Cari Artikel di Blog Ini

Kamis, 11 Oktober 2012

Radar Efektif Jaga Perbatasan

Penempatan 12 unit radar sistem pengawasan maritim atau Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) dari Sabang hingga Batam, Kepulauan Riau, sangat efektif untuk mengamankan kawasan perairan Selat Malaka.

Ilustrasi Radar Pertahanan
Ilustrasi Radar Pertahanan
 
"Radar efektif memantau hal terkecil yang berada di kapal. Radar ini terintegrasi ke gugus keamanan laut (Guskamla), dimana bisa melihat seluruh kapal yang melintas di Selat Malaka," kata Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Batam, Kolonel Laut (P) Nur Hidayat, saat menerima Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Mayjen TNI Hartind Asrin di Lanal Batam, Kepulauan Riau, Selasa (9/10).

Penggunaan radar sistem pengawasan maritim buatan Amerika Serikat itu hanya digunakan pada malam hari karena pada siang hari kapal-kapal yang melintas masih dapat terlihat oleh patroli keamanan laut (Patkamla).

Selasa, 09 Oktober 2012

Lanud Abdulrachman Saleh Siapkan 12 Penerbang Super Tucano

Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang Marsekal Pertama (Marsma) TNI Gutomo kemarin melantik 12 penerbang peserta pendidikan konversi. Mereka disiapkan menjadi penerbang khusus pesawat tempur Super Tucano.

Deretan Pesawat Super Tucano di Lanud Abdulrachman
Deretan Pesawat Super Tucano di Lanud Abdulrachman

Menurut Gutomo, pesawat super tucano merupakan tanggung jawab bersama di Lanud Abdulrachman Saleh baik dari sisi perawatan maupun operasional. Jadi, dibutuhkan tenaga terampil, terlatih, dan bertanggung jawab untuk mengelolanya. “Empat unit pesawat yang sudah ada. Ini tentunya bisa dimaksimalkan untuk latihan bersama,”ujarnya.

Dia berharap, pendidikan konversi pendidikan ini mampu membangun sumber daya manusia yang andal di lingkungan Skadron Udara 21. Sebab para penerbang ini adalah kekuatan TNI AU di masa mendatang, demi menjaga keutuhan NKRI.

14 Tahun Mati Suri PTDI Hidup Kembali

Setelah mati suri hampir 14 tahun, PT Dirgantara Indonesia berhasil bangkit kembali dengan mengantongi nilai kontrak produksi pesawat dan suku cadang mencapai lebih dari tujuh triliun rupiah hingga 2014.

Kebangkitan pabrik pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara ini adalah salah satu di antara kisah paling dramatis dalam sejarah BUMN sejak krisis moneter menenggelamkan perekonomian Negara Asia tahun 1997-1998.


PT. DI Mendapatkan Pesanan Pembuatan Pesawat CN 295
PT. DI Mendapatkan Pesanan Pembuatan Pesawat CN 295 (foto : arc.web.id)

Tetapi bagaimana sebuah perusahaan produsen pesawat yang sempat membuat cetakan panci dan antena parabola untuk bertahan hidup dapat bangkit kembali begitu rupa?

"PTDI bisa bertahan karena kami melakukan berbagai hal supaya bias tetap hidup. Meskipun pengalaman sangat pahit termasuk membuat cetakan panic dan antena tersebut, kami bisa selamat," kata Rahendi Triyatna, pejabat senior Humas PTDI.

Dari sebuah perusahaan raksasa dengan pegawai hampir mencapai 16.000 orang, PTDI harus mengurangi karyawan secara drastic hingga kurang dari seperempatnya. International Monetary Fund (IMF) yang memberi dana penopang hidup untuk keuangan negara yang sedang sekarat di ujung pemerintahan Suharto, memberi syarat pengetatan anggaran habis-habisan.

Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 M Ke Tiga Diterima AKhir Tahun 2012

TNI Angkatan Laut segera mendapatkan kembali satu unit Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 M dari industri galangan kapal PT Palindo Marine, Bata

"KCR yang ketiga ini tinggal tahap 'finishing' saja. Pekan lalu sudah diluncurkan' dan akhir tahun ini mungkin bisa diserahterimakan," kata Managing Director PT Palindo Marine Harmanto saat menerima kunjungan rombongan Puskom Publik Kemhan dan wartawan di pabrik PT Palindo Marine, Batam, Selasa.


KRI Kujang 642 - Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 M Ke Dua
KRI Kujang 642 - Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 M Ke Dua

Kapal itu merupakan salah satu dari empat KCR yang telah dipesan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) dari PT Palindo Marine. Sebelumnya dua unit kapal lainnya telah diserahterimakan, yakni KRI Celurit-641 dan KRI Kujang-642.

Menurut dia, kapal ketiga ini sudah berada di galangan kapal dan akan menjalani penyempurnaan. Setelah penyempurnaan, akan dilakukan pengujian di laut.

Senin, 08 Oktober 2012

Sekilas Helikopter Seasprite yang diincar TNI AL

Pemerintah tampaknya telah kepincut untuk membeli helikopter Seasprite, demi memperkuat skuadron helikopter TNI AL. Tahun 2012 ini, akan tiba 6 helikopter Seasprite dilengkapi senjata antikapal selam, serta lima Seasprite yang dipersenjatai antikapal permukaan.

Tambahan alutsista ini akan mengisi kelemahan yang dimiliki kapal TNI AL. “Helikopter merupakan ‘mata’ dan’telinga’ dari kapal tempur kita. Seasprite memiliki kelebihan: manuver, fleksibilitas, jangkauan, serta pendeteksian yang lebih cepat, ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.


Helikopter Seasprite SH-2G
Helikopter Seasprite SH-2G
(foto : http://divisi.blogspot.com)
 
Rencananya 11 Helikopter Seasprite yang akan dibeli, ditempatkan di KRI yang memiliki halipad.

Seasprite mampu terbang dengan kecepatan tinggi serta mampu bermanuver saat menurunkan perangkat sonar pendeteksi kapal selam. Hasil pendeteksiannya akan dikirim ke kapal perang, untuk melakukan penangkalan.

Mengapa Seasprite ?

Apakah pemilihan helikopter Seasprite sudah tepat ?. Baru baru ini militer Selandia Baru mengeluhkan penggunaan Seasprite. Insinyur Selandia Baru menyatakan Helikopter Seasprite SH-2G susah dirawat dan memiliki jam terbang lebih pendek dari yang ditentukan.

Konflik Laut China Selatan Pengaruhi Perkembangan Militer Asia Tenggara

Tidak hanya Indonesia yang tengah giat memperkuat alat utama sistem persenjataan. Tetangga-tetangganya di Asia Tenggara pun belakangan ini mempercanggih persenjataan mereka.

Kapal selam Malaysia, KD Tunku Abdul Rahman
Kapal selam Malaysia, KD Tunku Abdul Rahman (foto : Viva News )

Menurut kantor berita Reuters, dengan bersumber dari sejumlah lembaga pengamat, setidaknya ada tiga negara ASEAN yang tengah memperkuat Alutsista. Indonesia sedang membeli sejumlah unit kapal selam dari Korea Selatan dan sistem radar maritim dari China dan AS. Vietnam pun menambah kapal selam dan jet tempur Rusia.

Singapura tak ketinggalan. Negeri mungil itu berstatus importir senjata terbesar kelima di dunia dan terus menambah persenjataan yang canggih. Mengantisipasi pengembangan kekuatan militer China dan juga didukung pertumbuhan ekonomi yang sedang pesat, negara-negara Asia Tenggara lagi jor-joran membelanjakan anggaran militer demi memperkuat jalur pelayaran, pelabuhan, dan batas-batas maritim yang vital bagi aliran ekspor dan energi.

Menurut kalangan pengamat, sengketa wilayah di Laut China Selatan - yang mengandung sumber minyak dan gas alam melimpah - membuat Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei harus antisipasi atas pengembangan kapabilitas militer China, yang turut berkepentingan atas perairan itu.

Benarkah kekuatan udara kita dalam keadaan kritis?

Hasil wawancara VIVAnews bersama Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Imam Sufaat.
 
Jatuhnya pesawat Bravo 202 pada acara Bandung Air Show di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, pekan lalu, menambah deretan kecelakaan pesawat. Dalam peristiwa itu, dua perwira purnawirawan TNI AU tewas di tempat.



Meski bukan pesawat milik TNI AU yang jatuh di Bandung itu, tapi musibah yang menimpa peswat latih TNI AU juga terjadi. Pada Juni 2012 misalnya, pesawat latih TNI AU, Fokker 27, juga jatuh di kawasan Halim Perdanakusuma. Pesawat latihan rutin itu, mendadak kehilangan daya dan jatuh di kompleks perumahan TNI AU. Dalam insiden ini, pilot, kopilot, dan seorang instruktur tewas di tempat.

Jatuhnya sejumlah pesawat itu membuat publik menyorot kondisi peralatan tempur TNI AU. Apakah kekuatan udara Indonesia lagi kritis? Di tengah situasi itu, TNI AU menerima hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Juga ada rencana pengadaan pesawat tempur di dalam negeri, produksi bersama dengan Korea Selatan. Tapi bagaimanakah sebetulnya postur kekuatan pertahanan udara Indonesia?

Untuk itu, VIVAnews mewawancarai Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Imam Sufaat. Berikut petikan wawancara dengan pria kelahiran  Wates, Yogyakarta, 21 Januari 1955 ini.
 

Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters