TNI AL segera menghidupkan kembali Skuadron udara 100 yang berisikan helikopter anti kapal selam (AKS). Skuadron yang pernah ditakuti lawan pada era 1960-an itu bisa segera berjaya kembali menyusul akan tibanya 11 unit helikopter yang akan diterima secara bertahap mulai tahun ini.
"Pesawatnya kan belum ada, tapi secara organisasi kita sudah kaji karena itu kan tinggal hidupkan kembali," ungkap KSAL Laksamana Ade Supandi di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jaktim, Rabu (24/6/2016).
Skuadron 100 ini dulu sempat memiliki AKS Lynx buatan Inggris, namun akhirnya dinonaktifkan pada sekitar tahun 1980-an. Akhirnya skuadron 100 sempat dilebur dengan skuadron lain karena tidak memiliki pesawat.
Untuk itu, pengadaan 11 pesawat yang sudah masuk dalam rencana strategi (renstra) TNI tersebut cukup penting. Menurut Ade, rencananya heli AKS yang akan digunakan di Skuadron 100 berjenis Sea Panther. Sayangnya ia belum bisa menjawab berapa lama total waktu pengadaannya.
"Tergantung kemampuan dari manufaktur. Normalnya dia ya mungkin setahun 3. Helikopters AKS itu perpanjangan kapal perang," tutur mantan Kasum TNI itu.
TNI AL memiliki peluru kendali dengan jarak jangkau mencapai 60 nm dan 80 nm di mana peluru tersebut membutuhkan target reporting unit. "Itu bisa dilaksanakan oleh helikopter yang memiliki kemampuan radar OTH (over the horizon) agar peluru rudal kita yang jauh-jauh ini punya alat bantu untuk deteksi. Kalau radar kan terbatas dengan cakrawala," jelas Ade.
Meski sama-sama mengoperasikan pesawat terbang, skuadron TNI AL dengan skadron TNI AU memiliki beberapa tugas atau misi operasi dan doktrin yang berbeda. Salah satunya adalah, untuk TNI AL harus mampu bermanuver pendaratan dan lepas landas dari heli deck yang ada di geladak kapal perang yang sedang berlayar di laut pada berbagai skenario cuaca, misi, dan persenjataan.
Menurut Ade, jumlah pengadaan AKS untuk Skuadron 100 sudah sesuah dengan kebutuhan kapal yang memiliki heli deck. Ada beberapa KRI yang memiliki heli deck tapi tidak memiliki helikopter.
"Isinya itu kan nanti helikopter AKS kelengkapannya. Hanya dulu kan itu pengadaan nggak sekaligus. Sekarang kan kapal-kapal sudah pada datang," tukas Ade.
KSAL pun mencontohkan beberapa kapal yang tidak memiliki helikopter. Seperti 4 kapal kelas Sigma dan 3 KRI jenis Multi Role Light Frigate.
"Untuk dia on board selalu di atas kapal. Dengan kita lengkapi 11 (heli), mudah-mudahan kapal itu lengkap dan fungsi realisasinya sama dengan fungsi realisasi fungsi dari kapal itu," pungkas pria yang pernah menjabat sebagai Pangarmatim itu. (Detik)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Kamis, 25 Juni 2015
11 Heli Anti Kapal Selam Akan Hidupkan Kembali Skuadron 100 TNI AL
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Pesaing utama rudal AIM-120 AMRAAM andalan Amerika Serikat, R-77 kerap dijuluki AMRAAMSKI. Pertanyaan paling mendasar, sehebat apakah rudal ...
-
TNI Angkatan Udara (AU) mengatakan pesawat AU Malaysia sempat melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah Indonesia. TNI AU mengatakan bel...
-
Sistem pertahanan Indonesia diciptakan agar menjamin tegaknya NKRI, dengan konsep Strategi Pertahanan Berlapis. SISTEM Pertahanan Indonesi...
-
Indonesia Tidak Akan Pernah Buat Senjata Nuklir Indonesia berkomitmen untuk tidak menggunakan teknologi nuklirnya untuk membuat senjata nu...
-
TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pe...
-
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui pembelian tank Leopard oleh pemerintah setelah ada perubahan beberapa hal yang sempat dikritisi...
-
Tentara Nasional Indonesia (TNI) berencana menambah armada kapal selam untuk mendukung pertahanan laut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), L...
-
Daerah Papua kembali bergejolak dengan tewasnya 12 orang di Puncak Jaya. Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie mengatakan penyeba...
-
Modernisasi alutsista terus dilakukan TNI dengan pengadaan: Main Battle Tank Leoprad 2A6, Meriam 155mm Caesar, Peluncur Roket Multi Laras, ...
-
Kalau dihitung sejak Penentuan Pendapat Rakyat 1969, Papua sudah 45 tahun bergabung dengan Indonesia. Sejak itu pula konflik berdarah terus ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar