Cari Artikel di Blog Ini

Sabtu, 02 November 2013

Soal Modernisasi Alutsista Jakarta Semakin Merapat ke Moskow

Jakarta merapat ke Moskow. Jet tempur Sukhoi seri terbaru bakal meraung di langit Indonesia. Bukan hanya di awang tapi juga di tanah. Kendaraan tempur dan rudal juga bakal dibeli dari sana. Indonesia dan Negeri Beruang Merah itu juga bakal bekerjasama. Dalam banyak soal.


Negeri kita memang pasar yang subur. Dan itulah sebabnya, dalam dekade terakhir, Rusia rajin menyambangi pameran pertahanan Indonesia. Mereka juga rajin hadir pada pameran dirgantara.

Meski sudah masuk dalam kelompok elit G20, Indonesia dipandang belum memiliki alutsista yang memadai. Dalam pameran Indo Defence, Indo Aerospace and Indo Marine Expo & Forum, yang rutin berlangsung di Kemayoran, Jakarta, delegasi Rusia selalu menjadi penghuni anjungan yang luas.


Mereka memamerkan rupa-rupa model persenjataan. Dari prototipe pesawat tempur, helikopter militer, radar, hingga senapan serbunya yang sudah mendunia, Kalashnikov (AK).

Pada setiap pameran dua tahunan itu, terakhir pada awal November 2012, anjungan Rusia selalu ramai dikunjungi. Dari  warga biasa hingga para petinggi militer. Pameran itu menghadirkan 500 peserta dari 40 negara. Dikunjungi 20.000 orang.

Seperti di pameran-pameran sebelumnya, produk-produk senjata Rusia di Indo Defence 2012 banyak disanjung.  Saat mengunjungi pameran itu, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Marsetio, terkesan akan ketangguhan mesin-mesin perang dari Negeri Beruang Merah.

Dia menegaskan bahwa tank amfibi buatan Rusia, PT-76, sampai kini masih dipakai oleh TNI. Padahal usianya sudah 50 tahun. "PT-76 ini masih kami pakai sejak 1962," kata Laksamana Marsetio, yang sejak Desember 2012 naik jabatan menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut.

Pertama kali diproduksi pada awal dekade 1950an, PT-76 menjadi tank ringan amfibi standar bagi militer Uni Soviet dan negara-negara anggota Pakta Warsawa. Menurut laman Main Battle Tanks, PT-76 dipakai 25 negara.

TNI masih memakai tank ini, seperti diungkapkan Laksamana Marsetio. Di jajaran TNI Angkatan Laut, PT-76 merupakan aset yang dipakai oleh Korps Marinir, spesialis operasi militer dari laut ke darat.

Di dunia internasional, digunakan pada berbagai perang besar - seperti Perang Vietnam dan Perang Arab-Israel.  PT-76 diakui kalangan pengamat sebagai tank amfibi yang populer karena memiliki desain yang sederhana. Efektif.  Mampu dipakai di medan-medan berat.

Itulah sebabnya PT-76 menjadi salah satu simbol sukses Soviet, dan kini Rusia, dalam memproduksi tank maupun kendaraan lapis baja. Selain itu masih ada tank-tank tempur legendaris lain era Soviet, seperti T-62 dan T-72.

Ingin meneruskan kejayaan Soviet, Rusia pun gencar memproduksi kendaraan-kendaraan lapis baja baru. Salah satu andalan mereka saat ini adalah kendaraan tempur (ranpur) BMP3. Ini merupakan ranpur amfibi yang bergerak lebih lincah dari tank-tank terdahulu dan mampu mengangkut hingga tujuh personel serta bisa dikendalikan tiga orang.

Keunggulan itulah yang membuat Indonesia memperkuat militernya dengan membeli kendaraan tempur BMP3 seri F. Dibuat oleh perusahaan Kurganmashzavod, Indonesia telah memiliki 17 unit BMP3-F pada 2008 dan berencana menambah 37 unit lagi untuk memperkuat Satuan Marinir TNI-AL.

Seorang prajurit Marinir TNI-AL, Guntur Pasaribu, mengungkapkan kelebihan BMP-3F. "Korps Marinir Indonesia sangat berpengalaman mengendalikan tank-tank buatan Rusia, mulai dari PT-76 sampai BMP-3F. Menurut pengalaman kami, tank-tank dari Rusia sangat memuaskan," kata Pasaribu seperti dikutip media Rusia, RBTH.

Alternatif AS

Bukan cuma soal alat tempur, Indonesia dan Rusia juga bekerjasama dalam latihan militer. Juga membangun  proyek patungan alutsista. Dan sesungguhnya, kerjasama kedua negara bukan hal baru.

Ketika masih berbentuk Uni Soviet (USSR), Rusia sudah menjual persenjataan ke Indonesia, tidak lama setelah kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1950. Pada masa-masa awal itu, banyak pula personel angkatan laut dan udara dikirim ke Uni Soviet. Mereka sekolah di sana.

Hubungan itu terganggu pertengahan dekade 1960an karena alasan politis. Kedua negara kembali melanjutkan hubungan di awal dekade 1990an, meski baru efektif beberapa tahun kemudian. Contohnya, pembicaraan soal jual-beli jet tempur Rusia Sukhoi-30 ke Indonesia berlangsung sejak 1997. Namun jual-beli itu baru disepakati pada 2003.

Hubungan itu kembali terajut, setelah renggangnya Indonesia dengan Amerika Serikat di akhir dekade 1990an. Kerenggangan itu muncul setelah Washington menjatuhkan embargo penjualan senjata ke Jakarta karena menilai Indonesia saat itu melanggar Hak Asasi Manusia di Timor Timur, yang kini bernama Timor Leste sejak menjadi negara berdaulat pada 2002.

Embargo senjata AS ke RI itu, berikut suku cadang, berlangsung selama 1999-2005. AS mengakhiri embargo ketika Presidennya saat itu, George W Bush, menganggap Indonesia termasuk mitra penting memerangi terorisme.

Setelah mencabut embargo, AS pun terlihat aktif menawarkan mesin-mesin perangnya kepada Indonesia. Pada 2011, AS sepakat mengirim 24 unit jet tempur bekas tipe F-16 seri C/D blok 25 kepada Indonesia secara cuma-cuma, kecuali untuk biaya pemutakhiran (upgrade).

Pada akhir 2012, AS dan Indonesia berunding untuk jual-beli helikopter serbaguna UH-60 Black Hawk dan helikopter tempur AH-60D buatan Boeing.  

Namun, belajar dari embargo AS itu, Indonesia membuka pintu kerjasama seluas-luasnya kepada negara lain, termasuk Rusia, agar tidak lagi bergantung kepada satu pihak dalam pengadaan alutsista. Maka, sejak itu, Indonesia tidak hanya kembali berbisnis senjata dengan AS, namun juga mempererat kerjasama serupa dengan Rusia.

Maka, Indonesia dan Rusia bersepakat soal jual beli jet tempur dan mesin-mesin perang lain. Sejak 2003, Rusia telah mengirim 12 unit jet tempur Sukhoi ke Indonesia dan pengiriman empat unit lagi masih menunggu persetujuan lebih lanjut.

Moskow pun telah menjual sejumlah helikopter militer Mi-35 dan Mi-17 kepada Jakarta. Alutsista lain yang dijual Rusia ke Indonesia adalah kendaraan tempur lapis baja BMP-3F, kendaraan pengangkut personel BTR-80A, serta senapan serbu AK-102.

Untuk membeli persenjataan itu, Moskow pada 2007 memberi fasilitas kredit sebesar US$1 miliar kepada Jakarta. Kerjasama pertahanan di luar jual-beli persenjataan juga telah berlangsung, seperti menggelar latihan bersama memerangi perompak di laut antara pasukan Indonesia dengan Rusia pada 2011.

Baru-baru ini pun Rusia menawarkan bantuan ke Indonesia membangun sistem pertahanan udara. Saat ini, Indonesia hanya memiliki rudal-rudal pertahanan SAM (surface-to-air missile) jarak dekat.

Viktor Komardin dari perusahaan ekspor senjata-senjata Rusia, Rosoboronexport, mengungkapkan bahwa Moskow akan menjual perangkat sistem SAM sekaligus membantu Indonesia bila tertarik mempersiapkan jaringan pertahanan udara.

Malaysia, katanya, sudah membentuk suatu sistem pertahanan udara terintegrasi. "Tapi Indonesia belum memilikinya. Padahal sistem pertahanan ini penting dimiliki Indonesia," lanjut Komardin seperti dikutip kantor berita Russian Beyond the Headlines. 

Alih Teknologi

Namun kerjasama ini tidak berlangsung sangat mulus. Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Sisriadi, mengatakan kerjasama pertahanan antara RI dengan Rusia masih terbentur pada adanya alih teknologi yang harus menyertai setiap pembelian alutsista dari sana.  Keharusan itu termuat dalam UU No. 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan.

Dalam UU itu tertulis setiap pembelian sistem senjata dari luar negeri, wajib ada konten lokal. Bentuknya, antara lain pelatihan, kerja sama pembuatan, dan kerja sama operasi. Hal itu diungkap Sisriadi, ketika dihubungi VIVAnews, Jumat 1 November 2013.

"Setelah adanya UU Industri Pertahanan No. 16 Tahun 2012 itu, maka kami mengganti format pertemuan bilateral yang selalu dilakukan setiap tahun dengan  Rusia. Kami menyampaikan kepada mereka bahwa pembelian produk alutsista dari negara mana pun harus disertai alih pengetahuan dan teknologi," ungkap Sisriadi.

Hingga saat ini, lanjut Sisriadi, pihak Rusia masih belum dapat memenuhi inisiatif tersebut. Kendati begitu, pihak Kemhan tidak lantas menghentikan kerjasama pertahanan dengan Negeri Beruang Merah. "Kami masih akan terus mendorong Rusia supaya alih teknologi itu dilakukan,”katanya.

Proses negosiasi itu, lanjutnya, sangat alot, karena mereka ngotot tidak dapat memenuhi inisiatif RI. Rusia sendiri, ujar Sisriadi, tidak mengungkapkan secara gamblang alasan di balik penolakan mereka melakukan alih teknologi.

"Kemhan juga tidak tahu alasannya. Karena mereka tidak mengemukakan alasannya. Tiap kali kami tanyakan, mereka malah kembali membahas pinjaman yang ditawarkan Rusia kepada Indonesia," katanya.

Pinjaman negara yang dimaksud Sisriadi adalah dana pinjaman yang ditawarkan Pemerintah Rusia untuk membeli peralatan alutsista dari mereka. Nominalnya mencapai US$1 miliar atau Rp11 triliun.  Namun, kata Sisriadi, dalam ada ketentuan, disebutkan bahwa pinjaman hanya dapat membeli produk alutsista tertentu. “Mereka juga menyertakan daftar belanja alutsista apa saja yang dapat kami beli,” ujarnya.

Dana pinjaman itu merupakan bagian dari kesepakatan kerjasama pertahanan yang diteken oleh kedua Pemerintah sejak delapan tahun silam. Kedua pucuk pimpinan yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Vladimir Putin telah menyepakati adanya dana pinjaman tersebut.

Dari dana yang ditawarkan senilai US$1 miliar, Kemhan baru menggunakan sebagian dari dana tersebut untuk membeli pesawat jet tempur Sukhoi, helikopter MI-17 dan MI-31 serta tank BMP-3F. Totalnya mencapai US$308 juta atau Rp3,4 triliun.

Pesawat Sukhoi yang dibeli menggunakan dana pinjaman ini, merupakan pesawat yang dikirimkan pada gelombang awal ke Indnesia. "Jadi bukan pesawat Sukhoi baru yang dikirim pada September lalu ya. Kami membeli itu menggunakan dana pinjaman dari bank swasta," ujarnya.

Total ada lima pesawat Sukhoi SU-27 SKM yang baru dikirim pada September lalu dibeli dengan harga US$470 juta atau Rp5,2 triliun. Kontraknya ditandatangani oleh Kepala Baranahan Kemhan dengan  Rosoboronexport Rusia pada tanggal 29 Desember 2011 silam.

Lima pesawat jet tempur ini akan melengkapi 11 pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 yang sudah terlebih dahulu tiba di Indonesia dan berjumlah 11 unit.

Maka total pesawat Sukhoi yang dimiliki telah mencapai 16 unit atau satu skuadron. Sementara untuk harga helikopter MI-17 dan MI-31, Sisriadi, tidak menyebutkan harganya.

Ditanya VIVAnews apakah ada alutsista lainnya yang masih berniat dibeli dari Rusia, Sisriadi menyebut hingga kini Kemhan masih belum ingin menggunakan sisa dana yang ada untuk membeli alutsista lainnya. Mereka tidak ingin melanggar UU yang berlaku.

Soal keunggulan pesawat jet tempur Sukhoi dari Rusia, Sisriadi menyebut burung besi itu memiliki sistem sensor yang baik. "Endurance atau jangkauan operasional jauhnya pun juga hebat sehingga bisa dioperasikan untuk jarak jauh dan bisa kembali lagi. Selain itu sistem avionik yang dimiliki Sukhoi juga bagus. Pesawat ini lincah di kelasnya, " papar Sisriadi.

Ke depan, lanjut Sisriadi, untuk alutsista pesawat Sukhoi dirasa  sudah cukup. Pesawat tempur itu akan dicampur dengan F-16 yang juga sudah ada.

Sisriadi mengatakan pelajaran lain dari peristiwa embargo yang dipetik Kemhan yakni jangan bertumpu kepada satu negara saja dalam mengandalkan pembelian alutsista. Jadi ketika diembargo, masih ada alutsista lain yang dapat digunakan.  (VivaNews)

14 komentar:

  1. 16 sukhoi + 24 f-16 cukup, edan jg tentara kita, singapura yg segitu aja negaranya pesawatnya kaya kacang goreng mau amanin pake apa kl perang, nyuru ki joko bodo kali yah ato ki gendeng pamungkas...

    BalasHapus
  2. Indonesia negara besar seharusnya kekuatan militer seimbang sama USA,RUSIA , CINA dan INDIA, bukan seimbang sama negara sekelas Malaysia ataupun Singapura....

    BalasHapus
  3. ya seharusnya kita membandingkan kekuatan kita dengan negara seperti AS, Rusia, China dan India,,tapi memang itu butuh waktu,,dan akan segera menuju kesana jika kita konsisten mendukung modernisasi dan pengembangan teknologi olh BUMN...maju terus indonesiaku,,kami mendukung penuh!!

    BalasHapus
  4. betul sodara agung. indonesia sebagai negara besar harus mempunyai militer sekelas US, RUSSIA, CHINA, INDIA DAN INGGRIS. negara akan di pandang sebagai negara besar kalau militernya besar juga. saya harap Indonesia untuk pembelian alutsista condonglah ke rusia dan china yg tanpa syarat muatan politik dan embargo. ingatlah kita pernah di embargo amerika dan inggris. MAJULAH NKRI JAYALAH NEGARAKU JADILAH NEGARA KUAT DAN PEMBELA NEGARA SAHABAT ISLAM

    BalasHapus
  5. mengamati situasi dunia 10thn terakhir,dephan tentunya sdh mempelajari dan menimbang dari semua sisi tentang pengadaan alutsista,mulai dari anggaran sampe tingkat ancaman kedaulatan,pengadaan alutsista saat ini cm sebatas menjaga wilayah kedaulatan nkri bkn untuk siaga perang..jika alasannya adalah krn khawatir ancaman kekuatan militer negara tetangga atau utk mengimbangi peralatan tempur negara tetangga,saya rasa kita terlalu paranoid..
    pertanyaannya negara jiran yg mana yg mengancam indonesia?atau negeri jiran yang mana yg ada indikasi ingin menginvasi indonesia?
    Mari kita bicara fakta,apa yg terjadi jk negara dgn membabi buta membeli peralatan perang?
    Inilah yg mungkin akan terjadi..
    1. menimbulkan kecurigaan negara lain jk indonesia lah yg menjadi ancaman sebenarnyat
    2,negara2 luarpun mulai agresif menyebar mata2 ke negri ini,jk perlu masuk ke jantung pertahanan(mengetahui kekuatan dan kelemahan militer kita)
    3.mereka pasti secara "diam2" membeli peralatan tempur yg jauh lbh hebat dr kita(kita tdk menyadari jk mereka sdh siap menunggu langkah gegabah kita)
    4.kita akan berada dilingkaran setan krn sdh mengundang dtgnya amerika(sekutu singapura),inggris,australia,new zealand(sekutu malaysia) untuk mengamati atau jk perlu menindak lanjuti atas agresifitas militer indonesia
    (bs embargo/invasi)

    Apa yg hrs kita lakukan jk itu bnr2 terjadi?
    Ok,skrg Mari kita mulai berfikir yg jernih

    BalasHapus
  6. Pengadaan Alutsista secara besar-besaran oleh RI adalah hal yg sangat rasional untuk dilakukan. Secara teknologi militer Indonesia termasuk tertinggal. Bahkan kemampuan industri militernya masih dibawah Singapura. Maka dengan alasan apapun, Negara sebesar RI harus mampu menunjukkan taringnya dihadapan negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Terlebih pendapatan kita telah melampaui 1.600 triliyun, maka dirasa masih sangat kurang jika anggaran untuk militer hanya 1%. Karena idealnya Anggaran Militer itu adalah 2,5% dari APBN. Mungkin 2025 nanti anggaran militer kita dapat menembus angka itu, dan militer kita akan benar-benar besar. Namun itu semua bukan berarti membabi buta membeli Alutsista.
    Strategi bertahan/Defence RI sebenarnya mulai diubah menjadi strategi menyerang/offence. Dahulu kita hanya mengandalkan strategi "pancing umpan". Dimana musuh ditarik ke wilayah kita, kemudian kita gepruk secara bersama-sama. Hal ini dapat anda lihat dari berbagai latihan militer TNI, dimana disitu diskenariokan bahwa wilayah kedaulatan RI tengah di kuasai musuh dan kemudian TNI secara terpadu menyerang wilayah itu untuk merebut kembali wilayah itu. Namun dengan pembelian rudal-rudal jarak jauh dapat kita lihat perubahan strategi itu. Anda tentu masih ingat latihan AL TNI yg menembakan rudal Yankhot ke sasaran KRI Teluk Bayur 502. Latihan itu menunjukan sejatinya strategi pertahanan kita telah berubah menjadi offence, dimana TNI tidak akan menunggu musuh masuk ke wilayah NKRI. Kemudian dengan pembelian ASTROS II dari Brazil, penempatan MBT Leopard di daratan Kalimantan dan Timor, serta penempatan skuadron sukhoi di Makasar, menunjukkan perubahan strategi pertahanan kita. Belum lagi rencana pembangunan Kapal Induk Helikopter, pengadaan 50 IFX, dan pengadaan Kapal Selam.
    Mungkin Indonesia memang tidak memiliki musuh, tapi jangan lupa juga kalo Indonesia tidak memiliki sekutu militer. Bayangkan jika suatu ketika terjadi gesekan militar dengan negara Malaysia, maka jika alutsista kita tidak siap, kita pasti jadi cecunguk lagi. Malaysia memang bukan ancaman karena kualitas militer mereka dibawah Indonesia, namun mereka mempunyai sekutu militer Australia dan Inggris yang bisa datang kapan saja jika Malaysia konfrontasi dg Indonesia. Australia dan Inggris memiliki sejarah berperang melawan grilya Indonesia di Kalimantan. Pada saat itu kita harus mengakui kekalahan kita. Sehebat-hebatnya Singapura, mereka tidak akan berani menyerang Indonesia secara langsung. Karena wilayah mereka berada dalam jangkauan Rudal Indonesia. Jadi pengadaan alutsista secara besar-besaran adalah kebutuhan, bukan paranoid.
    Tahukah anda perihal sekutu tadi, ternyata kebanyakan dari pengkirtik kebijakan pengadaan Alutsista RI tadi tidak tahu kalo kita dari dulu sudah dalam lingkaran setan AS. Sekutu-sekutu AS telah lama mengepung RI dan memata-matai RI, karena dimata mereka kita itu seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dianggap bisa menyerang kepentingan AS (seperti era Sukarno). Negara sekutu AS yaitu : Singapura, Australia, Filipina, dan ada lagi FPDA (Inggris, Selandia Baru, Australia, Malaysia, Singapura). Jika kita perang dengan Malaysia, artinya kita perang lawan FPDA.. Jika kita perang dengan FPDA, artinya Inggris bakal minta bantuan NATO. Matilah kita jika alutsista kita kuno.
    Maka pantaskah kita meragukan kebijakan di bidang Pertahanan RI ini? Dampak dari pengadaan Alutsista secara besar-besaran pun telah dirasakan oleh Indonesia, yaitu semakin terhormatnya posisi Indonesia dimata dunia.

    BalasHapus
  7. seperti yg saya uraikan di atas bhw kebijakan pengadaan alutsista bkn krn negara dlm keadaan bahaya perang tp lbh drpd utk menjaga setiap jengkal wilayah nkri,pemerintah dan mayoritas pengamat sepakat bhw 20 tahun kedepan tdk akan ada peperangan diwilayah asean..utk peta kekuatan militer secara personil mungkin kita terbesar di asean tp utk alutsista kita sdh pasti tertinggal dari malaysia,tp sekali lg itu bkn alasan pembenaran utk kita membeli alutsista besar2an,pengadaan alutsista skrg sdh tepat tdk terlalu manunjukkan jika kita show of force.tdk seperti keinginan byk komentator yg berharap pemerintah membeli lg sukhoi su 35bm utk bbrp skuadron,ditmbh lg rudal s 300 dll,kapal selam kilo clas dll,yg menurut saya terlalu berlebihan..pemerintah dan dephan tahu apa yg mesti mereka lakukan,mereka membuat keputusan sdh dengan pertimbangan yg matang.
    Yg penting utk negara lakukan adlh menjaga stabilitas sesama negara asean,selama ini dimata dunia asean sangat baik menjaga hubungan antar sesama negara asean apalg indonesia dianggap saudara tua di asean,dan ini perlu kita pelihara agar gesekan2 kecil bs diselesaikan dgn cara musyawarah dan elegan,krn itulah tujuan asean dibentuk!

    BalasHapus
  8. Sepakat klo untuk masalah kedamaian di wilayah regional ASEAN. Tapi seperti telah saya sebutkan diatas bahwa Indonesia telah dari dulu berada dalam lingkaran setan AS. Saya menyebutkan Sekutu-sekutu AS telah lama mengepung RI dan memata-matai RI, karena dimata mereka kita itu seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dianggap bisa menyerang kepentingan AS (seperti era Sukarno). Dan itu kemudian dimuat dalam artikel Admin hari ini (Link : http://strategi-militer.blogspot.com/2013/11/penyadapan-amerika-di-indonesia-sudah.html). Maka peningkatan anggaran dan pengadaan Alutsista secara besar-besaran itu perlu agar Indonesia tidak diremehkan oleh bangsa lain. Ketika Alutsista kita impotensi seperti tahun 1998-2007, Malaysia dengan provokasinya mengusik Ambalat bahkan merebut Sipadan dan Ligitan, belum lagi ketika pesawat F16 kita di "kunci" oleh F18 AS. Sekarang jika kita mencari info tentang Ambalat, maka yg ada adalah berita tentang ketenangan di Ambalat. Maka istilah "Jika ingin damai maka harus siap perang" pun terbukti disini. Dan tidak ada ruginya sama sekali kita memperkuat Alutsista secara besar-besaran. Lagian peduli amat dengan pendapat negara tetangga, yang tidak memberi kesejahteraan untuk Indonesia. Bukankah mereka juga memperkuat armada perang mereka ketika Indonesia Keok? bukankah mereka juga membeli alutsista secara besar-besaran ketika Indonesia keok? Malah ketika mereka kuat, mereka memprovokasi Indonesia. Lantas kenapa ketika Indonesia memperkuat Alutsistanya malah dianggap berlebihan? Ayolah bung.. Realistis lah..

    BalasHapus
  9. Setuju dgn Brother Bondan.... Masa Bodoh dgn Tetangga, kita ya kita, mau demam, mau gelisah, ya syukur z deh...Tidak ada Jaminan Tidak perang, Peace means Our Weapon is bigger,
    Jadi no.1 s/d 5 Terkuat di Dunia pun sangat Wajar bagi Indonesia, untuk menjaga Kekayaan Alam NKRI,
    Buang Paradigma OON ..gimana tetangga, gimana kalo memicu perlombaan senjata, Sampe Tahun Gajah pun PERLOMBAAN SENJATA akan tetap ada. Memiliki 100 Skuadron kelas Pak Fa pun ga seberapa nilainya di Banding Nilai yg disedot Freeport., ironis. masih memiliki paradigma kerdil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju sekali..negara sebesar ini memang seharusnya memiliki alutsista yg layak untuk menjaga kedaulatan,,mengapa kita hrs byk menimbang rasa dg tetangga ? kita hrs bicara logika dan cakap berhitung...klo cuma sungkan yg dipakai tamatlah riwayat NKRI..setiap saat musuh akan dtg menyerang.waspadalah...waspadalah,segera perkuat dg s-300,pantsir,dan pesawat F-35 dijamin musuh berfikir 1000 X

      Hapus
  10. SEPAKAT BRO !!!, Diawal kita nempel dulu ke negeri beruang atau Panda, Jangan beli ke Paman Sam atau israel deh, ntar Alutsistanya ditempelin alat atau pelacak sehingga ntar bisa rusak sendiri ato jatuh sendiri dah...No body Knows, abis licik banget sih ama temen aja tega disadapin. Tapi True Spiritnya adalah pembangunan kemandirian beralutsista, tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan tekhnologi suatu bangsa salah tolak ukurnya adalah dalam kemampuan memproduksi alutsista yang canggih, kita ngetes roket untuk meluncurkan satelit aja tetangga udah pada gerah, karena sedikit banget efort untuk merubah roket menjadi rudal balistik. kalo arm race mah emang dari jaman bahelak bakal ada terus, karena siapapun pasti pengin jadi pemenang dan berkuasa itu sudah fitrah manusia. yang harus dihindarkan adalah andaikan ada dua gajah bertarung jangan sampe kita menjadi pelanduk yang mati terinjak-injak. Oke Brooo...

    BalasHapus
  11. kita minum duluuuu..!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  12. intinya begini klu negara ini mau di perhitungkan harus mempunyai pertahanan yg kuat,tanpa alutsista yg kuat negara ini tdk akan pernah berpengaruh terhadap negara asing.bahkan tekanan terus ada.

    BalasHapus

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters