Impor Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI bulan Agustus tercacat sebesar US$$214,7 juta. Nilai impor ini meningkat pesat dibandingkan Juli 2014. Menurut data Kementerian Perdagangan, pada bulan Agustus lalu total impor meningkat 5,1 persen month to month menjadi US$14,8 miliar.
"Pada bulan Agustus, terjadi peningkatan impor untuk alat alutsista," kata Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis 2 Oktober 2014.
Peningkatan impor tersebut dipicu oleh naiknya impor non migas sebesar 15 persen MoM, sedangkan impor migas turun 18,5 persen. Dalam data tersebut, tercatat impor mesin dan pesawat mekanik sebesar US$2,309 miliar. Impor ini tumbuh 21,2 persen atau US$403,2 juta dibandingkan Juli 2014. Impor mesin dan peralatan listrik tercatat US$1,46 miliar. Impornya naik US$246,8 juta atau 20,3 persen dibandingkan Juli 2014.
Sedangkan impor alutsista melesat pesat, bahkan sampai puluhan ribu persen. Pada Agustus, impor senjata dan amunisi sebanyak US$214,1 juta dan naik US$214,1 juta dibandingkan Juli 2014. Dibandingkan bulan sebelumnya, impor ini naik 38.002,9 persen.
"Ini sebenarnya sesuatu yang sangat penting dan baik," katanya.
Program belanja alutsista dikenal dengan sebutan MEF (Minimum Essential Force) yaitu program pemenuhan alutsista untuk standar minimal yang dipersyaratkan.
Meski belanja alutsista bernuansa revolusioner selama lima tahun ini ternyata belum mencapai standar kecukupan. Namun, program belanja alutsista TNI akan berlanjut di MEF II pada 2015 hingga 2019.
Setelah 18 unit KH179, telah tiba juga 12 pesawat coin Super Tucano, delapan jet tempur F16 blok 52, empat UAV Heron, dua Pesawat angkut berat Hercules, lima Pesawat angkut sedang CN295, enam helikopter serbu Cougar, 20 helikopter serbu 412EP.
Kemudian ada empat radar, 11 helikpter anti kapal selam, tiga Kapal Korvet Bung Tomo Class, tiga Kapal Cepat Rudal 60m PAL, tiga LST, dua BCM, 40 tank Leopard, 40 tank Marder, 50 panser Anoa, 36 MLRS Astross II, 37 Artileri Caesar, sejumlah peluru kendali SAM, sejumlah peluru kendali anti kapal, simulator Sukhoi. (VivaNews)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Kamis, 02 Oktober 2014
Impor Alutsista TNI Meningkat Tajam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Di Era tahun 60an TNI AU/AURI saat itu pernah memiliki kekuatan udara yang membuat banyak negara menjadi ‘ketar ketir’, khususnya negara-ne...
-
Pihak inteljen Kodam, sambung Hardiono, masih melakukan pendeteksian kebangkitan PKI di wilayah Jateng dan DIY. Pangdam menambahkan memang ...
-
Kalau dipikir-pikir, ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia. Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus m...
-
Serangan ke Lapas Cebongan menambah catatan hitam Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Sebelumnya pada tahun 1998, Kopassus juga disoro...
-
Penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta menggunakan senapan serbu AK-47. Diketahui anggota Kopassus ini baru saja berlatih di Gunung ...
-
TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pe...
-
Kejujuran 11 prajurit Kopassus mengakui kesalahan, menembak empat tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan Sleman, Yogyakarta, mendat...
-
10 Pesawat angkut Hercules type H 16 Pesawat tempur coin Super Tucano ( 4 sudah datang) 16 Pesawat latih Grob G120TP 6 Pesawat lati...
-
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berang dituding komisioner Komnas HAM tidak pernah bekerja dan terkesan hanya tidur dalam mengatasi ko...
-
Modernisasi militer terus diupayakan oleh pemerintah. Dalam waktu dekat, dua unit pesawat tempur jenis Sukhoi Generasi 4,5 akan tiba di Tan...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar