalam dalam kerja sama politik, hukum dan keamanan kedua negara, di masa datang," kata Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dalam Dialog Kelima Politik, Hukum dan Keamanan Indonesia-Tiongkok di Beijing, Selasa.
Dalam dialog ke-5 Politik, Hukum dan Keamanan antara Indonesia dan Tiongkok tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menko Polhukam Luhut Panjaitan dan delegasi Tiongkok dipimpin Anggota Dewan Negara Yang Jiechi.
Didampingi Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo, Luhut menekankan, kerja sama yang dibangun dan akan terus ditingkatkan di masa depan tersebut haruslah memberikan keuntungan bagi kedua pihak atas dasar rasa saling menghormati dan menghargai.
"Setelah satu jam kita berdialog, sebelumnya banyak hal yang dapat kita tingkatkan dan perdalam dalam kerja sama politik, hukum dan keamanan kedua negara, di masa datang," kata Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dalam Dialog Kelima Politik, Hukum dan Keamanan Indonesia-Tiongkok di Beijing, Selasa.
Dalam dialog ke-5 Politik, Hukum dan Keamanan antara Indonesia dan Tiongkok tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menko Polhukam Luhut Panjaitan dan delegasi Tiongkok dipimpin Anggota Dewan Negara Yang Jiechi.
Didampingi Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo, Luhut menekankan, kerja sama yang dibangun dan akan terus ditingkatkan di masa depan tersebut haruslah memberikan keuntungan bagi kedua pihak atas dasar rasa saling menghormati dan menghargai.
Label:
Internasional,
Kerjasama Militer
Senin, 25 April 2016
Indonesia - DCNS Prancis, Jajaki Kerja Sama Membuat Kapal Selam
Pejabat Indonesia dan Perancis telah memulai sebuah kelompok kerja untuk mengeksplorasi kebutuhan kapal selam Indonesia.
Di antara isu-isu yang dieksplorasi adalah kelayakan platform yang dapat beroperasi baik di perairan dalam maupun pesisir.
Galangan pembuat kapal Indonesia, PT PAL telah bekerja sama dengan perusahaan Perancis DCNS dalam kelompok kerja formal, untuk mengeksplorasi kebutuhan kapal selam masa depan Angkatan Laut Indonesia (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut, atau TNI-AL), sumber industri dekat dengan masalah itu telah dikonfirmasi oleh IHS Jane.
Di antara isu-isu yang dieksplorasi adalah kelayakan platform yang dapat beroperasi baik di perairan dalam maupun pesisir.
Galangan pembuat kapal Indonesia, PT PAL telah bekerja sama dengan perusahaan Perancis DCNS dalam kelompok kerja formal, untuk mengeksplorasi kebutuhan kapal selam masa depan Angkatan Laut Indonesia (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut, atau TNI-AL), sumber industri dekat dengan masalah itu telah dikonfirmasi oleh IHS Jane.
Label:
Internasional,
Kapal Selam,
Kerjasama Militer
Kamis, 14 April 2016
Pesawat Intai AS P-8 Poseidon Ikuti Latihan Multilateral Komodo 2016
Pesawat intai canggih P-8 Poseidon milik Angkatan Laut Amerika Serikat dilibatkan dalam latihan multilateral Komodo 2016 di Padang, Sumatera Barat dari 12 hingga 16 April.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake menyebutkan pesawat itu dilengkapi radar yang bisa memantau kegiatan penangkapan ikan liar (illegal fishing).
"Selain itu pesawat ini juga dilengkapi kamera pengintai yang bisa mengamati objek dari ketinggian," kata dia di Pesawat P-8 Poseidon yang terbang di Padang, Selasa (12/4).
Ia menyebutkan selain bisa memantau illegal fishing, pesawat ini juga bisa memantau kegiatan merugikan lainnya dari ketinggian.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake menyebutkan pesawat itu dilengkapi radar yang bisa memantau kegiatan penangkapan ikan liar (illegal fishing).
"Selain itu pesawat ini juga dilengkapi kamera pengintai yang bisa mengamati objek dari ketinggian," kata dia di Pesawat P-8 Poseidon yang terbang di Padang, Selasa (12/4).
Ia menyebutkan selain bisa memantau illegal fishing, pesawat ini juga bisa memantau kegiatan merugikan lainnya dari ketinggian.
Rabu, 02 Maret 2016
Mentri Pertahanan Pantau Transfer Teknologi Jet Tempur Korsel-Indonesia
Menteri Pertahanan Ryamizard Rycudu menyatakan akan terus memantau proses transfer teknologi terkait proyek pengembangan pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) yang kini dikerjakan Korea Selatan bersama Indonesia.
“Bulan ini saya mau cek. Saya mau tahu langsung. Transfer teknologi harus berjalan sampai Indonesia mampu membuat (pesawat tempur) sendiri,” kata Ryamizard di Jakarta.
Sementara itu, Korea Selatan dan Indonesia telah mulai menggelar pembicaraan trilateral dengan Amerika Serikat, pekan terakhir Februari, terkait transfer teknologi jet tempur dari raksasa dirgantara AS, Lockheed Martin.
Perusahaan dirgantara Korea Selatan, Korea Aerspace Industries, memiliki sejarah kerja sama dengan Lockheed Martin dalam mengembangkan pesawat buatan mereka sebelum ini, yakni jet tempur ringan T-50 Golden Eagle yang kini juga dimiliki TNI Angkatan Udara. T-50 ‘diracik’ dari teknologi F-16 Fighting Falcon milik Lockheed.
“Bulan ini saya mau cek. Saya mau tahu langsung. Transfer teknologi harus berjalan sampai Indonesia mampu membuat (pesawat tempur) sendiri,” kata Ryamizard di Jakarta.
Sementara itu, Korea Selatan dan Indonesia telah mulai menggelar pembicaraan trilateral dengan Amerika Serikat, pekan terakhir Februari, terkait transfer teknologi jet tempur dari raksasa dirgantara AS, Lockheed Martin.
Perusahaan dirgantara Korea Selatan, Korea Aerspace Industries, memiliki sejarah kerja sama dengan Lockheed Martin dalam mengembangkan pesawat buatan mereka sebelum ini, yakni jet tempur ringan T-50 Golden Eagle yang kini juga dimiliki TNI Angkatan Udara. T-50 ‘diracik’ dari teknologi F-16 Fighting Falcon milik Lockheed.
Kamis, 25 Februari 2016
Fase Baru Hubungan Militer Indonesia - Rusia
Atase militer Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Kolonel Nikolay Nikolayuk mengingatkan Rusia dan Indonesia memiliki sejarah kemitraan yang cukup panjang. Kemitraan keduanya dimulai tak lama setelah Indonesia merdeka.
Kolonel Nikolayuk mengatakan Rusia telah mendukung Indonesia sejak awal kemerdekaan. Dan saat ini hubungan kedua negara terus berkembang, dan tengah memasuki fase baru.
“Berbicara mengenai sejarah hubungan antara Rusia dan Indonesia, saya ingin mengatakan, Rusia sudah memberikan dukungan baik secara militer ataupun politik kepada Indonesia sejak awal Indonesia merdeka,” kata Kolonel Nikolayuk, saat perayaan hari Angkatan Bersenjata Rusia, 23/2/2016, di Jakarta.
Kolonel Nikolayuk mengatakan Rusia telah mendukung Indonesia sejak awal kemerdekaan. Dan saat ini hubungan kedua negara terus berkembang, dan tengah memasuki fase baru.
“Berbicara mengenai sejarah hubungan antara Rusia dan Indonesia, saya ingin mengatakan, Rusia sudah memberikan dukungan baik secara militer ataupun politik kepada Indonesia sejak awal Indonesia merdeka,” kata Kolonel Nikolayuk, saat perayaan hari Angkatan Bersenjata Rusia, 23/2/2016, di Jakarta.
Kamis, 18 Februari 2016
Pabrik Pesawat ATR Ingin Berkerjasama Dengan PT Dirgantara Indonesia
Pabrikan pesawat turboprop asal Perancis, ATR tertarik untuk bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam hal modifikasi dan memproduksi komponen pesawat.
Hal itu diutarakan oleh General Manager Sales ATR untuk wilayah ASEAN, Christophe Potocki kepada KOMPAS.com, saat dijumpai di hari kedua penyelenggaraan Singpore Airshow 2016, Rabu (17/02/2016).
"Kami saat ini sedang mencari konsep versi baru pesawat kami (ATR), dan dalam waktu dekat akan menghubungi PT DI," ujar pria yang kerap disapa Chris itu.
Menurut Chris, ada paket yang akan ditawarkan kepada PT DI untuk membuat bagian-bagian komponen pesawat, selain juga kerja sama pemeliharaan pesawat yang bisa dilakukan di Indonesia.
Hal itu diutarakan oleh General Manager Sales ATR untuk wilayah ASEAN, Christophe Potocki kepada KOMPAS.com, saat dijumpai di hari kedua penyelenggaraan Singpore Airshow 2016, Rabu (17/02/2016).
"Kami saat ini sedang mencari konsep versi baru pesawat kami (ATR), dan dalam waktu dekat akan menghubungi PT DI," ujar pria yang kerap disapa Chris itu.
Menurut Chris, ada paket yang akan ditawarkan kepada PT DI untuk membuat bagian-bagian komponen pesawat, selain juga kerja sama pemeliharaan pesawat yang bisa dilakukan di Indonesia.
Rabu, 10 Februari 2016
Rusia Indonesia Bertukar Informasi Intelejen dan Tawarkan Alutsista Canggih
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan mengatakan kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia ke Indonesia untuk membahas kerja sama pertahanan antar kedua negara. Selain bertukar informasi intelejen soal terorisme, Rusia juga menawarkan beberapa alutsista buatan mereka.
Menkpolhukam mengatakan pihaknya sepakat saja jika Rusia memang menawarkan beberapa alat utama sistem persenjataan. Namun, Indonesia tidak mau hanya membeli, tetapi harus ada juga transfer pengetahuan dalam pembelian alutsista tersebut.
Menkpolhukam mengatakan pihaknya sepakat saja jika Rusia memang menawarkan beberapa alat utama sistem persenjataan. Namun, Indonesia tidak mau hanya membeli, tetapi harus ada juga transfer pengetahuan dalam pembelian alutsista tersebut.
Label:
Intelijen,
Internasional,
Kerjasama Militer
Selasa, 19 Januari 2016
Aselsan Turki cari mitra kembangkan alutsista di Indonesia
Produsen alat pertahanan asal Turki, Aselsan, menyatakan keinginan untuk berinvestasi di Indonesia setelah bertemu dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Senin.
"Kami melihat Indonesia sebagai pusat Asia. Jadi kerja sama ini sangat penting bagi perusahaan dan negara kami," kata Kagan Manekse, Manajer Pengembangan Bisnis dan Pasar Asia dan Pasifik Aselsan.
Kagan mengatakan bahwa pada dasarnya kerja sama antara kedua negara sudah berjalan, dan yang akan dilakukan adalah peningkatan di bidang persenjataan.
"Kami melihat Indonesia sebagai pusat Asia. Jadi kerja sama ini sangat penting bagi perusahaan dan negara kami," kata Kagan Manekse, Manajer Pengembangan Bisnis dan Pasar Asia dan Pasifik Aselsan.
Kagan mengatakan bahwa pada dasarnya kerja sama antara kedua negara sudah berjalan, dan yang akan dilakukan adalah peningkatan di bidang persenjataan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Berita Populer
-
Daerah Papua kembali bergejolak dengan tewasnya 12 orang di Puncak Jaya. Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie mengatakan penyeba...
-
Rusia mengharapkan Indonesia kembali melirik pesawat tempur sukhoi Su-35, pernyataan ini diungkapkan Wakil Direktur "Rosoboronexport...
-
Pemerintah telah memilih jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger, yang akan dipensiunkan. Keputusan ini diambil se...
-
Keberhasilan Tim Alfa 29 TNI menembak mati pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah dan rekannya Muchtar al...
-
Kejutan menyenangkan datang di akhir tahun 2013 ini. Sejumlah pengadaan alutsista yang termaktub dalam MEF terus berlangsung, bahkan di perc...
-
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berang dituding komisioner Komnas HAM tidak pernah bekerja dan terkesan hanya tidur dalam mengatasi ko...
-
TNI Angkatan Laut saat ini memiliki kapal selam sebanyak 12 unit. Alutsista itu, diparkir di wilayah Surabaya, Jawa Timur. “Kita memang ada ...
-
Perdebatan kiblat dari pembelian alutsista militer selama ini, menarik untuk dicermati. Kalau ditelaah semenjak kejadian embargo oleh USA da...
-
Pemerintah Inggris dan Belanda tidak terima begitu mengetahui bangkai kapal perangnya yang tenggelam di Laut Jawa saat berlangsungnya Perang...
-
Pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV) AiXI yang menjalankan misi ekspedisi bertajuk 'Menembus Langit' akan diluncur...



















