Cari Artikel di Blog Ini

Kamis, 05 Mei 2016

Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI Di Surabaya Dihancurkan Bangsa Sendiri

"Sempat lolos dari bom sekutu tahun 1945, namun, hari ini saksi bangunan bersejarah itu justru dihancurkan oleh bangsa sendiri. Padahal bangunan yang berdiri tahun 1935 itu sudah masuk daftar cagar budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45 tahun 1998,"
 
Zaman kemerdekaan Indonesia, radio memiliki peran sangat penting dalam perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Radio saat itu menjadi alat sumber informasi peristiwa yang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia.

Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI Di Surabaya Dihancurkan Bangsa Sendiri

Sutomo alias Bung Tomo, pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini yang mewacanakan kelahiran radio pertama untuk mengabarkan kemerdekaan Indonesia. Sesaat setelah Indonesia merdeka, Bung Tomo mendirikan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), dengan cabang yang tersebar di seluruh Tanah Air.

Sebagai ketua BPRI, Bung Tomo selalu menyiarkan pidato-pidato tentang perjuangan melalui siaran radio, yang diberi nama Radio Republik Indonesia (RRI). Melalui RRI, mereka merelai siarannya dari Sabang hingga Merauke.


Namun, sebelum mendirikan RRI, Bung Tomo sempat datang ke Jakarta menemui Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, namun tidak mendapatkan persetujuan. Amir tidak memberikan izin atas usulnya mendirikan stasiun radio khusus.

Bung Tomo merasa kecewa. Di Jakarta, pasukan sekutu datang bersamaan dengan serdadu Belanda pada 30 September 1945. Di saat bersamaan, dia juga masih berstatus sebagai wartawan Antara. Tak hanya itu, dirinya juga menjadi kepala bagian penerangan Pemoeda Repoeblik Indonesia (PRI).

Sebelum kembali ke Surabaya, Bung Tomo mendengar peristiwa perobekan bendera Belanda berwarna merah, putih dan biru di Hotel Yamato. Usai dirobek, para pemuda dengan dukungan dari rakyat kembali menaikkan bendera merah putih, setelah membuang warna biru.

Demi memelihara semangat perlawanan, Bung Tomo tetap nekat mendirikan sebuah Radio sekembalinya dari Jakarta. Radio itu diberi nama Radio Pemberontakan ini mulai mengudara pada 16 Oktober 1945. Awal menyiarkan pesan-pesan perjuangan, stasiun pemancar masih meminjam milik RRI Surabaya.

Sejak didirikan, Bung Tomo menjadi satu-satunya penyiar. Dengan suara penuh semangat dan menggelora, ditambah intonasi memikat membuat radio ini semakin banyak didengar. Sebelum membaca dan selesai berpidato, Bung Tomo tidak pernah lupa mengucapkan kata "Allahu Akbar!".

Namun, caranya itu ternyata tidak disukai Jakarta. Suami Sulistina ini dianggap terlalu menghasut rakyat untuk berperang dan melupakan jalan diplomasi. Namun, pemerintah hanya bisa diam dan membiarkannya terus mengudara.

Tepat pada 25 Oktober 1945, pasukan sekutu didominasi serdadu Inggris tiba di Surabaya di bawah pimpinan Brigjen AWS Mallaby. Sebelum tiba, Bung Tomo sempat melakukan orasi di radio.

Berikut petikan orasi Bung Tomo di Radio pada saat itu:

"Kita ekstremis dan rakyat sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui!, Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita!, Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya. Kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki." ujar Bung Tomo.

"Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstremis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" katanya Bung Tomo dengan semangat berapi-api.

Pertempuran pun pecah di Surabaya pada 27 Oktober, setelah Inggris membebaskan intel Belanda yang ditangkap pejuang. Mereka lantas mengambil alih sejumlah instalasi seperti kantor jawatan kereta api, kantor telepon dan telegraf, serta rumah sakit.

Kontak senjata sempat mereda setelah Bung Karno, Bung Hatta, dan Amir Sjarifuddin datang ke Surabaya setelah Inggris merasa terdesak. Namun, tewasnya Mallaby membuat Inggris marah dan mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerah.

Bung Tomo tidak mau mematuhi permintaan itu, sehari sebelum gempuran Inggris dimulai, Bung Tomo sempat berpidato untuk menggelorakan rakyat.

"Saudara-saudara rakyat Surabaya. Bersiaplah!, Keadaan genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu." ucap Bung Tomo.

"Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka. Dan untuk kita, Saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati!. Dan kita yakin, Saudara-saudara, akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah SWT selalu berada di pihak yang benar. Percayalah, Saudara-saudara!," seru Bung Tomo.

"Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" imbuhnya.

Kali ini, pidato Bung Tomo mendapat tanggapan dari RRI Surabaya. Stasiun radio milik pemerintah ini pun merelai ucapannya hingga ke seluruh Indonesia. Meski akhirnya para pejuang berhasil dikalahkan, dan Surabaya jatuh ke tangan sekutu, tapi semangat yang dikobarkan Bung Tomo tetap melekat hingga saat ini.

Namun, bekas tempat Radio Pemberontakan, yang merupakan lokasi Bung Tomo berpidato saat perjuangan kemerdekaan 10 November 1945, kini rata dengan tanah. Bangunan cagar budaya beralamat di Jalan Mawar 10-12, Tegalsari, Surabaya itu dibongkar, tanpa sepengetahuan Tim Cagar Budaya Kota Surabaya.

"Saya sudah melakukan bongkaran bangunan ini sejak 23 hari. Sebelumnya rumah utuh," kata salah seorang yang menjadi mandor Bongkaran, Nadir, Kemarin.

Hal senada juga diutarakan pemerhati bangunan cagar budaya, Kuncarsono. Dirinya sempat kaget pada saat lewat Jalan Mawar, ternyata diketahui bangunan sudah rata dengan tanah.

"Padahal dari tempat inilah Bung Tomo membakar semangat arek Suroboyo, saat awal-awal pertempuran 10 November 1945," ungkap Kuncarsono.

Menurutnya, di tempat itu suara berapi-api, pekik Takbir Bung Tomo kerap didengar setiap peringatan kemerdekaan yang dipancarkan di studio rahasia di rumah itu.

Studio radio pemberontakan RI itu dengan pemancar portable ini didirikan oleh Bung Tomo bersama Ktut Tantri dan beberapa sahabatnya. Studio yang terpaksa diciptakan setelah RRI masih ragu dengan sepak terjang Bung Tomo kini rata dengan tanah.

Dari tempat itu, perang 10 November kemudian berkobar. Dari pojokan kamar di bangunan itu, ratusan ribu pejuang tersulut emosinya, dan dari bangunan itu Surabaya kelak disebut kota pahlawan.

"Sempat lolos dari bom sekutu tahun 1945, namun, hari ini saksi bangunan bersejarah itu justru dihancurkan oleh bangsa sendiri. Padahal bangunan yang berdiri tahun 1935 itu sudah masuk daftar cagar budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45 tahun 1998," beber Kuncarsono.

Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya, Freddy H Istanto, menyayangkan pembongkaran bangunan cagar budaya itu luput dari pantauan Tim Cagar Budaya, Kota Surabaya.

"Saya juga baru tahu. Mestinya Satpol PP selaku penegak perda tahu. Ada pembongkaran kok tidak tahu," keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Wiwiek Widyawati mengaku belum tahu kalau ada pembongkaran tersebut.

"Nanti saya cek, apakah rekomendasi itu sesuai rekomendasi tim cagar budaya atau tidak," pungkasnya. (Merdeka)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters