Cari Artikel di Blog Ini

Minggu, 13 Juli 2014

Eropa: HABIBIE DAN ALUTSISTA

Sangat menyenangkan, setelah bulan lalu kedatangan keluarga besar mertua saya dari Iran, minggu ini pula kami kedatangan Ibunda dan Ayahanda tercinta kami. Sebuah momen kebersamaan yang jarang kami jumpai, bahkan disaat kami masih kecil sekalipun. Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup terpisah dengan salah satu atau kedua orang tua kami. Tapi hari ini, keduanya ada di sini, di sisi kami. Terima kasih Tuhan..!


Menyengajakan diri bertolak dari Amsterdam ke Jakarta untuk menjemput relasinya yang sedang liburan selama 3 bulan di Indonesia, kemudian membawanya ke hadapan saya yang berdomisili di Kuala Lumpur, adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan besar. Mereka sudah tidak muda lagi, tapi lelahnya seakan sirna tatkala harus menebar cinta kasih pada sesama dan pada anak-anaknya. Saya bertekad untuk mampu menjadi seorang ayah dan lelaki yang sekuat dan setabah dia. Amin..!


Di ruang belakang yang menghadap ke kolam renang, kami bercengkerama sambil menunggu saatnya berbuka puasa. Suasana menjadi kian hangat dengan ulah usil yang lucu dari rekan ayah saya yang coba menggoda anak sulung saya yang tampak lemas karena berpuasa. Pria tua bule jangkung ini tak henti-hentinya membuat suasana rumah menjadi riuh. Sebut saja Ernest, pria berdarah Belanda berkewarganegaraan Jerman ini, sekarang sedang gandrung dengan produk yang berhubungan dengan batik. Hampir setiap tahun dia akan mendatangi Indonesia untuk melihat perkembangan batik nasional, baik dari segi motif dasar maupun produk fashion yang sudah jadi. Visinya tentang batik, kadang kala melampaui visi kebanyakan pebatik yang telah ada. Dia beranggapan bahwa pebatik nasional sangat memegang teguh pakem batik dari pendahulunya, baik dari segi motif design, maupun material batik itu sendiri.

Orang yang dia anggap sangat luwes dalam memandang batik hanyalah (Alm.) Iwan Tirta. Selebihnya adalah pebatik konservatif, kecuali untuk produk fashion jadinya. Pengetahuannya tentang batik, tidak diragukan..! Dua puluh tahun lebih, hidupnya dihabiskan di bumi Indonesia tercinta..! Tapi tentu saja bukan semata-mata karena batik, jika kemudian selama puluhan tahun mengabdikan diri pada pembangunan dan pengembangan IPTEK di Indonesia.

Doktor lulusan universitas terkemuka di Jerman ini, selama mudanya pernah malang melintang di perusahaan tempat Habibie muda dulu bekerja. Hubungan personalnya dengan Habibie yang sangat dekat, telah menjadi alasan mengapa dia menjadi salah satu generasi pertama pencetus pembangungan Hi-Tech di Indonesia, yang digagas oleh Habibie dan Soeharto. Pemanggilan Habibie oleh Soeharto di awal dekade 70an, telah membawa lelaki ini berada di Indonesia. Dialah lelaki yang ditunjuk pimpinan perusahaan Ferrostaal Jerman untuk mendampingi adik kandung BJ Habibie yang kala itu secara instan menjabat sebagai orang nomor satu di Ferrostaal Indonesia. Kelak perusahaan ini akan menjadi kunci masuknya teknologi tinggi Eropa ke Indonesia.

Tindakan Soeharto yang menganeksasi Timor Timur, dan membantai ribuan warga sipil, sempat membuatnya terpikir untuk kembali ke Jerman. Namun niat itu dia urungkan apabila melihat kesungguhan Habibie yang ingin memajukan bangsanya. Amarahnya dia salurkan melalui kegiatan respondensi dengan organisasi anti Indonesia yang tersebar di daratan Eropa. Embargo senjata yang dijatuhkan bangsa-bangsa Eropa pada Indonesia pasca pengambilalihan Timor Timur, selanjutnya menjadi tantangan tersendiri bagi dia bersama Habibie.

Jika Menlu Indonesia melakukan diplomasi terbuka, maka dia dan Habibie justru melakukan hal yang sebaliknya. Tak terbilang berapa kesepakatan dibalik pintu terkunci yang dihasilkan dengan negara-negara Eropa. Overall, semua misi berjalan sukses sebagaimana yang diinginkan.

Jika sebelum pengambilalihan TimTim, teknologi sengaja dibeli karena keinginan untuk menguasai, maka sesudah itu, pengambilan teknologi justru dilakukan untuk menyiasati embargo senjata, agar kita tetap bisa mendapatkan senjata yang diinginkan. Itulah sebabnya mengapa perusahaan-perusahaan strategis yang dibentuk Habibie memiliki begitu banyak lisensi dari perusahaan senjata di Eropa.

Sekedar untuk merinci sedikit jejak sukses Habibie yang harus membawa Indonesia melewati efek embargo adalah:


1. Windtunnell Puspitek Serpong
Berkat kelihaian Habibie melobi sahabat dan kenalannya di Belanda, akhirnya teknologi penting ini bisa dibawa ke Indonesia dari tangan para ahli Fokker di sana. Bahkan sesudah itu, Habibie juga sukses memindahkan asset light tank AMX 13 milik militer Belanda ke Indonesia secara senyap, sebagai reaksi atas penolakan Perancis yang tidak menginginkan Indonesia memiliki produk militer kebanggaannya. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, Habibie juga sukses mengapalkan kargo tertutup yang berisi 2 unit Zwaardvis Submarines dan 2 unit Moray Class Submarines pada beberapa tahun kemudian. Kabar ini kemudian terendus, sehingga membuat pemerintah Perancis merasa iri dengan rezeki nomplok yang diraih Belanda. Sehingga kemudian Habibie pun diundang ke Paris. Hasilnya, Indonesia mendapatkan tambahan AMX 13 beserta teknologi senjata lainnya. Habibie meminta Perancis untuk turut serta membangun IPTN bersama Spanyol.

2. Senjata Ringan Swedia
Swedia adalah negara yang kemudian didatangi Habibie. Disini Habibie berhasil meyakinkan para petinggi perusahaan salah satu ordnance industrie yang saat itu terancam bangkrut, untuk memberikan lisensinya pada Pindad. Sukses, setidaknya kita bisa terlepas dari perangkap bangsa Barat yang ingin mengkebiri kekuatan TNI, dan hampir menjadi tentara tanpa senjata. Dari Swedia, Habibie juga memulai pembangunan industri peroketan Indonesia yang telah lama terbengkalai.

3. Membuat Pintu Belakang di Parlemen Jerman
Terkadang terasa begitu pedas dengan aksi bangsa barat terhadap Indonesia, apabila kita membacanya di media. Meski mungkin benar demikian adanya, tapi nyatanya selalu ada solusi yang bisa diambil dengan mengabaikan hak publik. Bentuk diplomasi dengan Jerman adalah contoh kongkrit dari praktek diplomasi serupa ini. Habibie terbilang menuai sukses diplomasi yang amat besar dengan Jerman. Ketika kapal selam kita memerlukan overhaul di Jerman, Habibie berhasil merayu pihak HDW dan pemerintah Jerman, untuk melakukannya di Indonesia. Walhasil, Jerman pun merestui dan menunjuk Ferrostaal sebagai partner utama dalam peningkatan kemampuan PT PAL Surabaya. Yang lebih mengharu biru, Indonesia juga berhasil mendapatkan U209 versi terbaru yang sangat dibutuhkan untuk mengisi kekosongan saat dua KS kita menjalani overhaul. Semuanya dalam kemasan yang tersegel dengan harga yang tergolong mahal disaat itu, yakni USD500 million/unit. Selain itu, masih ingatkah dengan pembelian 39 unit kapal eks Jerman Timur? Kesemua kapal itu hanya dihargai USD12 million. Tapi apakah kita benar-benar ingin membeli kapal itu?

Ternyata tidak. Overhaul KS, dan pembelian 39 unit kapal eks Jerman Timur adalah muslihat Habibie untuk menghindari protes masyarakat Eropa. Overhaul, sesungguhnya adalah proses TOT tahap awal yang diperlukan Indonesia untuk mampu memperpanjang masa pakai KS yang kita miliki. Selain itu, ternyata Indonesia juga baru belajar tentang management KS yang benar dari Jerman. Sedangkan pembelian 39 unit kapal itu, adalah bagian dari TOT proyek modernisasi PT PAL dan penguasaan berbagai teknologi pendukung lainnya. Nyatanya, harga teknologi yang ditawarkan pada Indonesia adalah sebesar USD700 million, yang merupakan bagian dari total nilai proyek modernisasi PT PAL yang jumlahnya bernilai hampir £1.1billion. Sebuah mega proyek yang tidak pernah mengemuka ke publik..! Bahkan sesudah itu, Jerman juga terlibat dalam modernisai jaringan telekomunikasi di Indonesia melalui modernisasi PT Telkom.

Hal terbaru yang tidak kalah panasnya adalah masalah akuisi MBT Leopard. Setelah ditolak Belanda, akhirnya Indonesia pun berpaling ke Jerman. Sukses dengan Jerman, Menhan Belanda pun datang ke Jakarta. Artinya..? Hehehe..! Biarlah Pak Menhan saja yang tahu..!

Melihat kronologinya, tampak sebuah pola hubungan antara Indonesia dan Eropa yang menjadi baku. Kebakuan ini pulalah yang membuat negara-negara lain beranggapan bahwa langkah yang diambil Indonesia adalah bagian dari sebuah strategi pertahanan. Apalagi pada tahun 2008 lalu, Indonesia tiba-tiba begitu lantang menolak tawaran KS Kilo dari Russia, padahal KS ini hanya mensyaratkan peningkatan infrastruktur di Indonesia.

Masyarakat dunia sudah mafhum. Mereka tidak lagi melihat apa yang Indonesia katakan, tapi mereka melihat pada apa yang Indonesia lakukakan. Setelah 2008, Indonesia justru membangun pelabuhan KS super canggih di Teluk Palu. Artinya..? Hehehe..! Lagi-lagi biarlah Pak Menhan dan TNI saja yang tahu.

Sebenarnya masih banyak informasi yang saya terima. Namun segala yang vital bagi negara, saya akan tetap teguh menjaganya. Selain itu, saya juga ingin menghormati kesucian Ramadhan dan turut berempati atas nestapa yang diderita saudara kita di Palestine. Saya tidak ingin memicu prasangka, apalagi berpikir untuk unjuk diri dan menepuk dada. Saya sekedar ingin bertukar informasi. Katakan salah, jika segala yang saya sampaikan adalah salah. Sesungguhnya kebenaran adalah tujuan akhir saya. Terima kasih untuk semua. Selamat menjalani ibadah puasa. Salam hangat, dari kami yang penuh cinta di Kuala Lumpur. Salam Indonesia Besar..!

(by: yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 12 July 2014 | JKGR)

1 komentar:

  1. Terima kasih kepada pemimpin Bpk. Habibie yg telah berjuang untuk kemajuan negri ini

    BalasHapus

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters