Strategi Militer Indonesia - Menyuguhkan informasi terbaru seputar pertahanan dan keamanan Indonesia
Cari Artikel di Blog Ini
Senin, 14 Oktober 2013
Wawancara Dengan NRC Handelsblad Mengenai Modernisasi Alutsista TNI
Berikut adalah beberapa pertanyaan dari koresponden kami (Melle Garschagen) dari NRC Handelsblad kepada Bapak Jagarin Pane yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia :
Mengapa pemerintah Indonesia dan TNI merasa penting untuk mengeluarkan dana untuk memperkuat dan memper-modern kekuatan militer?
Pemerintah Indonesia bersama DPR memandang sangat perlu untuk memodernisasi TNI sebagai antisipasi dinamika kawasan khususnya Laut Cina Selatan. Tahun 2008 yang lalu berdasarkan kajian intelijen dan Hankam RI menganalisis bahwa pusat konflik masa depan adalah Laut Cina Selatan. Meski Indonesia tidak terlibat klaim teritori dengan negara lain di kawasan itu, Pemerintah memandang sangat perlu untuk memperkuat tentaranya. Klaim Malaysia terhadap Ambalat juga merupakan salah satu pemicu untuk memperkuat TNI. Karena ternyata negeri itu lebih dahulu melakukan manuver kapal perang di kawasan itu tahun 2005 sehingga Presiden SBY merasa tersinggung dan langsung mendatangi lokasi di Karang Unarang untuk menegaskan bahwa Ambalat adalah teritori NKRI.
Siapakah/negara mana yang dilihat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan dan keselamatan Indonesia? Kenapa?
Sebenarnya bagi Indonesia tidak ada ancaman dari negara tertentu yang membahayakan keselamatan Indonesia. Tetapi sebagai antisipasi bagi negara kepulauan terbesar di dunia ini dan punya posisi strategis di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik sangat wajar bagi Indonesia memperkuat persenjataan militernya yang selama lebih dari 10 tahun tidak diperbaharui. Penempatan Marinir AS di Darwin Australia bagaimanapun merupakan ancaman bagi keamanan RI, maka sebagai antisipasi TNI saat ini sedang mempersiapkan alokasi pasukan Marinir di Papua setingkat divisi.
Cabang TNI yang mana yang paling menganggap perlu dan penting untuk menginvestasikan dana dan ekspansi kekuatan militer (dalam hal alutsista)?
Semua matra TNI sedang memperkuat diri. TNI AU sudah mendapatkan 1skuadron Sukhoi Su27/30 beserta rudal canggihnya dan sangat terbuka kembali melakukan pesanan untuk 1 skuadron berikutnya dari seri Sukhoi SU35 yang lebih modern. TNI AU juga menantikan kedatangan jet tempur F16 sebanyak 24 unit dari AS dan 16 unit T50 Golden Eagle dari Korsel. Satuan-satuan radar modern memperkuat kawasan timur Indonesia sehingga tidak ada lagi yang blank spot. TNI AL sedang menantikan 3 kapal selam Changbogo dari Korsel dan mendapat tawaran 10 kapal selam kelas Kilo bekas dari Rusia. Marinir diperkuat dengan lebih dari 50 tank amfibi BMP3F dari Rusia, 12 artileri roket RM Grad.
Indonesia sedang menunggu kedatangan 3 fregat ex Brunai dari Inggris, sudah memesan 2 fregat Sigma dari Damen Schelde Belanda yang dikenal dengan PKR 10514. Kapal Cepat Rudal ukuran 40 meter dan 60 meter buatan dalam negeri sudah dan sedang dalam proses pembuatan. Sementara 3 LST buatan dalam negeri untuk kapal angkut Tank Leopard sedang dalam pengerjaan. TNI AD sudah pesan 103 MBT Leopard 2 dan 50 Tank Marder dari Jerman, kemudian menunggu kedatangan 36 unit MLRS Astross II Mk6 dari Brazil bersama 38 artileri Caesar Nexter dari Perancis. 300 panser Anoa buatan dalam negeri sudah memperkuat batalyon TNI AD.
Akankah trend ini akan berubah setelah pemilu? Factor2 apa saja yang mempengaruhi?
Program modernisasi TNI ini dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force). Untuk MEF tahap I tahun 2010 sd 2014 sudah jelas arahnya dengan anggaran sebesar US $15 milyar. Untuk MEF tahap II tahun 2015 sd 2019 sudah berganti pemerintahan. Tetapi hampir semua kalangan berpendapat bahwa MEF tahap II akan berjalan lebih intensif lagi dengan prediksi pagu anggaran minimal US $20 milyar. Yang menggembirakan ketika kita bicara modernisasi TNI semua komponen bangsa ini, Pemerintah, Parlemen dan mayoritas rakyat Indonesia mendukung program ini. Ini yang membuat kita optimis bahwa MEF II akan berlanjut lebih baik lagi.
Negara mana saja yang menerima pesanan paling banyak untuk peralatan perang TNI?
Indonesia menerapkan program alutsista dengan memesan produk yang belum bisa dibuat di dalam negeri dengan berbagai negara. Dengan AS misalnya pengadaan upgrade 24 F16, pembelian 8 Apache, pembelian rudal anti tank Javelin, pembelian 40 heli Bell412Ep dan lain-lain. Dengan Rusia 16 Sukhoi, simulator Sukhoi, BMP3F. Dengan Korea Selatan 3 kapal selam, 22 panser tarantula, 16 jet latih tempur Golden Eagle. Dengan Jerman 103 MBT Leopard, 50 Marder dan 18 pesawat latih Grobb. Brazil mendapat order 16 pesawat Super Tucano dan MLRS Astross II. Perancis mendapat pesanan artileri Caesar Nexter. Belanda 2 PKR 10514 Sigma. Dengan Australia pesan 9 Hercules bekas. Juga dengan Spanyol pesan 9 pesawat angkut sedang CN295. Jadi semua negara sahabat mendapat pesanan bervariasi.
Menteri pertahanan Belanda akan melakukan lawatan ke Indonesia minggu ini untuk mengadakan pembicaraan dengan menhan RI dan TNI.
Menurut Anda, apa saja yang akan mereka bicarakan?
Kunjungan Menhan Belanda tentu untuk memperkuat kerjasama pertahanan. Anggaran belanja militer RI yang besar sesungguhnya menarik banyak negara untuk merapat ke RI. Ada kemungkinan Menhan Belanda menawarkan kembali 80 Leopardnya yang dulu ditawarkan ke Indonesia tetapi karena terlalu banyak persyaratan HAM, Indonesia beralih ke Jerman bahkan mendapat jumlah yang lebih banyak. Tetapi yang lebih penting mestinya Belanda lebih membuka mata hatinya untuk Indonesia misalnya dengan membagi teknologi militer untuk negeri bekas jajahannya. Misalnya teknologi kapal perang PKR10514.
Jika saja Belanda lebih memahami cara mengambil hati Indonesia, kita yakin Belanda akan mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. Dan kalau itu sudah didapat maka order bisnis apapun akan berjalan lancar dan jelas. Kekuatan ekonomi Indonesia saat ini no.16 di dunia, pertumbuhan ekonomi rata-rata 6%,pendapatan perkapita US $4.000,- dengan jumlah penduduk 240 juta. Dengan anggaran militer masih sekitar 0,8%-1% dari PDB saat ini sudah sedemikian menariknya, apalagi jika menyentuh 2,5%-3% dari PDB. Dan itu sangat mungkin.
Salam Hormat,
Sarah Sayekti
Melle Garschagen
NRC Handelsblad
Sumber : Analisisalutsista
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Populer
-
Di awal tahun, mari kita buka dengan kabar mengenai PKR10514. Seperti kita ketahui, poyek PKR ini merupakan salah satu proyek prestisius PT....
-
Seperti kata pepatah “tidak kenal maka tidak sayang”, setelah jilid 1 dan jilid 2 saya menceritakan beberapa kisah-kisah yang pernah terjadi...
-
NKRI sudah dikepung rapat oleh neokolim yang hampir sekarat ini: Darwin Australia, Cocos Island, Diego Garcia, Guam, Filipina sampai Singapu...
-
Vietnam baru saja kehilangan salah satu pahlawan perangnya, Jenderal Vo Nguyen Giap. Ratusan ribu orang mengantar kepergian Vo Nguyen Giap, ...
-
by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 13 May 2014 Mengintai Jendela Tetangga: LAGA RAFALE TNI AU vs RAFALE TUDM Sejatinya, hari ini adalah...
-
Sekolah Penerbang Lanud Adisucipto tengah menunggu 18 pesawat baru G-120 TP Grob dari Jerman. Kehadiran pesawat ini diharapkan dapat meningk...
-
Beberapa negara sudah memulai proyek penelitian untuk memungkinkan umat manusia menghuni planet tersebut. Selasa sore kemarin, India sudah m...
-
Indonesia Membutuhkan radar canggih, penempatan persenjataan jarak menengah dan jauh serta profesionlisme prjurit yang handal Anggota Kom...
-
Kisah ini sengaja saya tulis berdasarkan catatan-catatan tertulis yang saya punya dan juga cerita-cerita dari para “Silent Warrior” pinisepu...
-
Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John F...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar