Cari Artikel di Blog Ini

Senin, 08 Oktober 2012

Kemhan Akan Bahas RUU tentang Disiplin Militer dan RUU Rahasia Negara

Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengisyaratkan menunda pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Keamanan Nasional (Kamnas) untuk mendahulukan pembahasan RUU tentang Disiplin Militer dan RUU tentang Rahasia Negara yang dianggap lebih prioritas.

 

"Memang belum diputuskan, tapi kami memprioritaskan pembahasan kedua RUU itu," kata Kepala Pusat Penerangan dan Komunikasi Publik Kemhan, Mayjen Hartind Asrin, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (7/10). Bahkan, lanjutnya, pemerintah sudah menyerahkan kedua draf RUU tersebut pada Senin lalu.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan bahwa kedua RUU itu penting untuk segera diselesaikan. "Kami memprioritaskan kedua RUU itu karena sudah ada UU tentang Keterbukaan Informasi Publik. Nantinya, UU Keterbukaan Informasi Publik akan dijabarkan lebih lanjut mengenai RUU tentang Rahasia Negara, dan ini sangat menyangkut tugas TNI," jelas Purnomo.

Tanpa ada peraturan mengenai rahasia negara, tambah dia, pemerintah akan kesulitan untuk memilah mana yang harus dikategorikan rahasia negara, dan mana yang berhak dibuka ke publik. "Karena ada sejumlah informasi yang harus dirahasiakan agar tak membahayakan kepentingan negara," kata dia.

KASAL Inspeksi Kesiapan Jelang Latihan Perang Armada Jaya

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno memimpin gelar pasukan untuk kesiapan latihan perang Armada Jaya XXXI/12 di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Senin (8/10/2012). TNI Angkatan Laut melaksanakan latihan perang secara besar-besaran, yaitu Armada Jaya XXXI/2012 pada tanggal 25 September s.d. 22 Oktober 2012, di perairan Indonesia Kawasan Timur, mulai dari Laut Jawa hingga puncaknya dilaksanakan operasi amfibi berupa pendaratan Pasukan Pendarat  Marinir di Sangatta, Kalimantan Timur. Seluruh kesenjataan TNI Angkatan Laut yang tergabung dalam Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yaitu kapal perang, pesawat udara, Marinir dan Pangkalan digelar pada latihan ini.

Kasal Laksamana TNI Soeparno menginspeksi kesiapan akhir prajurit dan persenjataannya dalam latihan perang Armada Jaya XXXI/12 melalui Gelar Pasukan di Koarmatim, Ujung, Surabaya, Senin (8/10). Tampak Kasal  memeriksa Kendaraan Tempur Bawah Air (KTBA) Komando Pasukan Katak TNI AL (KTBA). (Foto: Dispenal)

Tidak tanggung-tanggung, 35 kapal perang TNI Angkatan Laut dikerahkan dan 10 di antaranya akan melaksanakan uji coba penembakan peluru kendali, seperti rudal Yakhont, rudal Excocet MM 40, rudal C-802 dari Kapal Atas Air serta penembakan Torpedo SUT (Surface and Underwater Target) dari kapal selam dan juga Kapal Atas Air dengan sasaran kapal permukaan. Demikian pula kendaraan tempur dan persenjataan berat Marinir lengkap dengan logistik perangnya juga dikerahkan, antara lain Tank Amfibi PT-76, Tank AMX-10 PAC, Tank BMP-3F dan Roket Multi Laras RM-70 Grad Long akan dilaksanakan uji coba penembakan. Kesuksesan latihan ini merupakan salah satu indikator bahwa TNI AL siap mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI dari setiap ancaman di manapun dan kapanpun.  

Sebagai pengecekan akhir kesiapan latihan tersebut, diselenggarakan Gelar Pasukan Manuver Lapangan Armada Jaya XXXI/12 dengan Inspektur Upacara Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, Senin 8 Oktober 2012 di Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya. Sebelumnya telah dilaksanakan Geladi Pos Komando selama delapan hari (tanggal 25 September s.d. 2 Oktober 2012 di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Cipulir, Jakarta Selatan. Sebagai kelanjutan dari proses pentahapan latihan operasi, maka diselenggarakan upacara Gelar Pasukan dengan tujuan untuk melaksanakan pengecekan akhir akan berbagai kesiapan dan kebutuhan operasi, baik material, personel maupun dukungan logistik. Pada kesempatan tersebut, Kasal Laksamana TNI Soeparno juga melaksanakan Pre-Exercise Briefing. Pada kesempatan ini, hadir para pejabat teras Mabes TNI AL dan para Pemimpin Kotama TNI Angkatan Laut.

Pengembangan Industri Pertahanan Disesuaikan Dengan Geopolitik Nasional

Indonesia harus memfokuskan diri pada pengembangan industri pertahanan sesuai geopolitik yang ada. Jika hal itu dilakukan, diyakini industri strategis akan mapan dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan. Bahkan diprediksi, Indonesia dalam 50 tahun ke depan dapat kembali seperti Kerajaan Sriwijaya di masa lalu yang memiliki armada laut terkuat di Asia.

Geopolitik Indonesia


“Pengembangan industri alusista (alat utama sistem persenjataan), harus disesuaikan dengan kondisi geopolitik sebagai negara kepulauan. Jadi fokusnya seperti membuat kapal patroli cepat, kapal perang siluman. Dan jika sumberdaya manusianya cukup memadai, sekalian membuat kapal selam. Itu kalau berani visioner,” cetus pengamat pertahanan dari Universitas Indonesia, Aditya Batara, di Jakarta, Minggu (7/10).

Menurutnya, langkah ini sangat diperlukan. Pasalnya, hampir semua negara-negara maju juga menempatkan spesialisasi alutsista tertentu untuk dikembangkan. Terlebih lagi,  tidak pernah ada satu negara pun yang mampu memroduksi berbagai alutsista dengan kualitas mumpuni yang merata.

TNI AL Akan Bangun Pangkalan Pesisir Pantai Selatan Jawa Barat

TNI Angkatan Laut (AL) berencana membangun pangkalan laut skala B di kawasan pesisir Pantai Selatan Jawa Barat.

Komandan Lanal Bandung Kolonel Laut (P) Iswan Sutiswan mengatakan kehadiran pangkalan laut di wilayah selatan sudah sangat mendesak terkait banyaknya persoalan di perairan tersebut.


KRI Kujang 642
Patroli Laut KRI Kujang 642

“Pembangunan belum akan dimulai. Saat ini baru dicari tempat-tempat strategis di daerah tersebut,” kata Iswan di Bandung.

Pangkalan laut itu sendiri kemungkinan akan berstandar pada type B yang nantinya akan didukung oleh dermaga dan tempat perawatan alutsita TNI AL. Pembangunan pangkalan menurutnya direncanakan akan dilakukan secara bertahap dari type C ke B.

“Tidak menutup kemungkinan menjadi type A. nanti yang memimpin setingkat kolonel,” katanya.

Dengan pangkalan type tersebut menurut Iswan, di masa mendatang kerawanan wilayah laut selatan Jabar bisa ditakar TNI AL. “[Selatan Jabar] Ke depan kayak apa? Sekarang selatan tidak terpantau, ke depan bakal rawan seluruhnya. Kita jangan berpikir sekarang ini, tapi 10-20 tahun akan makin rawan perairan di sana,” katanya.

Minggu, 07 Oktober 2012

Kekurangan dan Kelebihan Produk Alutsista Dalam Negeri

TNI Angkatan Darat akan memaksimalkan pengadaan alat utama sistem pertahanan produksi lokal. "Tak ada presentase khusus berapa persen. Sebesar-besarnya (alutsista lokal) yang ada akan kami pakai," kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kamis, 4 Oktober 2012.



Edhie mengatakan TNI AD wajib menggunakan piranti utama militer yang sudah mampu diproduksi lokal. "Ada keunggulan tersendiri, antara lain mudah diperbaiki," ujar dia. Alutsista lokal, kata Edhie, mudah dicari suku cadangnya. "Bandingkan dengan barang produksi luar negeri yang harus kita pelajari dulu proses operasi ataupun perbaikan."

Dia mencontohkan panser Anoa buatan Pindad yang mudah diperbaiki pasukan. "Softbreaker rusak bisa segera diperbaiki sendiri. Tidak repot," kata dia.

Namun Edhie mengakui adanya sejumlah kelemahan industri dalam negeri. "Untuk teknologi, masih banyak yang belum kita kuasai," ujar adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Alutsista dari luar negeri, kata Edhie, akan diambil selama sesuai kebutuhan TNI AD. "Namun tak menggerus keuangan negara karena kami membuka skema government to government."

Alutsista TNI AD Dalam Tahap Modernisasi

Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara sudah menjadi komitmen bersama pemerintah dan DPR.

Bahkan, realisasi untuk tujuan itu pun sudah ada dengan menaikkan anggaran pertahanan hingga lebih 77 triliun rupiah. Khusus di lingkungan TNI AD, modernisasi alutsista sudah direncanakan. Bahkan dalam waktu dekat ini, TNI AD berencana memesan alutsista dari negara Eropa, di antaranya Jerman dan Prancis.


MLRS Astors II TNI-AD
MLRS Astors II TNI-AD (foto : arc.web.id)

Beberapa alutsista yang terbaru itu, di antaranya multiple launcher rocket system (MLRS) Astros II dan meriam 155 mm Caesar, juga alat-alat lainnya, diperlihatkan dalam pameran alutsista TNI di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (6/10). Penegasan tersebut dikemukakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo, di sela-sela pameran.

Dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, itu pengunjung yang berasal dari kalangan masyarakat umum diperbolehkan melihat dari dekat, berfoto, bahkan mencoba menaiki sebagian besar alutsista yang dipamerkan. Pramono mengatakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-67 TNI, khusus TNI AD ingin melaporkan diri peralatan apa saja yang digunakan dan akan digunakan dalam waktu segera oleh TNI AD. Pramono Edhie menyatakan melalui pameran ini, dia juga ingin memberikan pertanggungjawabannya selaku KSAD yang diberi amanat oleh Presiden dan rakyat untuk melakukan segala upaya dalam menjaga keutuhan bangsa.

Senjata SS2-V4 Jadi Andalan Baru Prajurit Kostrad

Modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI terus dikembangkan. Kali ini, sejata jenis SS2-V4 menjadi kebanggaan Kostrad TNI AD. Senapan serbu ini dapat membunuh musuh dengan sekali tembakan.

SS2 -V4 Pindad
SS2 -V4 Pindad (foto : world.guns.ru)


Senapan Serbu 2 Varian 4 atau SS2-V4 bakal menjadi senjata andalan Kostrad. Yang berkesempatan pertamakali memanggul senjata seberat 3,1 Kg ini adalah Yonif Linud 503 Kostrad TNI AD. Senjata ini dapat digunakan di segala medan.

Dibandingkan dengan senapan generasi sebelumnya, SS1-V4, yang jarak tembaknya hanya 400 meter, beberapa kelebihannya SS2-V4 adalah, bisa menembak sasaran maksimum 500 meter masih sangat akurat.

Selain itu, para prajurit Kostrad bisa menembak sasaran dengan tepat karena senjata pabrikan PT Pindad ini menggunakan teleskop. Jika automatic diaktifkan, 15 detik bisa memuntahkan 30 butir peluru dalam magazine ke arah sasaran.

Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters