Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 24 Januari 2013

Pilihan Tunguska atau Pantsyr Untuk Perkuat Payung Udara NKRI

Pantsir-S short-range air defense system
Pantsir-S short-range air defense system (all images JKGR)

Sekilat Perang Yom Kippur 1973

Peperangan Yom Kippur antara Israel dan Mesir bisa memberi gambaran betapa pentingnya rudal pertahanan bagi satuan lapis baja.

Pagi  6 Oktober 1973, setelah Brigade lapis baja Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez dan menyapu pasukan Israel di pos terdepan, Angkatan Udara Israel langsung mengudara memburu satuan lapis baja Mesir.  Mereka tidak sadar rudal anti-udara Mesir sudah menunggu di belakang satuan Lapis baja. Ratusan pesawat Israel yang melakukan penyerbuan rontok dimakan SAM Mesir.



Perang Yom Kippur 1973
Perang Yom Kippur 1973
Kesalahan Mesir adalah, payung udara ini tidak terus bergerak bersama dengan satuan lapis baja yang terus melaju ke depan.  Akhirnya Israel menemukan celah untuk melakukan serangan balik, mengisolasi satuan lapis baja yang sudah menyeberangi terusan Suez dan melakukan penghancuran.

Pilih Tunguska Atau Pantsyr

TNI AD pun mulai mencari sistem persenjataan anti-udara yang bisa melindungi kendaraan lapis baja saat bergerak di medan pertempuran. Untuk itu Tunguska M1 Anti-Aircraft System milik Rusia (NATO SA-19 Grison) mulai dilirik.

Tunguska M1 merupakan sistem senjata dan rudal, untuk pertahanan udara low level, baik untuk pesawat terbang, helikopter maupaun sasaran darat. Kelebihannya, persenjataan ini bisa membidik targetnya baik dalam keadaan diam maupun saat bergerak, dilengkapi  rudal jarak jauh serta senjata mesin, untuk pertahanan jarak dekat. Tunguska sudah digunakan Angkatan darat Rusia sejak tahun 1998 dan telah diekspor ke Jerman, India, Peru, Maroko dan Ukraina.

Tunguska M1
Tunguska M1
 
Dengan kecepatan maksimum 900 meter/second, rudal ini mampu membidik sasaran darat 15  meter hingga 6 km untuk sasaran darat dan 6 hingga 15 km untuk sasaran udara.  Tunguska juga dilengkapi dengan dua twin-barrel 30mm anti-aircraft guns yang bisa menyemburkan peluru 5000 butir per menit dengan jarak 3 km untuk sasaran udara. Untuk sasaran udara bisa mencapai 4 km.

Radar Tunguska mampu menjejak musuh dikejauhan 18 km dan mulai bisa tracking di jarak 16 km.

Pantsyr S1
Pilihan lainnya adalah senjata sistem pertahanan udara jarak dekat Pantsyr-S 1 (SA-22 Greyhound). Senjata ini lebih maut  untuk menangkis berbagai jenis senjata: pesawat tempur, helikopter, roket, peluru kendali, precision-guided munition hingga unmanned air vehicles. Pantsyr juga bisa menghantam  light-armoured ground targets.


Pantsyr S-1 (tracked)
Pantsyr S-1 (tracked)

Produsen pantsyr S1 sama dengan Tunguska M1, didisain oleh  KBP Instrument Design Bureau, di  Tula dan dirakit oleh Ulyanovsk Mechanical Plant, Ulyanovsk, Rusia. Pantsyr diyakini lebih akurat dibandingkan Tunguska M1, karenasistemnya pun lebih baru.  Sistem pertahanan dan persenjataannya dapat diaktifkan dalam beberapa mode frekuensi dan beroperasi pada multimode adaptive radar-optical control system

Pantsyr didisain untuk menghadapi semua tipe target, khususnya high-precision weapons. Pantsyr ini dioperasikan oleh Uni Emirate Arab sejak tahun 2007.  Suriah menerima sekitar 50 pantsyr  pada tahun 2008. Jordiania juga memesannya dengan jumlah yang dirahasiakan.

Pantsyr-S1 mengusung 12 rudal 57E6 permukaan-ke-udara dengan hulu ledak  16 kg. Rudal ini memiliki berat 65kg dan memiliki kecepatan maksimum 1,1 km/ detik dengan daya jangkau 1 hingga 12 km.

Dua laras  senjata 2A72 30mm dilengkapi dengan ratusan peluru dari berbagai amunisi (HE (high-explosive) fragmentation, fragmentation tracer and armour-piercing with tracer). Maximum rate of fire  2500 peluru/  menit per-laras dengan jangkauan mencapai 4 km.

Jarak deteksi sasaran 30 km dan tracking 30km. Air defence system ini mampu menjejak benda sebesar  2cm² hingga 3cm²  untuk target sejauh 24 km. Radar Pantsyr dapat menjejak rudal yang sedang dalam perjalannaya menuju sasaran.

Rudal ini dipasang di truk The Ural-5323 truck  8×8 atau di kendaraan lapis baja (tracked).

Ada baiknya yang dipilih adalah Pantsyr yang menggunakan platform tank (roda rantai/ tracked) agar bisa mengikuti pergerakan MBT Leopard/ IFV Marder serta lapis baja kavaleri lainnya.

Pantysr Chasis Ural Truck 8×8
Pantysr Chasis Ural Truck 8×8
 
Kasus perang Yom Kippur 1973 menunjukkan, satuan pertahanan udara Mesir tidak bisa mengikuti  kecepatan pergerakan lapis baja, menyebabkan payung udara bagi lapis baja  bolong dan berhasil dimanfaatkan Israel.

Jika ke depan TNI jadi membeli  sistem persenjataan pertahanan udara jarak  jauh  seperti S-400 atau S-300 maka Pantsyr juga bisa melindungi S 300 tersebut.

Membeli Pantsyr dan S-300 adalah harga yang terlalu murah untuk melindungi ratusan juta penduduk Indonesia serta menjaga wilayah Indonesia yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke beserta kekayaannya yang melimpah.

Hal itu pula yang diyakini oleh Vietnam. Meski ekonomi mereka relatif  lebih lemah dari Indonesia, namun untuk urusan menjaga tanah air dan rakyatnya, Alutsista nomer 1 yang mereka beli, seperti 6 KS Kilo, Frigate Gepard Class Rusia, serta 40 Rudal Pertahanan pantai Bastion-P Yakhont (SS-N-26) anti-ship missiles



Sumber : JKGR

4 komentar:

  1. jika NKRI pesan saya yakin Rusia bersedia disertai ToT

    BalasHapus
  2. Pemerintah memang harus mengkaji membeli S-300 juga kalau perlu S-400, dikarenakan kita dikepung oleh tetangga2 yg mempunyai kekuatan udara relatif sangat memadai untuk ukurannya!

    BalasHapus
  3. Berharap banged RI mengakuisisi sistem pertahanan ini Pantsyr S-1, yg pasti karakter dan kemampuan senjata ini sb pelindung satuan lapis baja & bs menjadi pelindung bagi sistem rudal yg lebih besar dari target pesawat tempur, UAV atw rudal lawan. apalagi kalo di sertai ToT itu lebih mantab untuk kemandirian RI dalam penyedian alat militer. Slava Russia..!!

    BalasHapus
  4. idiot para jenderal andai barang ini gak dibeli

    BalasHapus

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters