Mulai berdatangannya sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) membuat TNI Angkatan Darat memilih fokus melakukan tranformasi organisasi pada 2014.
"Kami ingin mengedepankan transformasi TNI AD untuk menyiapkan diri menghadapi (periode) 2015-2019," kata Kepala Staf TNI AD, Jenderal Budiman, seusai membuka Rapat Pimpinan 2014 TNI AD di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Rabu (15/1).
Transformasi tersebut, lanjut Kasad, akan disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis yang mungkin dihadapi Indonesia pada lima hingga sepuluh tahun ke depan. Menurutnya, transformasi dilakukan agar TNI AD semakin profesional dan mampu menjawab tuntutan dan perkembangan zaman.
"Kami akan menyampaikan materi strategi transformasi bidang pertempuran dan teritorial kepada peserta rapim, termasuk mendengarkan materi paparan dari panglima kodam terkait transformasi TNI AD di wilayah kodam," kata dia.
Rapim 2014 TNI AD diikuti 122 peserta yang terdiri dari para panglima komandan utama, para kepala bagian pelaksana pusat, serta para staf dan asisten TNI AD. Hadir pula sejumlah peninjau.
Budiman melanjutkan perkembangan sosial kemasyarakatan membuat TNI AD harus segera mentransformasi diri. "Perlu ada perencanaan dalam suatu transformasi untuk membentuk prajurit modern, efisien, efektif, tapi tak meninggalkan militansi," jelasnya.
Dia menjelaskan tranformasi lebih pada upaya mendesain konsep keorganisasian TNI AD hingga 20 tahun ke depan. Rencana itu akan dibuat lebih mendetail pada setiap lima tahun.
Perencanaan, kata dia, dibagi sesuai fungsi utama TNI AD, meliputi pertempuran, teritorial, dan pembinaan kekuatan/dukungan.
Pertambahan alutsista membuat TNI AD harus segera mendesain ulang organisasi. Jika dulu TNI AD hanya memiliki meriam 105 mm yang jarak ledaknya hanya 12 kilometer, saat ini sudah memiliki meriam 155 mm dengan daya jangkau 42 kilometer.
TNI AD juga sudah memiliki Multilauncher Rocket System (MLRS) dengan daya jangkau hingga 100 kilometer. "Kita juga punya tank (Leopard) yang kapabilitasnya luar biasa," ujarnya.
Ada pula penangkis serangan udara yang kemungkinan perkenaannya mencapai 96 persen. Semua itu bisa didapat walaupun anggaran belanja pertahanan Indonesia masih kurang dari 1 persen GDP. "Bahkan, kita sudah bisa membuat beberapa alutsista sendiri," lanjutnya. (KJ)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Pesaing utama rudal AIM-120 AMRAAM andalan Amerika Serikat, R-77 kerap dijuluki AMRAAMSKI. Pertanyaan paling mendasar, sehebat apakah rudal ...
-
TNI Angkatan Udara (AU) mengatakan pesawat AU Malaysia sempat melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah Indonesia. TNI AU mengatakan bel...
-
Sistem pertahanan Indonesia diciptakan agar menjamin tegaknya NKRI, dengan konsep Strategi Pertahanan Berlapis. SISTEM Pertahanan Indonesi...
-
Indonesia Tidak Akan Pernah Buat Senjata Nuklir Indonesia berkomitmen untuk tidak menggunakan teknologi nuklirnya untuk membuat senjata nu...
-
TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pe...
-
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui pembelian tank Leopard oleh pemerintah setelah ada perubahan beberapa hal yang sempat dikritisi...
-
Tentara Nasional Indonesia (TNI) berencana menambah armada kapal selam untuk mendukung pertahanan laut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), L...
-
Daerah Papua kembali bergejolak dengan tewasnya 12 orang di Puncak Jaya. Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie mengatakan penyeba...
-
Modernisasi alutsista terus dilakukan TNI dengan pengadaan: Main Battle Tank Leoprad 2A6, Meriam 155mm Caesar, Peluncur Roket Multi Laras, ...
-
Kalau dihitung sejak Penentuan Pendapat Rakyat 1969, Papua sudah 45 tahun bergabung dengan Indonesia. Sejak itu pula konflik berdarah terus ...

Mengantisipasi masalah prbtsan antara india dng R.I dng adanya samudera hindia, n antara singapura serta malaysia dng R.I, maka perlu korgabwilhan dng kekuatan dr masing2 matra adalah 2 divisi, utk mengantisipasi mslh prbtsn drt malaysia dibentuk korgabwilhan utara di kalimantan dng kekuatan 2 divisi dr msg2 matra, utk mengantisipasi mslh prbtsn laut filipina dng sulawesi dibentuk korgabwilhan tengah di sulawesi dng kekuatan 2 divisi dr msg2 matra, utk mengantisipasi mslh prbtsn darat NTT dng Timor Leste n mslh prbtasan laut NTT dng Australia shg perlu dibentuk korgabwilhan selatan di NTT dng kekuatan 2 divisi dr msg2 matra, kemudian krn Amerika menempatkan ribuan personil di Pulau Cocos dan di Pulau christmas dan di selatan pulau jawa ada perbtsn laut dng australia shg Pusat di pulau jawa dng kekuatan msg2 matra adalah 4 divisi.
BalasHapus