Cari Artikel di Blog Ini

Kamis, 20 Agustus 2015

Metamorfosis Teungku Batee, dari Eks Komandan Perang GAM Jadi Pengusaha

Sorot matanya tajam menatap ke seisi ruangan. Tubuh tegapnya berbalut kaos bergaris-garis putih dan biru. Gaya bicaranya pelan dan lembut. Sekilas ia tidak mirip dengan mantan kombatan yang pernah memanggul senjata belasan tahun silam. Lelaki itu tampak necis siang itu.


Husaini M Amin, namanya. Lelaki kelahiran Samalanga, Bireuen 44 tahun silam ini akrap disapa Teungku Batee. Bagi mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Batee Iliek, Bireuen, Aceh, namanya tentu tak asing lagi. Ia pernah menjabat jabatan strategis saat konflik masih berkecamuk, yaitu Komandan Operasi Wilayah Batee Iliek dengan jumlah pasukan mencapai 2.000 orang.

Pasca penandatanganan damai antara Republik Indonesia dengan GAM, Teungku Batee bersama pasukan turun gunung. Meski lama hidup di tengah hutan belantara Aceh, naluri bisnisnya tidak padam. Ia memulai berbagai usaha mulai dari mengelola tempat wisata, peternakan sapi hingga budidaya buah naga.


"Setelah turun dari gunung, saya langsung bergerak di bidang ekonomi. Awalnya mengelola tempat wisata di Batee Iliek," kata Teungku Batee saat ditemui di sebuah warung kopi di Banda Aceh pekan lalu.

Batee Iliek merupakan sebuah wilayah di Kecamatan Samalanga, Bireuen. Di sana, terdapat sebuah sungai yang kerap dikunjungi wisatawan lokal dari berbagai kabupaten di Aceh. Letaknya di jalur lintasan Banda Aceh-Medan. Saat konflik pecah, warga tidak berani datang ke tempat-tempat wisata.

Kini di lokasi tersebut telah dibangun 15 kios kecil yang diperuntukkan untuk janda korban konflik maupun mantan kombatan GAM. Pedagang yang menempati kios tersebut harus membayar sewa Rp 10 ribu perhari. Teungku Batee sudah mengelola tempat wisata ini selama 10 tahun.

"Sekarang mereka (pedagang) sudah mantap semua. Dulu tidak boleh berjualan lagi di sini karena warga takut dan banyak aturan," jelasnya.

Bukan hanya mengelola wisata, tapi Teungku Batee juga melebarkan sayapnya untuk bergerak dibidang peternakan sapi. Usaha peternakan terpadu Alue Barat Samalanga miliknya hanya bertahan 4 tahun. Hal itu karena banyak masyarakat sekitar yang datang padanya dan kerap meminta bantuan hewan ternak kala mereka mengadakan kenduri perkawinan maupun acara besar lainnya.

Padahal saat itu ia mencoba peruntungan dengan segala fasilitas yang ada. Tapi karena ulah masyarakat yang kerap mendatangi tempat usahanya untuk meminta hewan ternak, akhirnya peternakan sapi itu gulung tikar. Di saat bersamaan, Teungku Batee juga membina mantan kombatan GAM yang dulu hanya mengetahui cara memegang senjata dengan berbagai keahlian.

"Kita bina mantan kombatan di bidang bengkel dan lainnya. Mereka banyak yang sudah sukses membuka bengkel milik sendiri," ungkap ayah tiga anak ini.

Meski usaha peternakan sapi gagal, Teungku Batee tidak putus asa. Kala mengunjungi Medan, Sumatera Utara, enam tahun silam, ia 'jatuh cinta' dengan buah naga yang dijual oleh sejumlah pedagang buah. Ia kemudian berguru di sana tentang cara budidaya. Usai kembali ke Aceh, Teungku Batee memulai usaha baru yaitu budidaya buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus tersebut.

Teungku Batee kini membudidayakan buah naga tersebut di lahan seluas empat hektar di Desa Cot Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Di sana, ia juga membina masyarakat tentang tata cara budidaya buah naga mulai dari saat mengolah tanah, menanam hingga berbuah.

"Di sana juga saya membina masyarakat. Biasanya untuk mengolah tanah hingga tanam saya yang lakukan. Setelah besar baru saya serahkan ke masyarakat untuk mengelolannya dan hasilnya untuk masyarakat semua," jelas Teungku Batee.

Setahun buah naga miliknya panen sebanyak 8 kali dengan rincian sekali panen mencapai 4 ton. Harga buah yang hanya mekar pada malam ini berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu perkilo. Meskipun demikian, Teungku Batee tidak mau membeberkan omzet yang dia dapat selama membudidaya buah naga.

Teungku Batee tidak hanya membudidayakan buah naga di lahan miliknya. Ia juga mengajak masyarakat lain itu budidayakan tanaman tersebut. Salah seorang yang berhasil ia rangkul adalah mantan Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan. Bahkan dalam beberapa kesempatan Iskandar mengatakan bahwa buah naga cocok dibudidayakan untuk menggantikan tanaman ganja.

"Tanaman buah naga di belakang Polda (Aceh) itu semua termasuk saya yang tanamnya," ungkapnya.

Bukan itu saja bisnis miliknya, ia juga mengelola warung kopi di Banda Aceh. Beberapa tahun lalu, salah satu warkop miliknya khusus menyediakan minuman dari buah naga. Kini ia juga mengelola sebuah warung kopi layaknya warkop pada umumnya.

Meski kini telah sukses dengan berbagai usaha, Teungku Batee masih mengingat saat masih hidup di tengah hutan kala Aceh masih berkonflik. Ia mengaku sudah terlibat dalam pergerakan sejak tahun 90-an. Setelah pamannya diambil dan hingga kini tidak diketahui rimbanya oleh pihak yang diduga TNI, ia kemudian aktif menjadi anggota Gerakan Aceh Merdeka.

"Saat itu terjadi kontak senjata dan paman saya diambil. Sampai sekarang tidak diketahui kuburannya," ungkapnya.

Sebelum menjadi pasukan, Teungku Batee sempat merantau ke Malaysia. Tak lama di sana, ia kembali ke Aceh dan bergabung GAM wilayah Batee Iliek. Ia dipercaya menjadi komandan operasi. Sejak saat itu, ia mulai jarang pulang ke rumah karena intensitas perang di Aceh meningkat. 

Salah satu pengalaman yang tak pernah dilupakannya adalah kala kelahiran anak pertama pada 2001 silam. Saat itu, kondisi Aceh mulai memanas. Ribuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Brimob dikirim ke Aceh. Pasukan GAM yang merasa terjepit memilih bertahan di dalam hutan. Nyanyian 'merdu' letusan senjata semakin sering terdengar.

Teungku Batee tidak dapat menemani sang istri melahirkan sang buah hati. Satu-satunya cara yang dapat ia lakukan adalah berdoa untuk keselamatan orang yang ia sayangi. Setahun berselang, sang istri mengirim selembar foto anak mereka yang berpose dengan raut wajah sedih.

"Saya sangat sedih melihat foto itu. Kemudian saya pergi ke tengah hutan untuk meredam jiwa dan saya bicara denga foto tersebut bahwa 'ayah di sini masih hidup tapi banyak kawan-kawanmu yang sudah kelihangan ayah mereka'. Itu yang saya lakukan waktu itu karena tidak bisa ketemu," ungkap Teungku Batee.

Setelah beberapa tahun berjuang, ia kembali dapat bertemu dengan istri dan buah hati usai penandatanganan kesepakatan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM. Kedua belah pihak sepakat berdamai di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005 silam.

Perundingan damai itu dicetus Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Ia menunjuk Hamid Awaluddin sebagai koordinator perunding mewakili Pemerintah Indonesia. Sementara koordinator perunding GAM yaitu Malik Mahmud Al Haytar.

Teungku Batee menyimpan mimpi memajukan Aceh. Ia membuka sebuah Taman Kanak-kanak (TK) Peunawa Hate, Samalanga sejak 5 tahun lalu. Anak-anak yang bersekolah di sana semua biayanya ditanggung alias gratis. Jumlah alumni hingga sekarang sudah mencapai 250 orang.

"Harapan saya, anak-anak itu harus merdeka di bidang pendidikan. Kalau mau memperbaiki Aceh bina anak-anak yang lahir di atas 2005, Insya Allah 20 tahun ke depan Aceh maju dan bermartabat. Tapi kalau anak-anak yang lahir di bawah 2005, itu tidak bisa dibina lagi karena mereka sudah rusak semua. Rusak gara-gara perang," katanya mengakhiri cerita.  (Detik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters