Cari Artikel di Blog Ini

Jumat, 02 Januari 2015

Pilot AirAsia Berhasil Mendarat Darurat di Laut?

Berbagai teori diperdebatkan terkait tragedi penerbangan QZ8501 AirAsia. Diantaranya dugaan bahwa pilot berhasil mendaratkan pesawat di permukaan laut, sebelum tenggelam akibat gelombang besar dalam situasi badai.

Tangga darurat AirAsia yang ditemukan (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
Tangga darurat AirAsia yang ditemukan (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

Dugaan itu muncul terkait dengan tidak aktifnya sinyal darurat dari kotak hitam pesawat, yang mengindikasikan bahwa pesawat mungkin berhasil melakukan pendaratan darurat. Demikian pendapat pakar penerbangan yang dikutip Daily Mail, Kamis, 1 Januari 2015.

"ELT (emergency locater transmitter) akan bekerja saat terjadi benturan, apakah itu di darat, laut atau gunung. Analisa saya itu tidak bekerja, karena tidak ada benturan keras saat pendaratan," kata Dudi Sudibyo, editor senior majalah penerbangan Angkasa.


Dia menambahkan, kapten pilot Iriyanto mungkin berhasil mendaratkan pesawat Airbus 320 dengan baik di permukaan laut, saat pesawat berhadapan dengan badai besar, dan menara kontrol tidak mengizinkan pesawat menambah ketinggian.

Sementara pakar penerbangan lain mengklaim pesawat menambah ketinggian dengan sangat cepat, lalu jatuh menukik ke laut. Namun kesimpulan dari berbagai teori berbeda, adalah pesawat terperangkap dalam cuaca yang sangat ekstrim.

Hal itu mempersulit pilot untuk melakukan sesuatu, untuk menyelamatkan pesawat dan 162 orang di dalamnya. Merujuk pada bocoran dari tim penyelidik, analis penerbangan Gerry Soejatman mengatakan gerak pesawat berbatasan dengan tepi logika.

Menurut Soejatman, pesawat menambah ketinggian terbang dengan kecepatan yang hampir mustahil dicapai, lalu jatuh menukik seperti sepotong benda metal yang dilempar ke bawah. "Itu sangat sulit dipahami," katanya.

Namun pendapat sebaliknya disampaikan pakar penerbangan Australia Peter Marosszeky dari Universitas NSW. Dia justru mengatakan pesawat terbang dengan kecepatan sangat rendah, yang menjelaskan mengapa pesawat ditemukan hanya 10 kilometer dari kontak radar terakhir.

Sementara Dudi tidak setuju dengan teori para pakar. Dia mengklaim bahwa pilot berhasil mendarat darurat, yang menjadi penjelasan atas kenyataan tidak aktifnya sinyal darurat dari kotak hitam. Pembahasan juga terjadi di forum-forum internet.

Jika para pakar berspekulasi pada teori tentang penyebab jatuhnya pesawat, beberapa netizen mengkritisi keputusan ATC yang melarang pesawat AirAsia menambah ketinggian demi menghindari badai, karena adanya pesawat lain.

Seorang netizen di media sosial, berpendapat bahwa ATC semestinya memprioritaskan pesawat AirAsia yang berada dalam situasi berbahaya, dan meminta pesawat lain berpindah jalur, untuk memberi ruang bagi QZ8501. (VivaNews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters