Soal karir dan pendidikan militer, Agus Harimurti Yudhoyono dan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono sama-sama moncer. Dalam berbagai hal, keduanya punya banyak kesamaan. Namun jalan hidup keduanya tak sama.
Agus mengakhiri karir militer saat masih berpangkat Mayor Infanteri. Banyak yang menyayangkan karena jalan masih sangat panjang. Tapi keputusan sudah diambil.
Ada kisah menarik saat SBY masih berpangkat mayor. Saat itu SBY baru saja mengikuti kursus komandan Batalyon tahun 1986. SBY adalah peserta termuda. Dia lulusan tahun 1973, sementara yang lain rata-rata lulusan 1970 dan 1971.
SBY lulus nomor dua terbaik. Biasanya, para lulusan terbaik ini boleh memilih sendiri batalyon yang akan dipimpinnya. Sempat ada kabar SBY akan memimpin batalyon infanteri di Jawa Timur.
Ani Yudhoyono senang mendengarnya. Dia berharap dengan penugasan SBY di Jawa Timur, sesekali bisa pulang menengok mertua di Pacitan.
Namun harapan lain dari kenyataan. Ternyata Mayor Yudhoyono malah ditempatkan sebagai komandan batalyon 744. Pasukan ini adalah pasukan pemukul Kodam Udayana yang ditugaskan di Timor Timur. Saat itu operasi militer di Timor Timur sedang panas-panasnya. Baku tembak berujung kematian nyaris terjadi setiap hari.
Bulan Desember 1986, SBY dan keluarga berangkat menghadap Kepala Staf Kodam Udayana, Brigjen Wismoyo Arismunandar. Melihat sosok SBY yang berkulit putih bersih, Brigjen Wismoyo meremehkannya.
"Komandan Batalyon kok kulitnya putih begini?" kata Wismoyo. Dia tak yakin dengan kemampuan SBY memimpin pasukan. Apalagi pasukan tempur di medan perang Timor Timur. Demikian dikisahkan dalam Buku Ani Yudhoyono Kepak Sayap Putri Prajurit.
Walhasil SBY ditahan dulu di Denpasar untuk melatih para bintara. Selama itu dia diamati. Jika dinilai tak cakap, SBY bisa langsung gagal diberangkatkan ke Timor Timur.
Untunglah lampu hijau turun. SBY akhirnya berangkat ke Timor Timur setelah dua minggu tertahan. Tiba di Dili, SBY harus menjalani plonco. Dia mengenakan ransel, helm baja dan menyandang senjata berlari dengan beban 25 kg sejauh 15 km menghadap Komandan Korem Kolonel Yunus Yosfiah. Lagi-lagi tugas ini berhasil diselesaikan SBY.
Salah satu aksi SBY yang dapat pujian adalah saat dia menyelamatkan musuh yang terluka. Saat itu pasukan yang dipimpinnya terlibat baku tembak dengan gerilyawan Falintil di lereng bukit Turiskai.
Setelah beberapa jam bertempur, pasukan menyisir lokasi persembunyian gerilyawan. Di tempat itu ditemukan seorang gerilyawan yang tergeletak dengan kondisi cukup mengenaskan, namun masih hidup.
Alih-alih mengeksekusi, SBY malah memilih untuk mengobati gerilyawan yang terluka tersebut. Bahkan, dia menerbangkannya ke RSPAD di Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Tindakan ini tidak lazim dilakukannya, sebab setiap pasukan yang berperang sangat pantang membawa serta tawanan. Langkah ini lantas diapresiasi Asisten Operasi Kasum ABRI Mayjen TNI Edi Sudrajat, di mana dalam Hukum Perang, seorang tawanan perang haruslah tetap diperlakukan secara manusiawi.
Setelah menjalani perawatan, gerilyawan tersebut mengaku bernama Yulio Sarmento, salah satu pucuk pimpinan kelompok Falintil. Darinya, Mabes ABRI banyak memperoleh informasi berharga dalam menjalankan operasi di Timor Timur.
SBY bertugas selama dua tahun memimpin pasukan di Timor Timur. Selanjutnya dia mengikuti Sekolah Staf dan Komando. Inilah pendidikan elite untuk mencetak para jenderal. (Merdeka)
Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Selasa, 27 September 2016
Membandingkan SBY dan Agus Saat sama-sama berpangkat Mayor TNI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Di awal tahun, mari kita buka dengan kabar mengenai PKR10514. Seperti kita ketahui, poyek PKR ini merupakan salah satu proyek prestisius PT....
-
Seperti kata pepatah “tidak kenal maka tidak sayang”, setelah jilid 1 dan jilid 2 saya menceritakan beberapa kisah-kisah yang pernah terjadi...
-
NKRI sudah dikepung rapat oleh neokolim yang hampir sekarat ini: Darwin Australia, Cocos Island, Diego Garcia, Guam, Filipina sampai Singapu...
-
Vietnam baru saja kehilangan salah satu pahlawan perangnya, Jenderal Vo Nguyen Giap. Ratusan ribu orang mengantar kepergian Vo Nguyen Giap, ...
-
by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 13 May 2014 Mengintai Jendela Tetangga: LAGA RAFALE TNI AU vs RAFALE TUDM Sejatinya, hari ini adalah...
-
Sekolah Penerbang Lanud Adisucipto tengah menunggu 18 pesawat baru G-120 TP Grob dari Jerman. Kehadiran pesawat ini diharapkan dapat meningk...
-
Beberapa negara sudah memulai proyek penelitian untuk memungkinkan umat manusia menghuni planet tersebut. Selasa sore kemarin, India sudah m...
-
Indonesia Membutuhkan radar canggih, penempatan persenjataan jarak menengah dan jauh serta profesionlisme prjurit yang handal Anggota Kom...
-
Kisah ini sengaja saya tulis berdasarkan catatan-catatan tertulis yang saya punya dan juga cerita-cerita dari para “Silent Warrior” pinisepu...
-
Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John F...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar