DPR RI merencanakan akan membentuk Dewan Pengawas bagi operasi-operasi pemberantasan aksi-aksi teror. Apa tanggapan Polri soal itu?
"Tidak masalah, kan maksudnya pengawasan jadi sah-sah saja karena ini wajar di era transparasi ini ada yang mengawasi dan melaksanakan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (25/5/2016).
DPR mengusulkan pembentukan Dewan Pengawas itu melalui Pansus revisi UU Terorisme. Dewan setara Komisi Kejaksaan itu untuk mengawasi transparasi program dan juga audit keuangan.
"Mungkin dibutuhkan dewan pengawas yang kemudian langsung bisa mengawasi transparansi kinerja, audit keuangan yang digunakan dalam operasi-operasi pemberantasan tindak pidana teroris," ungkap Ketua Pansus revisi UU Terorisme M Syafii di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/5/2016).
DPR melihat belum adanya transparansi dalam kinerja Densus 88. Apalagi dalam urusan dana seperti pada contoh kematian terduga teroris Siyono beberapa waktu lalu.
"Kita sangat heran ya ketika ada keluhan masalah kurangnya dana operasional Densus 88 tapi kemudian kan ternyata di lapangan bisa kasih uang gitu loh kepada keluarga Siyono yang jumlahnya mencapai Rp 100 juta," ujar Syafii.
Apa yang dilakukan Densus 88 itu kemudian membuat DPR bertanya-tanya. Dari mana datangnya uang untuk keluarga Siyono. Dalam operasional pemberantasan teror, kata Syafii, besar kemungkinan terjadinya gratifikasi.
"Apakah ada perubahan nomenklatur di dalam pendanaan operasional pemberantasan terorisme itu memberikan uang langsung kepada keluarga korban. Kalau tidak ada maka uangnya dari mana, ini kan perlu diaudit juga kita perlu mengaudit aliran dana ini," ucapnya.
"Kalau kemudian Densus punya dana untuk keluarga Siyono ini kan bukan tidak mungkin ada yang menitip, kemungkinan yang menitip itu punya kepentingan lain yang sama bahayanya dengan tindakan teroris yang kita tangani," imbuh anggota Fraksi Gerindra itu. (Detik)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Rabu, 25 Mei 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Pihak inteljen Kodam, sambung Hardiono, masih melakukan pendeteksian kebangkitan PKI di wilayah Jateng dan DIY. Pangdam menambahkan memang ...
-
Di Era tahun 60an TNI AU/AURI saat itu pernah memiliki kekuatan udara yang membuat banyak negara menjadi ‘ketar ketir’, khususnya negara-ne...
-
TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pe...
-
Kalau dipikir-pikir, ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia. Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus m...
-
Indonesia tidak akan lagi membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia, fokus kedepan hanya untuk F-16 dari AS, Marsekal Eris Herryanto mengatakan k...
-
Pesaing utama rudal AIM-120 AMRAAM andalan Amerika Serikat, R-77 kerap dijuluki AMRAAMSKI. Pertanyaan paling mendasar, sehebat apakah rudal ...
-
Daerah Papua kembali bergejolak dengan tewasnya 12 orang di Puncak Jaya. Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie mengatakan penyeba...
-
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berang dituding komisioner Komnas HAM tidak pernah bekerja dan terkesan hanya tidur dalam mengatasi ko...
-
Penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta menggunakan senapan serbu AK-47. Diketahui anggota Kopassus ini baru saja berlatih di Gunung ...
-
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio mengatakan segera mengirim tim teknis ke Rusia untuk memastikan Indonesia akan memb...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar