Pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV) AiXI yang
menjalankan misi ekspedisi bertajuk 'Menembus Langit' akan diluncurkan
di Balai Uji Teknologi, Pengamatan Antariksa dan Atmosfer LAPAN,
Pameungpeuk, Garut.
Untuk
memperlancar proses peluncuran menuju lapisan stratosfer, area sekitar
lintasan UAV AiXI harus clear dari aktifitas penerbangan komersil dan
non komersil pada Jumat (28/10/2016). Hal ini untuk mengantisipasi
adanya gangguan terhadap balon udara yang mengangkut badan pesawat.
"Sesuai
dengan prosedur radius 50 kilometer peluncuran dengan ketinggian 30
kilometer harus clear area. Tidak boleh ada aktifitas penerbangan lain
di radius tersebut," kata Flight Director Ekspedisi Menembus Langit,
Feri Ametia Pratama di lokasi peluncuran.
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Oktober 2016
"Menembus Langit" Pesawat tanpa awak AiXI LAPAN Diluncurkan Hari ini
Kamis, 21 Juli 2016
Sebelum Disergap, aktivitas Santoso dipantau UAV TNI
Teroris Santoso tewas dalam operasi Satgas Tinombala, di belantara hutan Poso, Sulawesi Tengah. Sebelum disergap, ternyata gerak gerik Santoso terpantau melalui pesawat tanpa awak dioperasikan Skuadron Udara 51 pangkalan udara (Lanud) Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
"Ya, di skuadron 51 memang punya pesawat UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Ini adalah pesawat tanpa awak, yang bisa dikontrol dari darat. Tidak ada pilot di dalam pesawat," kata Komandan Lanud Supadio Pontianak, Marsekal Pertama Tatang Harlyansyah, di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/7).
Diterangkan Tatang, pesawat UAV mampu terbang selama 14 jam. Pesawat itu juga mampu memantau lebih lama di udara, dengan areal pemantauan hingga radius 200 kilometer.
"Ya, di skuadron 51 memang punya pesawat UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Ini adalah pesawat tanpa awak, yang bisa dikontrol dari darat. Tidak ada pilot di dalam pesawat," kata Komandan Lanud Supadio Pontianak, Marsekal Pertama Tatang Harlyansyah, di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/7).
Diterangkan Tatang, pesawat UAV mampu terbang selama 14 jam. Pesawat itu juga mampu memantau lebih lama di udara, dengan areal pemantauan hingga radius 200 kilometer.
Kamis, 18 Februari 2016
TNI AD Pesan UAV Rajawali 330 Karya Anak Bangsa
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) telah menandatangani kontrak untuk tiga UAV fixed-wing surveillance and reconnaissance, yang dikenal dengan nama Rajawali-330.
Platform Rajawali-330 didasarkan pada UMS SKELDAR F-330 sayap tetap UAV pengawasan, dan sedang dikembangkan bersama dengan lisensi dari produsen peralatan pertahanan Indonesia, PT Bhinneka Dwi Persada (BDP).
Insinyur eksekutif PT BDP, Christeven Bong mengatakan, “kontrak ini diberikan pada bulan Desember 2015. Kontrak mencakup tiga UAV operasional dengan sensor terkait, tiga UAV pelatihan, dan komponen perintah-dan-kontrol terkait seperti konsol operator.” Namun, Bong menolak untuk mengungkapkan nilai kontrak UAV tersebut karena terkait masalah kerahasiaan.
Platform Rajawali-330 didasarkan pada UMS SKELDAR F-330 sayap tetap UAV pengawasan, dan sedang dikembangkan bersama dengan lisensi dari produsen peralatan pertahanan Indonesia, PT Bhinneka Dwi Persada (BDP).
Insinyur eksekutif PT BDP, Christeven Bong mengatakan, “kontrak ini diberikan pada bulan Desember 2015. Kontrak mencakup tiga UAV operasional dengan sensor terkait, tiga UAV pelatihan, dan komponen perintah-dan-kontrol terkait seperti konsol operator.” Namun, Bong menolak untuk mengungkapkan nilai kontrak UAV tersebut karena terkait masalah kerahasiaan.
Senin, 25 Januari 2016
PT. DI Rancang Drone Kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE)
Dron rancangan PT. Dirgantara Indonesia mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki, dan mampuh menembakan rudal.
Kemampuan PTDI untuk membuat pesawat fix wing, tidak perlu diragukan lagi. Sejumlah pesawat sudah mereka rakit dan mereka ciptakan.
Kini PTDI akan masuk mengembangkan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone ini dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki.
“Drone ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara,” ujar Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, Senin (25/1/2016).
Dengan memiliki kemampuan terbang 24 jam tanpa jeda, drone canggih ini dirancang untuk misi terbang jarak jauh, yang bertugas hingga ke pulau-pulau terluar.
Kemampuan PTDI untuk membuat pesawat fix wing, tidak perlu diragukan lagi. Sejumlah pesawat sudah mereka rakit dan mereka ciptakan.
Kini PTDI akan masuk mengembangkan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone ini dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki.
![]() |
| MQ-9 Reaper, AS |
“Drone ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara,” ujar Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, Senin (25/1/2016).
Dengan memiliki kemampuan terbang 24 jam tanpa jeda, drone canggih ini dirancang untuk misi terbang jarak jauh, yang bertugas hingga ke pulau-pulau terluar.
Label:
Industri Pertahanan,
Produk Nasional,
PT DI,
RISET,
UAV
Selasa, 22 September 2015
Di Indonesia Drone Tak Lagi Bebas Mengudara
Pesawat tanpa awak atau drone sudah kian marak dipakai. Pesawat nirawak itu sudah dipakai oleh perorangan, lembaga atau komunitas untuk mendokumentasikan gambar, video dari udara.
Popularitas drone sudah terasa di Indonesia. Munculnya beberapa komunitas drone bisa menandai antusiasme orang Indonesia untuk menggunakan drone. Pilot drone bisa memakai pesawat nirawak untuk leluasa menjelajahi udara.
Tapi sejak pertengahan Mei 2015, kebebasan itu terancam. Drone tak lagi bebas mengudara. Musababnya adalah keluarnya aturan penggunaan drone yang ada pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awal di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.
Permenhub ini mengatur, terdapat sejumlah kawasan yang sama sekali tidak ada yang boleh ada yang terbang di atasnya atau diistilahkan sebagai prohibited area. Contohnya adalah Istana Negara.
Popularitas drone sudah terasa di Indonesia. Munculnya beberapa komunitas drone bisa menandai antusiasme orang Indonesia untuk menggunakan drone. Pilot drone bisa memakai pesawat nirawak untuk leluasa menjelajahi udara.
Tapi sejak pertengahan Mei 2015, kebebasan itu terancam. Drone tak lagi bebas mengudara. Musababnya adalah keluarnya aturan penggunaan drone yang ada pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awal di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.
Permenhub ini mengatur, terdapat sejumlah kawasan yang sama sekali tidak ada yang boleh ada yang terbang di atasnya atau diistilahkan sebagai prohibited area. Contohnya adalah Istana Negara.
Minggu, 02 Agustus 2015
Drone Akan Diawasi Layaknya Pesawat Terbang
Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menegaskan bahwa pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) harus didaftarkan ke Kementerian Perhubungan.
Kemenhub kata dia akan mengawasi penggunaan drone layaknya pesawat terbang biasa. "Yang diatur itu drone yang beroperasi tinggi dan jarak jauh. Penerapan dan pengawasannya ya sama dengan pesawat biasa," ujar ujar Jonan di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
Sementara penggunaan drone untuk kepentingan jurnalistik, Jonan menegaskan tetap harus ada izin. Meski begitu, dia menilai bahwa drone yang biasa digunakan untuk kepentingan jurnalistik tak terlalu dipersiapkan karena ukuran dan ketinggian terbangnya tak terlalu tinggi.
Kemenhub kata dia akan mengawasi penggunaan drone layaknya pesawat terbang biasa. "Yang diatur itu drone yang beroperasi tinggi dan jarak jauh. Penerapan dan pengawasannya ya sama dengan pesawat biasa," ujar ujar Jonan di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
Sementara penggunaan drone untuk kepentingan jurnalistik, Jonan menegaskan tetap harus ada izin. Meski begitu, dia menilai bahwa drone yang biasa digunakan untuk kepentingan jurnalistik tak terlalu dipersiapkan karena ukuran dan ketinggian terbangnya tak terlalu tinggi.
Minggu, 26 Juli 2015
UAV Militer Suriah Buatan Rusia, Gunakan Komponen Indonesia
Front Al nusrah yang merupakan cabang al Qaeda di Suriah, mengklaim telah menembak jatuh sebuah kendaraan udara tak berawak (UAV) yang dioperasikan oleh rezim Suriah, 21 Juli 2015. Empat gambar ini dirilis oleh Twitter “Koresponden”Al nusrah di Latakia, sebuah provinsi pesisir yang telah lama menjadi benteng bagi rezim Hafiz Al Assad.
UAV tersebut merupakan UAV intelligence ELERON-3SV buatan Rusia yang beroperasi untuk jarak dekat untuk mengamati sekelilingnya.
UAV tersebut merupakan UAV intelligence ELERON-3SV buatan Rusia yang beroperasi untuk jarak dekat untuk mengamati sekelilingnya.
Selasa, 14 Juli 2015
Peresmian Skadron UAV TNI AU
Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) Marsekal Muda TNI. A. Dwi Putranto, Senin (13/7/2015) meresmikan Skadron Udara 51 Wing 7 Pangkalan Udara Supadio.
Peresmian dilaksanakan di Makoopsau I, dihadiri Kepala Staf Koopsau I Marsekal Pertama TNI Agus Munandar, beserta beberapa komandan Lanud jajaran. Skadron Udara 51 Wing 7 diperkuat pesawat udara nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
Pangkoopsau I menjelaskan, keberadaan Skadron Udara 51 Wing 7 dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengamatan perbatasan. Menurutnya Indonesia merupakan negara yang mempunyai permasalahan batas dengan sepuluh negara tetangga yakni, Australia, Timor Leste, Kepulauan Palau, Filipina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Papua Nugini, India, dan Thailand.
Peresmian dilaksanakan di Makoopsau I, dihadiri Kepala Staf Koopsau I Marsekal Pertama TNI Agus Munandar, beserta beberapa komandan Lanud jajaran. Skadron Udara 51 Wing 7 diperkuat pesawat udara nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
![]() |
| UAV Aerostar TNI AU |
Selasa, 26 Mei 2015
LAPAN dan BNPT Jajaki Kerja sama untuk Memberantas Terosisme
LAPAN berkunjung dan melakukan demo terbang pesawat tanpa awak di Markas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Sentul, Bogor, Senin (18/5). Demo terbang tersebut dalam rangka penjajakan kerja sama kedua instansi untuk memberantas terorisme.
Sebelum melakukan demo terbang pesawat tanpa awak dan quadcopter milik LAPAN, Kepala Pusat Teknologi Penerbangan (Kapustekbang) LAPAN, Gunawan S. Prabowo, memberikan pemaparan mengenai pesawat tanpa awak buatan LAPAN di ruang rapat BNPT. Paparannya tersebut menggambarkan mengenai teknologi yang dimiliki pesawat tanpa awak, mulai dari Lapan Surveillance UAV (LSU) 01 hingga LSU 05.
Sebelum melakukan demo terbang pesawat tanpa awak dan quadcopter milik LAPAN, Kepala Pusat Teknologi Penerbangan (Kapustekbang) LAPAN, Gunawan S. Prabowo, memberikan pemaparan mengenai pesawat tanpa awak buatan LAPAN di ruang rapat BNPT. Paparannya tersebut menggambarkan mengenai teknologi yang dimiliki pesawat tanpa awak, mulai dari Lapan Surveillance UAV (LSU) 01 hingga LSU 05.
Kamis, 19 Februari 2015
Sukhoi TNI AU Kejar Pesawat Tanpa Awak di Ambalat
Setelah sembilan hari melakukan patroli udara di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, pilot Sukhoi 27 dan 30 dari Skudron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa (17/2/2015) pukul 10.00 Wita menangkap adanya sinyal wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak akan masuk wilayah Indonesia, tepatnya di wilayah perbatasan Ambalat.
Siang itu, dua pesawat buatan Rusia yang diawaki pilot Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Penerbang David Tamboto dan dua pilot Sukhoi take off dari Bandara Juwata Tarakan melakukan operasi patroli udara “Sandi Perisai Sakti 2015″.
Beberapa menit berpatroli di udara dengan melakukan beberapa manuver, pilot David mendapatkan informasi dari Satuan Radar (Satrada) Tarakan, bahwa dari layar Satradar tertangkap adanya sinyal wahana asing yang masuk di perbatasan Ambalat.
Siang itu, dua pesawat buatan Rusia yang diawaki pilot Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Penerbang David Tamboto dan dua pilot Sukhoi take off dari Bandara Juwata Tarakan melakukan operasi patroli udara “Sandi Perisai Sakti 2015″.
Beberapa menit berpatroli di udara dengan melakukan beberapa manuver, pilot David mendapatkan informasi dari Satuan Radar (Satrada) Tarakan, bahwa dari layar Satradar tertangkap adanya sinyal wahana asing yang masuk di perbatasan Ambalat.
Label:
Kedaulatan Bangsa,
Pesawat Tempur,
TNI AU,
UAV
Kamis, 25 Desember 2014
Lapan Uji Coba Empat Pesawat Terbang Tanpa Awak
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional melakukan serangkaian uji coba Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) tipe Lapan Surveilance UAV (LSU) di Pampeungpeuk, Garut, Jawa Barat.
Uji terbang PTTA ini dilakukan pada 23 Desember 2014 dan dihadiri oleh sejumlah pejabat Lapan, TNI, Kemenhan, dan beberapa peneliti lainnya.
"Alhamdulillah, program LSU telah menunjukkan pencapaian yang bagus, dasar-dasar desain, manufaktur, juga operasi telah kita kuasai, langkah selanjutnya adalah membuat semuanya menjadi standar operasi yang diterima oleh pasar dan regulasi," ucap Kepala Pusat Teknologi Penerbangan, Gunawan S Prabowo melalui siaran pers yang diterima Liputan6.com, Rabu (24/12/2014).
Uji terbang PTTA ini dilakukan pada 23 Desember 2014 dan dihadiri oleh sejumlah pejabat Lapan, TNI, Kemenhan, dan beberapa peneliti lainnya.
![]() |
| Lapan Uji Coba Empat Pesawat Terbang Tanpa Awak |
"Alhamdulillah, program LSU telah menunjukkan pencapaian yang bagus, dasar-dasar desain, manufaktur, juga operasi telah kita kuasai, langkah selanjutnya adalah membuat semuanya menjadi standar operasi yang diterima oleh pasar dan regulasi," ucap Kepala Pusat Teknologi Penerbangan, Gunawan S Prabowo melalui siaran pers yang diterima Liputan6.com, Rabu (24/12/2014).
Label:
Industri Pertahanan,
Lapan,
Produk Nasional,
RISET,
UAV
Jumat, 28 November 2014
LAPAN Bikin Pesawat Tanpa Awak Untuk Pantau Maling Ikan Hingga Daerah Berbahaya
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengembangkan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Program bernama LAPAN Surveillance UAV (LSU) sudah menghasilkan 5 jenis pesawat tanpa awak yakni LSU 01, 02, 03, 04, dan 05.
Pesawat tanpa awak ini bisa dipakai untuk pemantauan daerah perbatasan, daerah bencana, daerah berbahaya, serta misi terbang jarak jauh.
"Fungsi bisa dipakai pemantauan atau surveillance seperti lahan pertanian, mitigasi bencana, maritim, tepi pantai," kata Kepala Bidang Teknologi Prokusi Puslitbang LAPAN, Bayu Utama kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).
Varian terbaru pesawat tanpa awak atau drone ini ialah LSU 05. Pesawat ini memiliki daya jelajah hingga 240 km dengan lama terbang 8 jam dan mampu membawa beban 30 kg. Pesawat ini memakai bahan bakar tipe Pertamax.
Pesawat tanpa awak ini bisa dipakai untuk pemantauan daerah perbatasan, daerah bencana, daerah berbahaya, serta misi terbang jarak jauh.
"Fungsi bisa dipakai pemantauan atau surveillance seperti lahan pertanian, mitigasi bencana, maritim, tepi pantai," kata Kepala Bidang Teknologi Prokusi Puslitbang LAPAN, Bayu Utama kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).
Varian terbaru pesawat tanpa awak atau drone ini ialah LSU 05. Pesawat ini memiliki daya jelajah hingga 240 km dengan lama terbang 8 jam dan mampu membawa beban 30 kg. Pesawat ini memakai bahan bakar tipe Pertamax.
Jumat, 14 November 2014
TNI Diperkuat Lima Drone Baru
Pertahanan militer Indonesia kini diperkuat oleh 5 pesawat tanpa awak atau Drone yang baru saja datang. Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyebut Drone tersebut merupakan impor dari luar negeri.
“Ada Drone baru yang baru datang kita. Import dari luar, ada 5,” ungkap Moeldoko di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (13/11/2014).
Meski begitu, Jenderal Bintang 4 itu belum mau menjelaskan dari mana asal Drone tersebut maupun spesifikasinya. Ia hanya memastikan, pesawat tanpa awak yang baru dimiliki TNI itu bukanlah buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang saat ini juga tengah memproduksi Drone bekerja sama dengan BPPT.
![]() |
| UAV Heron Australia saat operasi di Afghanistan (Photo: Australian Defence Force) |
“Ada Drone baru yang baru datang kita. Import dari luar, ada 5,” ungkap Moeldoko di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (13/11/2014).
Meski begitu, Jenderal Bintang 4 itu belum mau menjelaskan dari mana asal Drone tersebut maupun spesifikasinya. Ia hanya memastikan, pesawat tanpa awak yang baru dimiliki TNI itu bukanlah buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang saat ini juga tengah memproduksi Drone bekerja sama dengan BPPT.
Kamis, 04 September 2014
PT. DI Akan Rilis Tiga Drone Buatan Indonesia di Akhir Tahun 2014
Tiga unit drone yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kini tengah diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. Rencananya, tiga unit drone itu akan dirilis akhir tahun ini.
Hal itu disampaikan Direktur Pusat Teknologi industri Pertahanan Keamanan BPPT, Joko Purwono, Rabu (3/9/2014). “Sekarang masih dalam proses produksi di PTDI, dan rencananya dalam waktu dekat sudah selesai," kata Joko di ujung telepon.
Ketiga Drone itu diberi nama Wulung PA 08, 09 dan PA 10. Ketiganya dipersiapkan untuk tujuan pengawasan daerah perbatasan. Dengan kemampuan beroperasi hingga enam jam, pesawat nir awak ini mampu terbang dengan ketinggian 10 hingga 12 ribu meter.
Hal itu disampaikan Direktur Pusat Teknologi industri Pertahanan Keamanan BPPT, Joko Purwono, Rabu (3/9/2014). “Sekarang masih dalam proses produksi di PTDI, dan rencananya dalam waktu dekat sudah selesai," kata Joko di ujung telepon.
Ketiga Drone itu diberi nama Wulung PA 08, 09 dan PA 10. Ketiganya dipersiapkan untuk tujuan pengawasan daerah perbatasan. Dengan kemampuan beroperasi hingga enam jam, pesawat nir awak ini mampu terbang dengan ketinggian 10 hingga 12 ribu meter.
Label:
Drone,
Industri Pertahanan,
Produk Nasional,
PT DI,
UAV
Rabu, 03 September 2014
Pakar UAV Dunia Tawarkan "Drone" Garuda Khusus untuk Indonesia
Pakar UAV dunia menawarkan drone untuk mendukung visi presiden terpilih Joko Widodo. Penawaran tersebut dikatakan khusus untuk Indonesia.
Josaphat Tetuko Sri Sumantyo yang juga berasal dari Indonesia menawarkan drone bernama Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.
Drone tersebut adalah jenis stratosphere drone. Drone ini dirancang terbang di ketinggian 13-20 kilometer di atas permukaan laut sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil.
"Stratosphere drone ini saya propose khusus untuk Indonesia saja," kata Josh yang saat ini bekerja di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.
Josh telah memaparkan drone yang dikembangkannya kepada perwira di Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU pada 15 Agustus 2014 lalu di Jakarta.
Josaphat Tetuko Sri Sumantyo yang juga berasal dari Indonesia menawarkan drone bernama Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.
![]() |
| lustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda |
"Stratosphere drone ini saya propose khusus untuk Indonesia saja," kata Josh yang saat ini bekerja di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.
Josh telah memaparkan drone yang dikembangkannya kepada perwira di Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU pada 15 Agustus 2014 lalu di Jakarta.
Jumat, 22 Agustus 2014
Komentar Pakar UAV Dunia tentang Gagasan Jokowi Memakai "Drone"
Salah satu rencana presiden terpilih Joko Widodo adalah mengaplikasikan drone atau pesawat nirawak (UAV) untuk pemantauan. Rencana ini menuai reaksi positif dari banyak pihak. Namun, perencanaan tetap dibutuhkan.
Kompas.com menemui pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak. Baca: Josaphat Tetuko, Pakar Radar dan UAV Dunia Asal Indonesia.
Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh.
Kompas.com menemui pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak. Baca: Josaphat Tetuko, Pakar Radar dan UAV Dunia Asal Indonesia.
Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh.
Minggu, 17 Agustus 2014
Tak Perlu Impor, Indonesia Bisa Buat Drone Sendiri
Presiden terpilih Joko Widodo berniat mendatangkan drone atau pesawat terbang tanpa awak dari luar negeri. Namun, Kepala Staf Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), M Said Didu menilai rencana tersebut lebih baik dibatalkan karena industri dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia bisa membuatnya.
"Drone yang diinginkan Jokowi itu kan hanya pesawat untuk memantau. Itu mudah. Indonesia bisa membikinnya. Jadi, sebetulnya tidak perlu impor dari luar," kata Said.
Menurut Said, drone itu bukan pesawat yang begitu dahsyat. Universitas dalam negeri pun bisa melakukan riset-riset untuk pengembangan drone tersebut.
"Drone itu kan gampang. Itu orang-orang saja yang membesarkan dengan menyebut drone agar kelihatan keren, ibaratnya itu kan cuma pesawat mainan," ujarnya.
![]() |
| Drone Wulung |
"Drone yang diinginkan Jokowi itu kan hanya pesawat untuk memantau. Itu mudah. Indonesia bisa membikinnya. Jadi, sebetulnya tidak perlu impor dari luar," kata Said.
Menurut Said, drone itu bukan pesawat yang begitu dahsyat. Universitas dalam negeri pun bisa melakukan riset-riset untuk pengembangan drone tersebut.
"Drone itu kan gampang. Itu orang-orang saja yang membesarkan dengan menyebut drone agar kelihatan keren, ibaratnya itu kan cuma pesawat mainan," ujarnya.
Label:
Industri Pertahanan,
Produk Nasional,
UAV
Kemenhan: Indonesia Sudah Punya Enam "Drone"
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) meyakini industri pertahanan dalam negeri mampu membuat pesawat tanpa awak (drone) atau unmanned aerial vehicle (UAV) seperti yang disampaikan presiden terpilih Joko Widodo.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Sisriadi mengatakan, saat ini Kemenhan bahkan sudah memiliki program pengadaan pesawat tanpa awak.
"Sebenarnya kita sudah beli juga. Yang disampaikan (Jokowi) itu sudah ada. Juga kita punya program pengadaan pesawat tebang tanpa awak," kata Sisriadi di Jakarta, Minggu (17/8/2014).
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Sisriadi mengatakan, saat ini Kemenhan bahkan sudah memiliki program pengadaan pesawat tanpa awak.
"Sebenarnya kita sudah beli juga. Yang disampaikan (Jokowi) itu sudah ada. Juga kita punya program pengadaan pesawat tebang tanpa awak," kata Sisriadi di Jakarta, Minggu (17/8/2014).
Minggu, 29 Juni 2014
Hanya dalam Enam Bulan, Kalahkan Drone Wulung
PENELITI yang sehari-hari menjabat sebagai direktur Advanced Marine Vehicles Research Center di Universitas Surya tersebut memang sudah lama terobsesi pada dunia penerbangan. Berbekal pengetahuan dan pengalaman selama lebih dari 20 tahun di bidang penerbangan, doktor lulusan Universitas Nagoya, Jepang, tersebut membuka harapan baru bagi dunia kedirgantaraan dan militer Indonesia dengan menciptakan pesawat tanpa awak yang diberi nama Super Drone.
Berawal dari penunjukan dirinya sebagai penanggung jawab penelitian dan pembuatan drone oleh Universitas Surya yang bekerja sama dengan TNI-AD, Thombi lalu mengumpulkan sejumlah peneliti sebagai tim pembuat Super Drone. Jumlahnya tujuh orang dan semuanya merupakan pakar di bidang aeromodeling.
![]() |
| BUAH KERJA KERAS: Thombi Layukallo (kiri) bersama tim pembuat Super Drone saat akan uji coba di kawasan Batujajar, Bandung Barat. (Thombi Layukallo for Jawa Pos) |
Berawal dari penunjukan dirinya sebagai penanggung jawab penelitian dan pembuatan drone oleh Universitas Surya yang bekerja sama dengan TNI-AD, Thombi lalu mengumpulkan sejumlah peneliti sebagai tim pembuat Super Drone. Jumlahnya tujuh orang dan semuanya merupakan pakar di bidang aeromodeling.
Jumat, 27 Juni 2014
BPPT Targetkan Pembuatan Drone MALE Dalam Limat Tahun Kedepan
Drone atau pesawat nirawak untuk pengawasan, menjadi topik hangat beberapa hari lalu, saat menjadi bahasan debar capres sesi ketiga antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Tak hanya seru di debat, topik drone juga ramai dibicarakan di sosial media.
Sejauh ini kemampuan Indonesia untuk mengembangkan teknologi pesawat nirawak itu sudah berjalan. Pengembangan teknologi pesawat nirawak itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Kepala Program Pesawat Udara Nirawak (PUNA) BPPT, Joko Purwono, kepada VIVAnews, Senin malam, 25 Juni 2014 mengatakan institusinya sudah mengembangkan pesawat nirawak Wulung, yang tengah diproduksi, dan pesawat nirawak Sriti.
![]() |
| PUNA Wulung, pesawat nirawak Indonesia |
Sejauh ini kemampuan Indonesia untuk mengembangkan teknologi pesawat nirawak itu sudah berjalan. Pengembangan teknologi pesawat nirawak itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Kepala Program Pesawat Udara Nirawak (PUNA) BPPT, Joko Purwono, kepada VIVAnews, Senin malam, 25 Juni 2014 mengatakan institusinya sudah mengembangkan pesawat nirawak Wulung, yang tengah diproduksi, dan pesawat nirawak Sriti.
Langganan:
Postingan (Atom)
Berita Populer
-
Di Era tahun 60an TNI AU/AURI saat itu pernah memiliki kekuatan udara yang membuat banyak negara menjadi ‘ketar ketir’, khususnya negara-ne...
-
Pihak inteljen Kodam, sambung Hardiono, masih melakukan pendeteksian kebangkitan PKI di wilayah Jateng dan DIY. Pangdam menambahkan memang ...
-
Kalau dipikir-pikir, ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia. Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus m...
-
Serangan ke Lapas Cebongan menambah catatan hitam Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Sebelumnya pada tahun 1998, Kopassus juga disoro...
-
Penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta menggunakan senapan serbu AK-47. Diketahui anggota Kopassus ini baru saja berlatih di Gunung ...
-
TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pe...
-
Kejujuran 11 prajurit Kopassus mengakui kesalahan, menembak empat tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan Sleman, Yogyakarta, mendat...
-
10 Pesawat angkut Hercules type H 16 Pesawat tempur coin Super Tucano ( 4 sudah datang) 16 Pesawat latih Grob G120TP 6 Pesawat lati...
-
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berang dituding komisioner Komnas HAM tidak pernah bekerja dan terkesan hanya tidur dalam mengatasi ko...
-
Modernisasi militer terus diupayakan oleh pemerintah. Dalam waktu dekat, dua unit pesawat tempur jenis Sukhoi Generasi 4,5 akan tiba di Tan...















%2BWulung.jpg)


+bersama+tim+pembuat+Super+Drone+saat+akan+uji+coba+di+kawasan+Batujajar.jpg)

