Cari Artikel di Blog Ini

Selasa, 04 Agustus 2015

TNI AL Terima Tiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) Terbaru

Sebanyak tiga kapal cepat rudal (KCR-40) menambah koleksi alat tempur prajurit TNI AL. Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana TNI A Taufiq mengaku bangga saat menyerahkan ketiga kapal bikinan dalam negeri itu, ke Mako Lantamal IV Batu Hitam Tanjungpinang

TNI AL Terima Tiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) Terbaru

“Tiga kapal perang KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 ini buatan anak-anak dalam negeri,” ujar Taufiq usai upacara penyerahan tunggul masing-masing KRI, kepada ketiga komandan KRI melalui keterangan resminya, Sabtu (1/8/2015).

Taufiq menambahkan, ketiga KCR-40 itu sangat cocok untuk dioperasionalkan di perairan wilayah barat yang kondisi lautnya relatif dangkal serta mempunyai gugusan pulau yang banyak. Sebab itu, ia berharap kapal tersebut memiliki daya pukul.

“Ketiga kapal juga memiliki persenjataan antara lain meriam kaliber 20 mm, meriam 12,7mm dan senjata andalan yaitu Rudal C-705,” imbuhnya.


Tiga KCR-40 produksi PT Palindo Marine Shipyard, Batam itu nantinya bakal bergabung serta memperkuat Satuan Kapal Cepat (Satkat) Armada Barat yang berpangkalan di Mentigi Tanjung Uban Kepulauan Riau.

Taufiq juga meminta prajuritnya untuk dapat menumbuhkan kebanggan atas kepercayaan menggunakan alutsista terbaru itu.

”Kalian tumbuhkan kebanggaan karena anda merupakan prajurit pilihan yang dipercayakan untuk mengawaki alutsista ini,” pungkasnya.

Filosofi Penamaan


Panglima Komando Armada Barat (Pangarmabar), Laksamana TNI, A Taufiq menjelaskan asal-usul penamaan tiga kapal cepat rudal (KCR-40) yang dimiliki TNI AL, yakni KRI Surik-645, KRI Siwar-646, dan KRI Parang-647.

Surik, kata Taufiq, merupakan pedang tradisional dari Pulau Timor. Bagi masyarakat Belu, Nusa Tenggara Timur, pedang surik adalah pedang sakti. Meski demikian, kesaktian pedang tersebut juga bergantung kepada orang yang memegangnya.

“Jadi tidak sembarang orang boleh memegang surik. Oleh karena itu sebelum turun perang, masyarakat berembuk menentukan siapa yang pegang. Pedang surik juga dijadikan tarian khas Timor yang bernama tari Surik Laleok yang menggambarkan kepahlawanan adat setempat,” ujar Taufik dalam keterangan persnya kepada Okezone, Sabtu (1/8/2015).

Lalu, Siwar adalah senjata tusuk genggam yang berasal dari Sumatra Selatan, memiliki bentuk menyerupai golok panjang dengan tajaman di salah satu sisi bilahnya. Senjata ini mampu memotong kulit, kayu, bahkan batu yang keras dalam sekali ayunan, selain itu Siwar juga memegang kedudukan yang penting bagi pemegangnya, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai alat untuk mempertahankan diri, melainkan juga sebagai benda keramat yang memiliki strata tertentu, dan kekuatan magis.

“Senjata unik dari Sumatera Selatan ini diabadikan sebagai sebuah nama kapal KRI Siwar-646 dengan harapan seluruh prajurit KRI Siwar-646 mampu menyelesaikan masalah dengan baik, cepat dan tajam serta menerapkan nilai keindahan, ketekunan, ketelitihan dan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Sementara Parang adalah salah satu senjata tajam yang terbuat dari besi dan ukurannya bervariasi, bentuknya sederhana tanpa pernak pernik. Parang di gunakan turun temurun oleh masyarakat Indonesia guna mendukung kehidupan sehari-hari yaitu di gunakan sebagai alat potong atau alat tebas.

Dalam sejarah peperangan rakyat Indonesia untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, rakyat Indonesia menggunakan Parang sebagai salah satu senjata selain bambu runcing.

“Penggunaan nama KRI Parang-647 bertujuan agar seluruh prajurit KRI Parang-647 dapat menghayati dan meresapi nilai-nilai kesetiaan dan keberanian yang di tunjukan oleh para pahlawan nasional tersebut,” pungkasnya. (Okezone)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters