Cari Artikel di Blog Ini

Senin, 24 November 2014

Buku Kodrat Maritim Nusantara, Rujukan Utama Kepemimpinan Maritim

Masalah maritim menjadi sorotan banyak pihak, termasuk pemerintahan RI saat ini yang menempatkan visi kemaritiman sebagai tulang punggung roda pemerintahannya. Sebuah konsepsi berdasarkan akar sejarah yang dijadikan fondasi pembangunan kebijakan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

BUKU MARITIM – Kasubdit Pusjianmar Seskoal Letkol Laut (P) Salim menulis buku berjudul ‘Kodrat Maritim Nusantara’. (Foto: JM Foto/Adityo Nugroho)

Urgensi itu disampaikan dalam buku Kodrat Maritim Nusantara yang ditulis Kasubdit Pusjianmar Seskoal, Letkol Laut (P) Salim. Buku bertebal 356 halaman dan diterbitkan Leutikaprio ini menjawab permasalahan kemaritiman dengan gaya penulisan yang khas dengan pendekatan agama, sejarah, dan karakter angkatan laut.

Masalah siapakah jatidiri bangsa, mengapa harus mengulang kejayaan Bangsa Bahari, mengapa membutuhkan angkatan laut yang kuat, bagaimana cara membangun TNI AL menuju World Class Navy, dan apa yang salah dengan strategi pertahanan negara dijabarkan sistematis dalam buku ini.


Keseluruhan permasalahan terjawab dengan kemampuan mengenal kodrat Tuhan YME yang memberi rahmat kepada Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Bahari. Menurut penulis, akibat tidak mendasarkan pembangunan kebijakan dari rahmat maka laknat atau bencana akan selalu menyertai kehidupan bangsa dan negara. Dengan kata lain, adanya pemimpin yang berkhianat terhadap kodrat Tuhan YME itu berakibat fatal bagi kehidupan rakyat.

Sebelum terlambat dan memiliki dampak semakin parah, penulis mengajak untuk menengok kejayaan Nusantara dengan angkatan laut dan strategi kemaritimannya. Ulasan mengenai kemegahan dua nation state pertama di Nusantara, yaitu Sriwijaya dan Majapahit dipaparkan secara komprehensif dan holistik dalam buku tersebut.

Selain itu, strategi pembangunan kekuatan maritim yang melingkupi pertahanan, ekonomi, dan politik dari dua kerajaan besar itu turut diusut secara dalam. Kekuatan tersebut akan menjadi landasan pembangunan maritime power saat ini yang tidak menentu dan tidak menemui sasaran tepat untuk perbaikan kehidupan bangsa dan negara.

Dalam kandungan buku, penulis menyampaikan pesan bagaimana membangun TNI AL menuju World Class Navy yang berkaca dari Soekarno dan Seulawah. Pembahasan diurai secara komprehensif dan merupakan kelanjutan interpretasi dari buku Paradigma TNI AL Berkelas Dunia yang ditulis Kasal Laksamana TNI Marsetio.

Peran TNI AL

Di akhir penulisannya, penulis mengurai langkah sistematis dalam menjalankan peran universal TNI AL, yaitu politik (diplomasi), ekonomi, dan militer. Ketiganya termasuk dalam tataran Grand Strategy level tertinggi suatu negara yang dapat memadukan instrumen kekuatan non-militer dan militer.

Pertanyaan apa korelasi antara Grand Strategy dengan strategi angkatan laut pun dijawab tuntas. Menyangkut Military Role, Constabulary Role, dan Diplomacy Role yang saat ini abu-abu dalam perjalanannya juga dijawab tuntas oleh penulis.


RUJUKAN – Kover buku ‘Kodrat Maritim Nusantara’ tulisan Letkol Laut (P) Salim. (Foto: Leutika Prio)

Pengalaman penulis sebagai Komandan KRI dan duta bangsa dalam kursus dan event internasional menjadi catatan tersendiri dalam menjawab permasalahan kemaritiman. Kematangannya dalam menulis semakin bertambah pada saat menjadi staf Pusat Kajian Maritim di Seskoal hingga kini. Buku ini merupakan buku keduanya setelah Dzikir Daud untuk Meruwat Kepemimpinan Nasional sukses menembus pasaran dan dijadikan rujukan bagi beberapa komunitas kajian.

Sekiranya buku kedua ini dapat menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan kemaritiman agar tidak salah arah dan mampu menjadikan maritim sebagai saka guru kemakmuran Indonesia. Para akademisi, praktisi, organisatoris, dan masyarakat yang peduli masalah kemaritiman wajib memiliki buku ini sebagai pegangan menentukan langkah, untuk kemajuan bangsa dan negara. (JMOL)

1 komentar:

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters