Cari Artikel di Blog Ini

Senin, 15 Desember 2014

Produksi Pesawat dan Kapal Selam Ditarget 2024

Kementerian Pertahanan menargetkan 10 tahun ke depan 95 persen alat utama sistem persenjataan diproduksi di dalam negeri. Produksi dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan perusahaan swasta. "Harus mandiri," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat berkunjung ke produsen rudal PT Sari Bahari di Malang, Jumat, 12 Desember 2014.

Produksi Pesawat dan Kapal Selam Ditarget 2024
Direktur PT. Sari Bahari, Ricki Hendrik Egam (Kiri) menjelaskan tentang proses pembuatan bom pada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (tengah) dan Irjen Kemhan RI Ismono Wijayanto (kanan) saat meninjau proses pembuatan bomb P100 dan P100 L di PT. Sari Bahari di kawasan Lanud Abd. Saleh, Malang, Jawa Timur, 12 Desember 2014. TEMPO/Aris Novia Hidayat

Pemerintah, kata dia, mendukung penuh industri alat pertahanan dalam negeri. Tujuannya agar mandiri dalam pengadaan alutsista. Saat ini, pembuatan sejumlah alutsista masih bekerjasama dengan negara asing. "Lambat laun harus mandiri. 10 tahun lagi Indonesia memproduksi kapal selam dan pesawat tempur secara mandiri," katanya.

Indonesia masih bekerjasama dengan Korea Selatan memproduksi 50 pesawat tempur modern KFX/IFX. Kemampuan pesawat tempur berteknologi generasi 4,5 itu diklaim lebih baik dibanding F-16 dan Sukhoi yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Produksi dilakukan PT Dirgantara Indonesia dengan Republic of Korea Air Force. Adapun pembuatan kapal selam dilakukan oleh PT PAL dengan menggandeng Daewoo Shipbuilding Marine Engineering.


Direktur Utama PT Sari Bahari Ricky Hendrik Egam mengatakan tengah menjalin kerjasama alih teknologi produksi fuse dengan produsen asal Bulgaria, Armaco. Alih teknologi dilakukan setelah PT Sari Bahari memesan 1.500 buah fuse. "Fuse bisa dipicu secara elektronik maupun manual," katanya.

Tujuan alih teknologi, ujar Ricky, untuk mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah komponen yang belum bisa diproduksi di Indonesia. PT Sari Bahari merupakan satu-satunya produsen rudal swasta yang memproduksi bom untuk pesawat tempur Sukhoi milik Indonesia. Bom P-100 produksi PT Sari Bahari telah dicangkokkan ke Sukhoi dengan hulu ledak sejauh 164 meter. Kandungan lokal bahan baku dalam negeri mencapai 92 persen.

PT Sari Bahari juga memproduksi roket jenis Fin Folding Aerial Rocket dengan hulu ledak sesuai standar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Produksi Fin Folding bekerjasama dengan PT Dahana, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pembuatan bahan peledak. "Di sini memproduksi selongsong, pengisian bahan peledaknya oleh PT Dahana di Subang Jawa Barat," ujarnya.

PT Sari Bahari juga telah mengekspor 260 kepala roket latih (smoke warhead) kaliber 70 milimeter ke Republik Chile. Pabrikan roket swasta asal Malang ini merupakan ekspor perdana. Sebelumnya, seluruh produk roket dipasok untuk memenuhi kebutuhan Tentara Republik Indonesia.  (Tempo)

4 komentar:

  1. mef nya dari tahun 2010 tapi sampai sekarang belum liris ya kapal selam dan kfx/ifx nya, semoga akhir tahun 2015 sudah liris semua nya

    BalasHapus
  2. Tong penelitian itu lama emg lu kira bikin hape, F-22 Raptor itu litbang sejak tahun 1995

    BalasHapus
  3. ketauan jarang baca berita itu org

    BalasHapus
  4. wah nt mah nda tahu kyak nya ini krisis kembali indonesia, rupiah anjlog, bbm bisa naik kembali, saham banyak di jual, pembelanjaan nihil, gawat ndah jaman tahun kemarin keker, kuat dan raksasa semoga indonesia tetap kaya dan raksasa segala nya di seluruh dunia dengan sdm anak bangsa yang mampuni

    BalasHapus

Berita Strategi Militer Terbaru


Lazada Indonesia

Berita Populer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters